Bagaimana Kim Jong-un Bisa Bikin Pesawat tak Berawak alias Drone?
Seoul, REQNews.com -- Korea Selatan (Korsel) baru-baru ini dikejutkan provokasi lima drone Korea Utara (Korut), yang salah satunya dikabarkan terbang ke Yongsan, lokasi kepresidenan Korsel. Tidak satu pun drone Korut ditembak jatuh.
Bagaimana negeri yang dipimpin Kim Jong-un itu bisa membut drone?
Situs defencetalk.com menulis Korut butuh 25 tahun mengembangkan drone canggih, yang diyakini mampu melakukan serangan udara dan infiltrasi. Itu dibuktikan dengan lima drone yang masuk ke wilayah udara Korsel dan tak bisa ditembak.
Provokasi drone Korut ini menimbulkan keraguan akan kemampuan Korsel mempertahankan wilayah udaranya. Menhan Korsel Lee Jong-sup menyadari kelemahan itu dan segera minta maaf di depan Majelis Nasional.
Korsel juga segera menyusun rencana melatin tentaranya menembak drone. Menhan Lee yakin Korut akan melakukannya lagi di masa depan, karena Kim Jong-un disebut-sebut memiliki 300 drone saat ini.
Dari jumlah itu, beberapa drone mampu melakukan serangan bunuh diri dan pengintaian. Korut diyakini punya perangkat intelejen dengan target artileri dan melenyapkan target bernilai tinggi yang dimiliki Korsel.
Berawal Dari Sini
Peneliti militer Joseph Bermudez mengatakan Korut memperoleh pesawat tak berawak (UAV) kali pertama dari Cina tahun 1988 dan 1990. Korut mengembangkannya ketika Kementerian Pertahanan Korsel mengumumkan akan membangun armada UAV.
Akhir 1993 Korut mulai memproduksi analog UAV Xian ASN-104 Cina dan memberinya nama Panghyon. Model selanjutnya, dibuat berdasarkan ASN-105 yang lebih canggih, diberi nama Panghyon-2.
Tahun 1994 Korut memperoleh akses UAV pengintai militer Suriah Tu-143 Reys, yang diterbangkan mesin turbojet. Pyongyang diduga mempersenjatai drone itu, membuatnya mampu membawa senjata nuklir atau biologis.
Pada tahun yang sama Korut membeli 10 varian ekspor drone Pchela-1T dari Kulon Scientific Research Institute rusia. Pchela-1T kemungkinan diekspor sebagai varian dasar Shmel-1, yang sebelumnya dikembangkan Biro Desain Yakovlev, memiliki kontrol televisi tapi tidak mampu terbang malam hari.
Korut juga berminat membeli lebih banyak drone Pchela selama kunjungan Kim Jong-il ke Rusia tahun 2001. Tahun yang sama, institut itu mengembangkan Pchela-1 IK yang memiliki kendali inframereah dan mampu terbang malam.
Penerapan Aktif
Tahun 2005 intelejen Korsel memperoleh informasi rencana rinci tindakan Korut jika Perang Korea Part II meletus. Informasi itu menyebutkan Korut akan mengarahkan militernya dari bunker bawah tanah, dan mendasarkan keputusan setelah memperoleh informasi dari satelit mata-mata dan UAV.
Korsel skeptis Pyongyang mampu melakukan rencananya, tapi mengakui Korut sedang mengerjakan kesiapan perang itu dengan membangun UAV lebih dari cukup.
Tahun 2010 Korsel kali pertama mengetahui Korut mengoperasikan UAV ketika mendeteksi benda terbang tak dikenal di perbatasan Laut Kuning. UAV Korut diduga sedang mengevaluasi latihan artileri Korut dan memantai reaksi Korsel yang berada di dekatnya. Korsel saat itu yakin drone itu adalah Tu-143, atau turunannya.
Februari 2012, sebuah sumber militer mengatakan kepada kantor berita Yonhap News bahwa Korut sedang mengembangkan pesawat tak berawak berdasarkan MQM-107 Streaker buatan AS yang dibeli dari Timur Tengah.
Sebulan kemudian Korut memperlihatkan drone itu selma parade militer. Setahun kemudian, dalam gambar di televisi Korut, drone itu digunakan dalam latihan militer.
Gambar lain menunjukan tiga drone lepas landas, dengan beberapa meledak di udara karena dirancang untuk menghancurkan target di udara. Drone lainnya menyerang target di lereng gunung.
Perang Modern
April 2014, ketiga tiga mini UAV Korut ditemukan, Korsel membunyikan lonceng peringatan. UAV itu diprogram dengan koordinat GPS untuk mengambil foto instalasi strategis di Korsel, termasuk kantor kepresidenan di Seoul. UAV itu kemungkinan jatuh akibat kehabisan bahan bakar.
Hasil pemeriksaan menunjukan drone mini Korsel itu hasil modifikasi Sky-9 dan UV-10 buatan Cina, yang penggunaan sebelumnya tidak diketahui intelejen Korsel.
Belakangan ditemukan drone itu sebelumnya terlihat dalam foto-foto Kim Jong-un saat mengunjungi pangkalan AU pada Maret 2013. Temuan itu membuat pejabat Korsel berasumsi bahwa Korut melakukan beberapa penerbangan drone sukses, alias tanpa diketahui.
Korsel mengerahkan sistem radar untuk mendeteksi drone yang terbang rendah, yang diyakini beroperasi pada akhir 2015. Namun, Korsel gagal mencegat drone Korut dua kali. Sebab, UAV Korut terdeteksi terbang di atas zona demarkasi militer (DMZ) antara 22 Agustus dam 24 Agustus 2015.
Pada 13 Januari, Korsel lebih efektif menghalangi drone. Pasukan Korsel saat itu melepas tembakan peringatan dengan senjata kecil, sementara sistem audio membunyikan peringatan ke sisi lain DMZ, yang membuat drone mundur dan kembali ke wilayah Korut.
Namun, sistem seperti itu bukan jaminan karena membutuhkan konsentrasi pasukan yang signifikan di setiap bagian DMZ. Aspek lain program drone Korut adalah lokasi peluncuran dan penghindaran radar belum diketahui.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.