Kasus George Floyd dan Penegakan Hukum Indonesia

Selasa, 09 Juni 2020 – 17:31 WIB

Kasus George Floyd dan Penegakan Hukum Indonesia

Kasus George Floyd dan Penegakan Hukum Indonesia

JAKARTA, REQnews - George Floyd pasti tak pernah menyangka bahwa dirinya mampu menggerakkan manusia di hampir seluruh belahan dunia untuk bergerak menyuarakan antirasisme yang kemudian berdampak luar biasa.

Sebagaimana diketahui, George Floyd (48) tewas di bawah lutut seorang anggota kepolisian Minneapolis bernama Derek Chauvin (44) pada 25 Mei lalu.

Diketahui Chauvin kini telah dipecat dari korps kepolisian Minneapolis dan sedang dipersiapkan untuk menghadapi sidang pengadilan. Namun masalahnya tak berhenti disitu saja. Isu antirasisme kemudian terbukti mampu menggoyahkan tatanan penegakan hukum di Minneapolis. Baru - baru ini media AFP melansir bahwa Presiden Dewan Kota Minneapolis menggulirkan wacana untuk 'membubarkan korps kepolisian dan menciptakan ulang sistem yang benar-benar menjaga masyarakat tetap aman'. Sistem kepolisian yang selama ini berlaku dianggap tidak memberikan keamanan bagi masyarakat Minneapolis.

Tentu kita tidak ingin mencampuri wacana tersebut, namun tak ada salahnya kita belajar dari rencana pembubaran korps kepolisian karena dianggap tidak mampu memberikan rasa aman yang diharapkan oleh masyarakat.

Sungguh mencengangkan bahwa gerakan yang menyuarakan antirasisme berdampak pada dibubarkannya salah satu institusi penegak hukum. Harus diakui bahwa ‘people’s power’ mampu mengubah tatanan penegakan hukum suatu negara.

Mungkin inilah saatnya para penegak hukum terutama di Indonesia semakin mawas diri dan senantiasa mengedepankan azas praduga tak bersalah. Memberikan pelayanan penegakan hukum dengan tulus kepada masyarakat tanpa pandang bulu serta menghilangkan berbagai praktek transaksional. Sudah waktunya para institusi penegak hukum menjauhi narsisme para tokoh, dimana para pemimpin biasa memuji dirinya sendiri bahwa mereka berhasil dalam melaksanakan penegakan hukum dalam sejumlah kasus, namun dibalik itu masyarakat sama sekali tidak merasakan keberhasilannya.

Disamping itu ada hal yang sangat penting untuk diperhatikan dari kasus ini, yaitu proses rekrutmen. Pasti tak pernah terbersit sebelumnya oleh para pihak yang melakukan perekrutan Derek Chauvin bahwa ternyata orang ini telah mampu menghancurkan nama baik dan kinerja polisi di Minneapolis bahkan menghancurkan institusinya!

Menurut Henry Simamora (1997:212) dalam buku koleksi digital Universitas Kristen Petra menyatakan bahwa ‘Rekrutmen adalah serangkaian aktivitas mencari dan memikat pelamar kerja dengan motivasi, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang diperlukan guna menutupi kekurangan yang diidentifikasi dalam perencanaan kepegawaian.’
Definisi diatas secara jelas menyatakan bahwa calon pegawai yang dibutuhkan haruslah yang memiliki motivasi, kemampuan, keahlian dan pengetahuan. Tujuannya adalah untuk memperkuat kinerja organisasi dan bukan menghancurkannya.

Apa yang dialami oleh seorang George Floyd bisa saja terjadi di Indonesia, bisa saja bukan di institusi kepolisian melainkan di institusi kejaksaan atau yang lainnya. Sesuatu yang kemudian mampu menggerakkan ‘people’s power’ untuk membubarkan institusi tersebut.

Di era ini semua orang bebas berpikir dan bersuara, sesuatu yang awalnya dirasakan tidak mungkin bisa saja terjadi. (RET)