Kejaksaan Agung Kini Tak Agung Lagi, Apakah Ini Skenario Yang Maha Esa?

Senin, 24 Agustus 2020 – 10:42 WIB

Kejaksaan Agung Kini Tak Agung Lagi, Apa Ini Skenario Yang Maha Esa?

Kejaksaan Agung Kini Tak Agung Lagi, Apa Ini Skenario Yang Maha Esa?

JAKARTA, REQnews - Kejaksaan Agung kini tak 'Agung' lagi. Musibah kebakaran Gedung Utama Kejagung yang terjadi pada Sabtu 22 Agustus 2020 bisa dikatakan sebagai skenario dari Yang Maha Kuasa, Kun Fayakun!.

Percaya gak percaya sih, tapi tulisan besar Kejaksaan Agung di bangkai Gedung Utama tersebut, kini hanya tersisa 'Kejaksaan' saja. Apakah ini cuma kebetulan atau cocoklogi semata? Ya Wallahu A'lam Bishawab.

Hmm, tapi rasanya kalau dicocoklogikan bener juga sih. Kenapa bisa dikatakan demikian, hampir dalam waktu tiga bulan terakhir ini, Jaksa Agung ST Burhanuddin dan segenap jajarannya seperti 'dikeramasin' dengan banyak cobaan, bahkan bisa dibuat galau. Kegalauannya pun mengalahkan galaunya ditinggal gebetan.

Cobaan yang diberi Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk kasus Djoko Tjandra. Yang secara tidak langsung membongkar pelan-pelan kelakuan oknum jaksa yang berani bermain-main kasus dengan mengatasnamakan institusi dan jabatan yang diamanahkan undang-undang. Iyuhhh bikin malu!

Kasus ini pun melilit Jaksa Pinangki Sirna Malasari. Ini baru kasus pusat genks. Tuhan kembali menunjukkan tabiat dan kerakusan oknum jaksa lewat pengungkapan kasus pemerasan sejumlah kepala sekolah di Indragiri Hulu. Halo pak Jaksa, gaji guru itu gak seperti pengusaha atau bos-bos BUMN lho, kok masih diperas juga sih.

Pastinya, tersangka dalam kasus pemerasan tersebut menjerat mantan Kajari Indragiri Hulu Hayin Suhikto dan kawan-kawan. Maka tak salah jika ada perumpamaan, 'Kalaupun Batu Bisa Diperas, Mungkin Bisa Diperas Juga'. Semoga perumpamaan ini tidak benar ya pak Jaksa Agung.

Namun untuk kasus yang terakhir, yakni Hayin dkk, mungkin tak seheboh kasus Jaksa Pinangki. Menurut sumber REQnews, jika Pinangki buka suara alias mencuitkan duduk perkara kasus proyek fatwa MA Djoko Tjandra, bisa-bisa satu generasi di Kejagung bisa habis masuk penjara.

Bukan tanpa alasan, beredar informasi bahwa tim pemeriksa di Kejagung mengaku menerima pengakuan bahwa Pinangki diduga kerap memberitahu Jaksa Agung ST Burhanuddin soal pertemuannya dengan Djoko Tjandra, bahwa sempat video call, katanya. Namun cerita itu buru-buru dibantah oleh Burhanuddin.

Pertanyaan yang membuat masyarakat bingung adalah Pinangki tercatat tiga kali ke Malaysia pada November 2019. Yakni tanggal 10,19 dan 25 November. Mungkin Kepala Biro Perencanaan pada Jaksa Agung Muda Pembinaan, sebelum Reda Manthovani bisa diperiksa terkait pengawasan melekat, dan lalai menjaga 'anaknya' kabur dari rumah (kejagung, red).

Itu baru kasus Pinangki, belum kasus lainnya seperti Jiwasraya, Danareksa, uang barang bukti Djoko Tjandra dan lain sebagainya. Namun terlepas dari kejadian/musibah yang menimpa secara beruntun ini, rasanya para pimpinan Kejaksaan mulai harus mawas diri dan menghilangkan rasa sombongnya.

Jika dikatakan bahwa tahun 2020 adalah tahun sial buat Kejaksaan, ya mau gak mau para pimpinan kejaksaan yang terhormat bisa cari alternatif lain ritual buang sial mungkin. Seperti mandi kembang..kidding pak.

Namun musibah ini bisa diambil hikmahnya bahwa sejatinya Tuhan sedang mendidik para adhyaksa untuk melembutkan hati. Dan kembali menjadi abdi negara yang amanah mengemban tugasnya sebagai penjaga undang-undang, setidaknya terlihat dari terbakarnya gedung kebanggaan para adhyaksa seluruh Indonesia. Karena Kejaksaan kini sdh tidak ‘Agung’ lagi...