Garudaku Tetaplah Terbang Tinggi

Selasa, 07 Desember 2021 – 12:35 WIB

Garuda Indonesia (Foto: Istimewa)

Garuda Indonesia (Foto: Istimewa)

Jakarta, REQnews - Sebenarnya berita keterpurukan maskapai berpelat merah Garuda Indonesia sudah bukan sesuatu yang baru. Namun gempuran yang dialami Garuda Indonesia kali ini sangatlah berat.

Memang di tengah pandemi ini seluruh maskapai penerbangan di seluruh dunia ditengarai mengalami kesulitan bahkan tidak sedikit yang tak bertahan.

Masalah keuangan yang dialami Garuda sebelum pandemi sudah pada tingkat serius, jadi pandemi ini hanya membuatnya semakin buruk saja.

Puncaknya, saham PT. Garuda International Tbk (GIAA) dihentikan akitivitas perdagangannya di Bursa Efek Indonesia sejak bulan Juni 2021 lalu.

Mengutip keterbukaan informasi, penyebab keputusan suspensi kepada emiten dengan kode saham GIAA ini karena Garuda Indonesia menunda pembayaran jumlah pembagian berkala sukuk senilai 500 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 7,2 triliun.

Pihak BEI menjelaskan bahwa Garuda Indonesia telah menunda pembayaran Jumlah Pembagian Berkala Sukuk yang telah jatuh tempo pada tanggal 3 Juni 2021 dan telah diperpanjang pembayarannya dengan menggunakan hak grace periode selama 14 hari, sehingga jatuh tempo pada tanggal 17 Juni 2021.

Beberapa analis pasar saham bahkan menyarankan agar para investor menghindari pembelian saham GIAA tersebut karena harganya diprediksi akan semakin hancur saja.

Tidak banyak yang tahu bahwa sejatinya Garuda Indonesia merupakan serpihan pecahan maskapai KLM sebagai implementasi dari hasil perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949.

Setelah menandatangani perjanjian KMB, Belanda dinyatakan wajib menyerahkan seluruh kekayaan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS), termasuk maskapai KLM II B (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij Inter-Insulair Bedrijf). KLM II B adalah anak usaha Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) milik Belanda.

Sehari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia (RI) oleh Belanda, yaitu pada 28 Desember 1949, dua pesawat Dakota (DC-3) berangkat dari bandar udara Kemayoran, Jakarta menuju Yogyakarta untuk menjemput Soekarno dibawa kembali ke Jakarta yang sekaligus menandai perpindahan kembali Ibu Kota RI ke Jakarta.

Pada 1950, Garuda Indonesia menjadi perusahaan negara dan mengoperasikan armada dengan jumlah pesawat sebanyak 38 buah yang terdiri dari 22 DC-3, 8 Catalina kapal terbang, and 8 Convair 240.

Maskapai ini pertama kali menerbangkan jemaah haji dari Indonesia di tahun 1956 disusul kemudian penerbangan ke benua Eropa dengan Amsterdam sebagai tujuan akhirnya.

Pakar Kedirgantaraan Cheppy Hakim menuliskan di salah satu media bahwa saat Bung Karno mengidamkan memiliki maskapai penerbangan sendiri, pemerintah kala itu melakukan berbagai cara. Salah satunya adalah mengumpulkan para saudagar Aceh  untuk menggalang dana pembelian pesawat.


Hal tersebut diatas menunjukkkan bahwa perjalanan panjang armada udara milik negeri ini tentu tak bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan masyarakat kita.

Kini setelah lebih dari 70 tahun maskapai Garuda Indonesia mengudara melayani kebutuhan transportasi udara masyarakat Indonesia dilengkapi dengan para kapten pilot yang handal dan pramugari yang ‘matang’ dan profesional, kita seperti merasakan apa yang orang Jawa sebut dengan ‘semedot’. 

Beberapa laman website menyebutkan bahwa semedot dalam bahasa Jawa merupakan perasaan ketika kita tidak ingin berpisah, ada perasaan tidak rela untuk berpisah dan berat melepaskan seseorang.

Membiarkan maskapai ini berjalan terseok-seok sendirian adalah perbuatan yang sangat tidak ksatria. Berjuta upaya harus segera dilakukan oleh anak negeri ini agar sang Garuda tetap terbang tinggi.

Jangan lagi kita memberikan bantuan sesaat bagai obat sakit kepala yang hanya bisa meredakan namun tidak menyembuhkan penyakitnya.

Sudah saatnya pemerintah melakukan restrukturisasi manajemen secara professional dan tidak sekedar bongkar pasang semaunya sesuai dengan azas ‘perkoncoan’ semata. Bila perlu, turunkan tim penyelamatan yang terdiri dari orang-orang handal dibidang kedirgantaraan, manajemen, pasar modal dan public relation.

Tim yang terdiri dari orang-orang kompeten dan memiliki integritas tinggi serta dapat bekerja secara sistematis dan komprehensif ini nantinya diharapkan akan menjadi ‘tukang’ yang bekerja melakukan pembenahan manajemen yang ada serta melakukan negosiasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Selanjutnya, mereka harus menyusun manajemen baru yang dipercaya dapat membawa Garuda terbang lebih tinggi lagi.

Jangan lagi ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan maskapai Garuda Indonesia untuk sekedar mendapatkan materi, karena mereka akan berhadapan dengan rakyat yang menginginkan maskapai kebanggaan bangsa ini tetap eksis.

Mari kita tunggu niat baik pemerintah untuk mewujudkan impian sebagian besar rakyatnya.