Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!
Biarkan Orangutan Tapanuli Hidup di Alam, Mari Selamatkan Habitatnya!

Inilah Kisah Demo Pekerja Mogok PT Freeport Agustus 2017

Senin, 31 Desember 2018 – 13:04 WIB

Sumber Foto Majalah REQuisitoire (REQnews)

Sumber Foto Majalah REQuisitoire (REQnews)

(Bagian Kedua)

Aksi spontanitas pekerja yang melakukan mogok kerja di lokasi Check Point (CP) 28, diikuti sekitar 2000 karyawan, termasuk anggota keluarganya. Aksi dilanjutkan di terminal bis Gorong-gorong dan terakhir di Petrosea. Aksi dimulai sekitar pukul 14.00 hingga pukul 17.00 di CP 28, sementara di Gorong gorong pada pukul 18.30 sedangkan di Petrosea pukul 20.00. Gara-gara aksi ini belasan orang mengalami luka-luka, 19 orang ditangkap dan 9 orang dituntut ke pengadilan. Tuntutan aksi antara lain mendesak manajemen PTFI agar mau berdialog dengan karyawan menyelesaikan persoalan kebijakan merumahkan karyawan.

——————————-

Serta-merta pada siang hari, 19 Agustus 2017, terdengar bunyi tembakan di jalan menuju ke arah Tembagapura. Bunyi tembakan senjata itu sekira 1 km dari lokasi CP 28. Tidak tahu apa maksud tembakan tersebut. Hingga kini masih misteri.

Aksi pada 19 Agustus itu tidak diperintahkan oleh pimpinan seperti Sudiro, Ketua Umum PUK SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia (PTFI) termasuk anggota DPRD Kabupaten Mimika yang juga Ketua Umum PC SPKEP SPSI Kabupaten Mimika, Aser Gobai. Rencana aksi muncul tiba-tiba saja di antara pekerja beberapa hari sebelumnya yang akhisnya disetujui semua pekerja termasuk Sudiro dan Aser Gobai. Aksi yang direncanakan adalah aksi damai dan tertib.

Hari sangat panas di tanggal 19 Agustus itu. Para pekerja dan keluarganya berbondong-bondong meninggalkan rumah masing-masing untuk berkumpul di CP 28 dan melakukan aksi damai. Makin lama, makin ramai. Bersamaan dengan itu aparat keamanan, gabungan Polres Mimika, Brimob dan TNI telah siaga di tempat. Di sana-sini tampak sejumlah intel yang berbaur dengan pendemo. Tidak main-main, ratusan aparat keamanan itu telah siap dengan perlengkapan seperti mobil barakuda, mobil watercanon, tameng rotan dan mobil gas air mata.

Waktu pun menunjukkan pukul 15.00. Tibalah saatnya para peserta aksi untuk melakukan shalat ashar dan dzikir di lokasi CP 28. Para pekerja yang beragama Kristen dan Katolik juga ikut berdoa. Lokasinya juga tak berjauhan. Aksi doa ini merupakan bagian dari aksi damai. Pada saat sedang dzikir tiba-tiba pasukan gabungan Polri dan TNI datang lalu meminta para pekerja yang sedang berdoa untuk membubarkan diri. Tak sabar menunggu, pasukan keamanan langsung menyerang. Sejumlah jemaat dipukul. Imam sholat bahkan ditendang. Karena tak bergeming, para pekerja itu disemprot dengan water canon dan gas air mata, dipukul dengan rotan dan kulit mati. Penyerangan dipimpin langsung Kapolres Mimika, Viktor Machboen. Di situ hadir pula Komandan Kodim 1710 Letkol Infantri Indarto.

Massa pekerja pun lari tunggang-langgang. Salah seorang korban yang lazim dipanggil “Pak Haji” terkena pantulan gas air mata. Tangannya terkena peluru karet. Tangan kirinya terdapat serpihan peluru. Akibatnya jari-jari di tangan kirinya tidak bisa bergerak normal. Ototnya cacat.

Korban lain Ibu Ansye dikejar sampai ke daerah lokasi gardu yang berjarak kurang lebih 200 m dari CP 28. Ibu Ansye yang sebenarnya telah berada di atas motor, malahan didorong hingga terjatuh. Setelah berdiri, Ibu Ansye dipukul lagi di kepala bagian belakang.

Aksi spontanitas di CP 28 berlangsung hampir 1 jam. Massa yang luput dari kejaran aparat keamanan, berkumpul di terminal Gorong-gorong, masih di kota Timika. Ini adalah terminal yang dibangun sekaligus dimiliki PTFI, digunakan sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan karyawan yang naik dan pulang dari Tembagapura/lokasi tambang. Tidak diketahui secara pasti siapa yang menyuruh atau mengajak massa berpindah lokasi aksi. Semuanya terjadi begitu saja.


Di Gorong-gorong terjadi pembakaran mobil dan sejumlah fasilitas milik perusahaan. Aksi spontanitas pembakaran itu merupakan luapan amarah dan emosi para pekerja lantaran aksi brutalitas aparat keamanan dan kekecewaan terhadap manajemen PTFI yang tidak merespon dengan baik permintaan para pekerja. Sejumlah pekerja yang yang menurut polisi melakukan aksi pembakaran ditangkap dan disidik di kantor Polres Mimika.

Dari Gorong-gorong, massa bergerak ke Petrosea, juga lokasi milik PTFI. Pada mulanya terjadi aksi saling lempar antara para pekerja mogok dengan karyawan Petrosea yang sedang bekerja. Aksi saling lempar berlangsung sekitar 5 menit. Setelah itu, sejumlah fasilitas dibakar. Aparat keamanan datang membubarkan dan menangkapi belasan orang.

Seorang pekerja bernama Nuryadin ditangkap rombongan polisi di rumahnya pada 20 Agustus 2017 di Jalan Kartini Jalur 3 sekitar pukul 00.30 dini hari. Penangkapan cukup dramatis dipimpin Kasat Reskrim Polres Mimika. Pihak polisi datang tanpa surat penangkapan. Nuryadin sempat menolak karena kondisi istri sedang hamil tua dan persalinan hanya menunggu jam. Namun polisi tetap memaksa dan akhirnya Nuryadin digelandang ke kantor polisi.

Di Polres Mimika, Nuryadi bertemu dengan 3 pekerja lainnya yang juga dikenalnya. Mereka ditempatkan di sebuah ruang tanpa ada tindakan apa pun. Pintu ruang sel mereka dikunci dari luar hingga mereka tidak bisa buang air kecil. Baru pada sekitar pukul 02.00 pagi ada polisi yang datang dan mengambil foto ketiganya. Mereka juga akhirnya pindah ke ruang lain.

Winarno dan San Basri juga ditangkap. Padahal mereka tidak ikut aksi dari sejak awal. Keduanya baru bergabung pada pukul 20.30 dan berangkat dengan motor dari rumah Sudiro (pimpinan PUK SPKEP SPSI PTFI yang kini mendekam di Lapas Mimika). Keduanya berhenti sebelum tiba di Petrosea atau kurang lebih 300 meter sebelum tiba Petrosea. Ya terpaksa berhenti karena melihat massa sudah berhamburan.

Sial! Baru sesaat berhenti, keduanya langsung ditangkap polisi. Seorang polisi lainnya menunjuk Winarno sambil berkata, “ini yang tadi memimpin doa (di CP 28)!” Tas milik Win digeledah. Polisi juga mengambil helm. Kepala San Basri dipukul lebih dari 3 kali. Ada pun Win dipukuli ramai-ramai oleh polisi dengan tangan kosong. Seorang polisi berteriak, “kalau berani jangan keroyokan!” Saat keduanya dipukuli, kondisi motor sudah tersungkur.

Win ditarik salah seorang polisi. Sementara polisi lainnya memerintahkan San pulang ke rumah. Namun San tidak mau pulang. Karena itu keduanya disuruh naik mobil. Setelah berjalan beberapa meter, San diminta pindah ke mobil lain hingga dua kali. Terakhir dipindah ke mobil khusus dan di mobil itu sudah ada sekitar 7 orang pekerja lainnya yang ikut ditangkap. Salah seorang pekerja dalam keadaan berdarah. Tampak dahinya luka. Para pekerja ini digelandang ke Polres Mimika dan ditempatkan di Aula Polres Mimika.

Sejumlah 13 pekerja yang tiba di Polres disambut Kapolres Mimika. Semua didata dan HP disita. Setelah itu mereka diperintahkan untuk duduk jongkok. Seorang pekerja yang mengalami luka di dahi, tampak mengerang kesakitan dan tidak mendapatkan pengobatan. Satu per satu 13 pekerja yang ditangkap dipanggil ke luar aula dan diwawancarai hingga besok harinya.

Di Aula, Kapolres sempat menanyakan “siapa yang menyuruh melakukan aksi?” Tak ada yang menjawab dan karena itu, Kapolres mengatakan “tanggung sendiri akibatnya!” Kapolres sempat memperlihatkan foto dua pekerja bernama Steven dan Jhon. Dua orang ini diketahui dekat dengan Aser Gobai (Ketua PC SPKEP SPSI Cabang Mimika). “Anda kenal dua orang ini?”

Lain lagi cerita Jackson Sibarani yang ditangkap di Petrosea. Jackson berangkat dari rumah dengan motor. Tiba di Petrosea ketika sudah terjadi bentrokan. Sesaat tiba dan menghentikan motornya, Jackson langung mendapatkan tendangan aparat keamanan dari arah yang tidak terlihat hingga terjungkal ke parit air. Seorang polisi langsung mengajaknya naik ke mobil dan dibawa ke kantor Polisi. Di mobil sudah ada satu orang lainnya yang ikut ditangkap.

Matius Patinggi ditangkap di CP 28 ketika sedang mencuci mata yang perih karena terkena gas air mata. Begitu ditangkap ia langsung dipukuli, disuruh tiarap lalu ditendang. Seorang Polwan diduga menginjaknya dalam keadaan tiarap. Matius dibawa masuk ke mobil dan dibawa ke Polres Mimika.

Anggota tim keamanan pekerja, Willem R Yoku, menjelaskan, anggota tim keamanan aksi damai diperkirakan berjumlah 100 orang. Tim keamanan memiliki tugas menjaga peserta untuk tidak terpancing pada tindakan-tindakan anarkis dan tindak mengganggu aktivitas masyarakat.

Saat aksi, Willem berada dekat pos di tikungan CP 28 arah bandara. Willem melihat polisi meminta massa bubar, tetapi ditolak ibu-ibu yang ikut aksi. Willem juga melihat penangkapan dua pekerja bernama Arnon Merino dan Arnold. Keduanya menolak. Arnon sempat mengatakan “Lho, kan kita disuruh pulang, tapi kenapa ditarik?” seorang pentinggi Polres Mimika juga sempat memotong beberapa bagian rambut gimbal milik Arnon Merino. “Saya marah sekali waktu rambut saya dipotong. Bertahun-tahun lamanya saya piara rambut seperti ini. Saya suka dan percaya diri dengan rambut seperti ini,” ungkap Arnon yang masih membujang.

Willem sempat meminta kepada polisi, “Biarkan dia [Arnon] pulang!” Bukannya dituruti, Willem justru ikut ditarik polisi. Polisi tanya ke Willem, “kamu juga karyawan ya?” Dijawab Willem “iya!” Polisi mengatakan “kalau begitu kamu juga ikut!”

Di tengah jalan, polisi mengangkut pekerja lainnya. Seorang pekerja yang ikut diangkut, Abdul Kadir, tampak mengeluarkan darah dari hidung dan hidungnya patah. Matanya juga bengkak. Seperti pekerja lainnya yang ditangkap dan mengalami luka dan berdarah, Abdul Kadir dan Arnon Merino, tidak diobati sama sekali. Mereka malah mengalami penyiksaan berikutnya. Kadir sempat terjatuh karena pusing dan malah ditendang.

Di Polres Mimika, Kapolres Victor D Mackbon sempat tanya Willem dan lainnya, “Apakah kamu mengenal dua orang ini?” Dua orang yang diperlihatkan dari foto HP itu adalah Aser Gobai dan Sudiro Wiradinata. Semua mengatakan, kenal, tetapi semua menegaskan, dua orang tersebut bukan dalang aksi. Tiba-tiba Willem kena praak, ditampar mukanya. Sembari berdiri dengan satu kaki Willem ditanya Kapolres, “Siapa yang suruh kalian kacau-kacau?” Willem jawab, itu mau-nya anggota (pekerja). “Kalian ini tidak menghargai manajemen (PTFI), disuruh kerja dan digaji tidak mau!” Willem Yoku diam saja. Kapolres meminta Willem dan lainnya pukul Sudiro. Jika dituruti maka Willem dan lainnya akan dibebaskan.

Tanggal 20 Agustus, sejumlah lima pekerja duduk di halaman rumah Sudiro. Tiba-tiba datang sekitar sejumlah mobil polisi (truk, lantas dan patrol), 1 mobil tentara dan 1 mobil satpol PP. Polisi berteriak “bubar-bubar!” Dari lima orang, tiga orang lari meninggalkan Philipus dan Baharudin. Philipus dan Baharudin tidak mau lari. Dua polisi menendang pinggang dan pantat Philipus. Beberapa kali Philipus coba ditendang dan dipukul tetapi Philipus berusaha menghindar. Philipus sempat bertanya “Apa salah kami?” Tak mau jawab seorang polisi langsung berteriak, “anjing, babi…!” sembari terus berusaha memukul hingga di samping TK Yosua (sebelah rumah Sudiro). Karena marah, Philipus menantang berkelahi. Enam 6 polisi respon dan langsung menodong dan mengokang senjata laras panjang, sambil teriak, “kamu melawan ya?” Philipus lalu menjawab, “ Kalau cuma baku tumbu, lepas senjata kalo berani!” Sementara itu Baharudin baku hadap dengan Satpol PP. Mukanya diinjak persis di depan gerbang pintu masuk rumah Sudiro.

Rombongan aparat keamanan juga bergerak ke Jalan Budi Utomo di mana ada kantor tenda PUK SPKEP SPSI. Di sana aparat keamanan melakukan pembongkaran dan penghancuran tenda-tenda. Sejumlah saksi melihat bahwa pelaku pembongkaran kebanyakan dilakukan polisi dan satpol PP, sementara tentara hanya mengawasi dan menyaksikan. Keterangan saksi menyebut bahwa beberapa polisi berupaya mengejar semua pekerja yang ada ditenda yang melarikan diri.

Dari total 19 orang yang ditangkap, pada akhirnya hanya 9 orang yang diproses hingga akhirnya mereka mendekam di Lapas Kelas IIB Kabupaten Mimika. Hingga artikel ini ditulis, ke-9 orang ini sedang menjalani persidangan di PN Timika. Sejumlah 9 orang tersebut adalah : John Yawang, Steven Edward Yawan, Lukman, Patriot Wona, Deny Baker Purba, Arnon Mirino, Napoleon Korwa, Labai alias Zaki dan George Suebu.

“Sejumlah pekerja dan terutama yang ditangkap dan diproses mengalami pemukulan, penyiksaan dan penganiayaan. Ini namanya police brutality. Polisi melakukan brutalitas, bertindak sewenang-wenang. Sangat terang ini melanggar HAM dan melanggar Hukum Acara itu sendiri. Polisi telah mengabaikan dew process of law, sebagai contoh, penangkapan tidak disertai dengan surat penangkapan, pemeriksaan tidak dalam kondisi yang baik, sehat karena dalam keadaan sakit, ada yang berdarah dan tidak diiobati, pemeriksaan juga sampai pagi hari. Macam-macam pelanggarannya,” tandas salah seorang Kuasa Hukum para pekerja dari Lokataru, kantor hukum dan HAM, Nurkholis Hidayat.(*/Bosko)