Kenapa Banyak Orang Rela Hidup sebagai Teroris? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 05 April 2019 – 16:30 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

Kenapa Banyak Orang yang Rela Hidup sebagai Teroris? Ternyata Ini Alasannya 

JAKARTA, REQnews – Jumlah kelompok teroris di seluruh dunia ini tidak sedikit. Hampir setiap negara ada teroris yang doyan mengacaukan stabilitas kedamaian masyarakat, termasuk di Indonesia. 

Bayangkan, ISIS sempat memiliki anggota sampai belasan ribu, belum lagi di Indonesia, kelompok teroris seperti Jamaad Ansharut Daulah (JAD) seakan tak ada habisnya. Itu belum termasuk teroris sisa-sisa Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, dan teroris OPM di Papua. 

Kenapa sih banyak orang rela menjadi teroris, menjadi buron di negaranya sendiri? Ternyata, banyak faktor yang mendorong seseorang menjadi teroris, mulai dari alasan ideologis sampai urusan perut. Berikut penjelasan lengkapnya. 

1. Minoritas yang Dikucilkan 


Menjadi minoritas di sebuah kelompok besar di dalam negara sebenarnya adalah hal biasa. Namun, akan jadi berbahaya bila minoritas itu merasa dikucilkan dan kerap didiskriminasi. 

Menurut jurnal Frontiers in Psychology, kecenderungan jiwa terorisme seseorang akan muncul jika ia merasa tidak diterima di masyarakat luas. Hal ini jelas harus diperhatikan setiap negara yang mendambakan perdamaian. 

2. Desakan Ekonomi 


Persoalan perut terkadang membuat orang khilaf. Ya, saat tak menemukan jalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seseorang kadang terpaksa melakukan sesuatu yang melanggar hukum, seperti menjadi teroris. 

Anggota ISIS setelah diteliti ternyata kebanyakan berasal dari kalangan miskin, yang terdesak dengan kebutuhan hidup. Akhirnya mereka menjadi teroris, karena dijamin kesejahteraannya oleh kelompok tersebut. 

3. Penafsiran yang Salah 


Terkhusus untuk teroris bertopeng agama, ini bisa disebut sebagai teroris level paling rendahan. Kebanyakan teroris yang meriakkan agama adalah mereka-mereka yang sudah salah menafsirkan kitab suci, khususnya ayat-ayat tentang perang. 

Salah satu tafsir yang dijadikan tameng bagi teroris-teroris seperti ini adalah, siapapun yang bukan bagian dari keyakinannya, maka layak untuk ditumpahkan darahnya. 

4. Pelampiasan Hasrat 


Ada juga alasan yang membuat seseorang menjadi teroris, yakni melampiaskan hasratnya untuk membunuh orang. Biasanya, hasrat tersebut muncul karena gangguan mental yang selalu menganggap orang lain lebih rendah darinya, sehingga harus disingkirkan. 

Hasrat tersebut diduga menjadi alasan teroris Selandia Baru yang menembaki jemaah masjid di Christchurch pada Maret 2019 lalu yang menewaskan 50 umat Islam yang tengah salat Jumat.