Kasus George Floyd vs Kasus Papua, Dua Persoalan yang Berbeda

Kamis, 11 Juni 2020 – 02:02 WIB

Kasus George Floyd vs Kasus Papua, Dua Persoalan yang Berbeda

Kasus George Floyd vs Kasus Papua, Dua Persoalan yang Berbeda

JAKARTA, REQnews - Dalam sejarah rasisme di dunia, sistem rasialis tidak terjadi dengan sendirinya. Namun dikonstruksi dengan beberapa alasan karena kepentingan ekonomi dan politik.

Ketidakpahaman mengenai kompleksitas sistem rasialisme berpotensi menimbulkan distrust (ketidakpercayaan) dan konflik. Kasus George Floyd yang muncul beberapa minggu lalu di AS, menjadi contoh persoalan perbedaan ras atau warna kulit masih potensial menjadi gerakan sosial yang memancing solidaritas ke banyak negara.

Kekeliruan logika (false binary) dalam kasus ini mengarah pada pemahaman bahwa perbedaan rasial terbatas pada warga kulit padahal yang membedakan adalah perspektif.

Kasus Floyd berdekatan dengan dua peristiwa di Indonesia. Yang pertama, terkait hasil putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang mengalahkan presiden dan Menkominfo atas kebijakan pelambatan atau pemutusan internet di Papua dan Papua Barat dalam demo dan kerusuhan berseri tahun 2019. Peristiwa lain adalah tuntutan jaksa terhadap 7 tapol di PN Balikpapan.

Apakah rasialis di AS bisa dianalogikan dengan kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada Agustus 2019?

Terdapat perbedaan akar masalah antara kasus Minesota dan Surabaya karena persoalan Surabaya yang disusul dengan demo dan kerusuhan anti rasisme merupakan akumulasi persoalan masa lalu dan masalah-masalah pembangunan yang belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Papua.

Dengan kata lain, kasus rasialis yang muncul merupakan “percikan api” dari “bara api” yang belum bisa dipadamkan.

Penulis: Dr Adriana Elisabeth
Analis Papua tinggal di Jakarta