Memandang Kasus George Floyd secara Utuh

Kamis, 11 Juni 2020 – 08:01 WIB

Memandang Kasus George Floyd secara Utuh

Memandang Kasus George Floyd secara Utuh

JAKARTA, REQnews - Kasus George Floyd menjadi sebuah babak baru tentang rasisme di Amerika Serikat (AS) dan kembali menjadi sorotan dunia. Hal ini dibuktikan dengan pergerakan demonstrasi yang dilakukan di Amerika, bahkan di beberapa negara lain di dunia.

Dalam pandangan teori dominasi sosial maka ini terlihat bahwa ada 2 kelompok yang menempatkan diri mereka sesuai dengan penelitian kelompok mereka sendiri. Dua kelompok itu adalah kelompok dominan dan kelompok subordinat.

Dalam penjelasannya, kelompok dominan merupakan kelompok yang ada di atas dan disebut sebagai kelompok menang yang memiliki kekuasaan dan seluruh nilai positif. Sedangkan kelompok subordinat adalah kelompok di sisi bawah yang tidak menang, tidak memiliki kekuasaan dan dianggap minoritas.

Dari kedua kelompok tersebut maka dapat dianalisis bahwa kelompok yang menentang rasisme adalah kelompok subordinat atau kelompok yang tidak memiliki kekuasaan. Sedangkan kelompok dominan adalah pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk menindas kelompok minoritas.

Dalam kasus George Floyd, pola ini tak ditemukan di sana. Seperti kita ketahui, konflik ini bermula setelah pria kulit hitam ini diduga menggunakan uang palsu di salah satu swalayan. Ia kemudian diborgol oleh polisi, sementara lehernya ditekan dengan lutut hingga kehabisan nafas dan meninggal.

Jika kita cermati secara baik, tidak tercium bau rasisme dari kasus ini. Malah yang terlihat adalah kelalaian petugas yang mengakibatkan kematian terduga pengguna uang palsu tersebut.

Kini petugas yang melakukannya dihukum dengan hukum pembunuhan tingkat 2. Sementara beberapa petugas lain yang bertugas bersama pada saat itu dihukum dengan hukuman pembunuhan tingkat 3.

Pergerakan masa yang melakukan demostrasi besar-besaran serta perlawanan terhadap Amerika merupakan hasil dari propaganda media yang mengaitkan isu kematian George Floyd dengan rasisme.

Padahal jika kita lihat kembali ke belakang, orang kulit hitam Barack Obama merupakan Presiden kulit hitam yang sangat disegani masyarakat di seluruh dunia. Bahkan Barack sering dikatakan sebagai 'presiden dunia'.

Kasus rasisme perlu untuk kita refleksikan kembali. Sampai saat ini, masih banyak warga Indonesia yang termakan propaganda yang dimainkan lewat media untuk menciptakan konflik di Papua. Untuk itu, masyarakat perlu lebih jeli dan teliti dalam membaca dan melihat sebuah berita. Perlu dilihat secara utuh, agar tidak menjadi korban kejahatan teknologi masa kini.

Selain itu, perlu kita catat bahwa kecenderungan manusia yang tidak mau mencari pembanding sehingga dengan sangat mudah menelan informasi yang diterima kemudian dibagikan.

Banyaknya informasi yang beredar juga telah menjadi alasan pembenar bagi sebuah kasus sehingga sebagai masyarakat kita harus pandai melihat pemberitaan dan menganalisis sebelum kita bagikan dan mempengaruhi orang lain. Jangan sampai kecenderungan kita menelan informasi secara dangkal akan berakibat menjadi konflik yang lebih besar.

Narasi positif harus terus kita bangun, seperti kita tidak sama tetapi bisa bekerja sama, kita tidak satu tetapi bisa bersatu.

Penulis: Steve Mara

Tokoh Muda Papua dan Alumni Universitas Pertahanan