Baca Lengkap! Dugaan Akal-akalan Aakar Abyasa di Skandal Jouska

Jumat, 24 Juli 2020 – 17:00 WIB

Baca Lengkap! Dugaan Akal-akalan Aakar Abyasa di Skandal Jouska (Foto: Istimewa)

Baca Lengkap! Dugaan Akal-akalan Aakar Abyasa di Skandal Jouska (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Dengan muka memelas Aakar Abyasa Fidzuno (AA) menyampaikan permintaan maaf ke banyak pihak terkait skandal kasus investasi yang diduga melibatkan PT Jouska . Melalui akun sosial media, Instagram pribadinya @aakarabyasa, Aakar mengaku siap menerima risiko hukum terkait permasalahan ini.

"Saya mencoba untuk tidak defensif ataupun melakukan klarifikasi terhadap semua pemberitaan yang ada. tapi memberikan solusi paling baik untuk semua pihakJadi mari kita lakukan prosedur hukum yang berlaku," kata Aakar mengutip unggahan akun Instagramnya, pada Jumat 24 Juli 2020.

Sebelumnya Aakar mengaku bahwa Jouska hanyalah sebagai advisor dan tidak bisa mentransaksikan investasi kliennya. Sebab secara teknis, yang bisa mentransaksikan hanya broker atau sales dari sekuritas dan klien itu sendiri.

Muncul banyak pertanyaan mengapa Jouska bertransformasi dari perencana keuangan, menjadi pengelola sekaligus manajer investasi atau keuangan. Bahkan, Jouska membeli saham PT Sentra Mitra Informatika Tbk (LUCK) dan mentransaksikan dana para kliennya ke saham tersebut melalui Rekening Dana Investor (RDI).

Jouska pun dituding melakukan penyalahgunaan kegiatan manajer investasi, yang notabene mereka belum memiliki izin untuk melakukan eksekusi ataupun penempatan dana dalam bentuk produk investasi.

Lalu apa saja dosa Jouska dan Aakar Abyasa yang mengakibatkan sebanyak 80 nasabah yang merasa dirugikan melapor ke Satgas Waspada Investasi (SWI)?

Mengutip beberapa sumber, Aakar beserta rekan-rekannya memiliki beberapa perusahaan yang terintegrasi menangani klien dengan brand utama Jouska. Yang menarik, Aakar mempunyai kepemilikan saham lebih dari 70 persen di empat perusahaan antara lain, PT Amarta Janus Indonesia, PT Jouska Finansial Indonesia, PT Mahesa Strategis Indonesia hingga PT Amarta Investa Indonesia.

Para pemegang saham di PT Amarta Janus Indonesia, antara lain Aakar Abyasa Fidzuno, Indah Hapsari Arifaty, Farah Dini Novita, Marlina dll.

Sedangkan di PT Jouska Finansial Indonesia yakni Aakar Abyasa Fidzuno, Farah Dini Novita, Indah Hapsari Arifaty, dan Marlina. Kemudian PT Mahesa Strategis Indonesia ada nama Aakar Abyasa Fidzuno, Tias Nugraha Putra, Diah Amini Aprianti dan Mathias Mahendra.

Di perusahaan terakhir yakni PT Amarta Investa Indonesia ada nama Aakar Abyasa Fidzuno, Tias Nugraha Putra dan Anwar Syarif.  Diketahui, setiap klien yang menandatangani perjanjian advisory dengan PT Amarta Janus Indonesia atau PT Jouska Finansial Indonesia, mereka diarahkan untuk menandatangani semacam kontrak pengelolaan RDI alias Rekening Dana Investor dengan PT Mahesa Strategis Indonesia ataupun PT Amarta Investa Indonesia.

Mengutip informasi yang diunggah akun anonim Twitter @DetektifFiktif, sebelum memakai nama Jouska, Aakar menggunakan nama Janus. Namun nama itu diganti menjadi Jouska lantaran sempat digugat perusahaan lain pada tahun 2015.

Lalu bagaimana model bisnisnya Jouska? Mengambil sumber data dari @yakobus_alvin, untuk klien perorangan/keluarga yang bukan perusahaan produknya ada 2, yaitu sebagai tenaga pemasar asuransi yang punya hak jual produk asuransi dan sebagai tenaga pemasar di bawah salah 1 sekuritas.

@DetektifFiktif pun menyebut bahwa income dari manajemen investasi tersebut tidak dilakukan langsung oleh Jouska, melainkan oleh PT Amarta Investa Indonesia. Lucunya alamat dua perusahaan ini sama, yakni di Menara Thamrin Lantai 15 Suite 1502, Jakarta. Dalam kenotariatan, alamat sama gini kemungkinan besar pemiliknya ya sama.

Lalu jika kita googling lagi apa itu PT Amarta Investa Indonesia, maka yang muncul adalah TNP Kapital, alias Tias Nugraha Putra. "Setelah gue googling "TNP Kapital" keluarlah sebuah nama, yaitu Tias Nugraha Putra. Ternyata beliau adalah pendiri TNP Kapital, pantes itu kan nama inisialnya. Dugaan saya dia punya share di PT. Amarta Investa Indonesia. Kalo kagak ngapain dulu logo lamanya harus pake TNP Kapital," cuit @DetektifFiktif.

Menurut thread yang dibuat oleh @yakobus_alvin ditemukan beberapa kejanggalan yang bikin curiga. Antara lain:
1. Klien tidak bisa order buy/sell seenaknya, cuma boleh pihak Jouska.
2. Loss sampai puluhan persen dan tidak dicutloss.
3. Ada dibilang kalo dijual harga turun.

Tiga poin tadi bikin intuisi @DetektifFiktif berkata bahwa Jouska pasti ada kepentingannya nih. "Padahal kontrol sepenuhnya ada di Jouska. Oiya, mereka sepertinya pakai RTS, sebuah fasilitas yang diberikan sekuritas kepada dealer. Mereka punya izin WPPE yang dikeluarkan oleh @ojkindonesia," cuitnya.

"Kembali ke kecurigaan gue tadi ya. Curiga gue, karena punya kepentingan, Jouska ini nahan supaya klien nggak melepas saham mereka meskipun dah untung. Coba dilogika, kalau ga ada kepentingan yah, dah untung gitu harusnya lepas aja to. Toh Jouska dapet persenan fee dari profitnya. Tadi kalo profit. Sekarang kalo minus. Kalo ga ada kepentingan kan harusnya cut loss aja. Kalo ga dicutloss, ga ada transaksi dong, ga dapet fee transaksi. Kalo ga dicutloss, ga ada profit. Ini kan sebuah paradoks dari premis2 yang ada di kontrak. Dapet income dari mana Jouska?."

"Kecurigaan gue mengantarkan hipotesis gue yaitu Jouska ini ada niat mainin saham ini dari awal. Bukan dari hasil analisis fundamental maupun teknikal. Tidak ada satupun alasan fundamental maupun teknikal yang gue dapet dari searching2! Hanya analisis yang buat IPO doang," tulis @DetektifFiktif.

"Guys, IPO LUCK itu tanggal 28 November 2018. Tambahin aja 8 bulan. Yah sekitar Juli atau Agustus kan ya. Coba lihat ternyata chart saham LUCK mencapai titik puncaknya di saat yang sama. Kebetulan??? Ngaco lu!."

"Jelas-jelas ini ada permainan loh. Kenapa kok emiten punya kepentingan menaikkan harga setinggi-tingginya? Ya biar sahamnya nggak terdilusi terlalu gede lah. Dah gitu dapet duit lagi. Dan dari sini gue mikir berarti Jouska punya kepentingan yang sama dong. Aha! Hipotesis baru ni."

 

"Hipotesis gue adalah : Jouska bersama Amarta Investa adalah pihak yang maintenance harga saham LUCK. Istilah populernya bandarin. Orang kepentingannya sama. Wo...o... Kamu ketauaaaaann... Pacaran lagiiii... Dengan dirinyaaaa..."

"Jadi skenario yang gue baca tu Jouska dan internalnya sebenarnya sudah masuk di harga IPO. Dan punya rencana menaikkan harga saham LUCK setinggi-tingginya, tergantung dana mereka seberapa kuat. Eh, bisa jadi pake dana kliennya juga sih. Kan yang transaksikan dana kliennya itu ..."

Tak cuma itu, @DetektifFiktif pun mencoba membongkar hubungan Aakar dengan sejumlah petinggi Serial System. Yakni dengan berselancar ke akun Instagram pribadi milik Aakar.

"Eh, gue jalan-jalan lagi dong ke IGnya AA. Btw, gue belum follow nih orang yang MENJALANKAN BEBERAPA PERUSAHAAN DI INDUSTRI KEUANGAN. Menurut lu pade gue follow kagak ye?

Nah, yang pada punya IG. Nyok klik itu feed yang gambarnya gue lingkarin hijau. Baca captionnya dan swipe!."

"Taking kagak mau cek sendiri? IGnya open loh. Cari feed yang fotonya ini dan tanggalnya itu 29 November 2018. Hari apakah itu? Yang pasti bukan Hari Pahlawan. Dah lewat jauh tanggal 10nya.
Itu tuh tepat sehari setelah LUCK resmi IPO di BEI Jakarta.
Wuih girang bener bos mukanye."

"Yaudah kalo kagak mau cek sendiri. Nih gue kasih fotonya. Foto kedua dari feednya ini kayak mirip yang punya Serial System dah. Itu tu, yang ikut mencet bel bareng LUCK. Foto terakhirnya mirip juga sama yang ikut event sebelum IPO dan pas IPO. Jadi, ini project apaan bos? Hayooo!."

"Taking kagak mau cek sendiri? IGnya open loh. Cari feed yang fotonya ini dan tanggalnya itu 29 November 2018. Hari apakah itu? Yang pasti bukan Hari Pahlawan. Dah lewat jauh tanggal 10nya.
Itu tuh tepat sehari setelah LUCK resmi IPO di BEI Jakarta.
Wuih girang bener bos mukanye."


Bahkan AA diduga belum mengantongi license CFP Profesional. "Berdasarkan laporan WNT, ternyata bos AA belum mengantongi license CFP. Kalau nggak percaya kalian bisa cek di sini http://fpsbindonesia.net/index.php?menu=active_CFP_member. Tolong verifikasi  @ojkindonesia *WNT : Warga Negara Twitter."