IFBC Banner

Din Syamsuddin Bentuk KAMI, Mau Kritik atau Lengserkan Jokowi?

Senin, 03 Agustus 2020 – 23:05 WIB

KAMI Terbentuk, Siap-siap Muncul Isu Makar

KAMI Terbentuk, Siap-siap Muncul Isu Makar

JAKARTA, REQnews - Sejumlah tokoh membentuk Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Koalisi yang dideklarasikan Din Syamsuddin dkk pada Minggu 2 Agustus 2020 ini bertujuan untuk menyampaikan kritik ke pemerintahan Joko Widodo.

Banyak pihak memprediksi kemunculan koalisi ini akan memunculkan isu baru yakni makar dan radikal. Seperti yang disampaikan Pengamat Politik Muslim Arbi. 

“Kalau saya perhatikan, ketika ada kelompok mengadakan acara dan masuk media mainstream muncul isu radikal dan makar. Dan ini akan terjadi setelah deklarasi KAMI oleh Din Syamsuddin dan kawan-kawan,” katanya menjawab wartawan di Jakarta, Senin 3 Agustus 2020.

Isu negatif tersebut akan dimainkan untuk melawan aksi deklarasi yang dilakukan oleh sejumlah tokoh sebelumnya. Bahkan dirinya menyebut Jokowi akan dibela oleh pendukungnya yang sering disebut buzzeRp.

“BuzzerRP tugasnya menyebarkan fitnah dan membully orang-orang yang terlibat dalam deklarasi KAMI,” kata dia.

Ia berpendapat hal itu mereka lakukan demi mengalihkan isu hasil deklarasi KAMI. Maka perlu counter opini terhadap deklarasi KAMI dengan memunculkan isu radikal, makar dan terorisme. 

Pihak Istana pun merespon positif pembentukan gerakan koalisi ini. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, pemerintah akan terbuka dengan terbentuknya koalisi pengkritik ini.

Menurutnya, pemerintah dipastikan tak akan mengintervensi. "Ya, tentu dan pasti. Negeri ini diatur dengan regulasi yang sangat terbuka. Tak ada satu kebijakan pemerintah diambil tanpa melepaskan itu kepada ke publik untuk memberikan penilaian," kata Ngabalin dalam acara Kabar Petang tvOne, pada Senin 3 Agustus 2020.

Dia pun meminta agar KAMI bisa ikut berperan membantu pemerintah di tengah kondisi ini. Alasannya, saat ini diperlukan bersama-sama untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman COVID-19.

Ngabalin menambahkan, beberapa koleganya yang mantan anggota DPR juga bergabung bersama KAMI. Lantaran itu, ia memahami terbentuknya koalisi pengkritik pemerintah itu.

Ia menekankan, Jokowi selaku kepala negara akan terbuka untuk menerima saran dan kritikan dari teman-teman KAMI.

"Bahwa saya pastikan Presiden Joko Widodo membuka diri untuk bisa menerima kritik dan masukan dari teman-teman KAMI sepanjang pilihan-pilihan maupun langkah-langkah itu memberikan nuansa baru, untuk kepentingan bangsa dan negara, kepetingan rakyat," ujar eks Anggota DPR itu.

Sementara, anggota KAMI, Said Didu mengatakan pihaknya terbuka dengan siapa saja yang mau bergabung. Tak harus dari nonparpol, kata dia, KAMI menerima pihak dari pemerintah atau parpol.

Said mengklaim sejauh ini sudah ada 150 tokoh dari penjuru daerah yang bergabung dengan KAMI. Kata dia, KAMI dibentuk karena pemerintah sekarang dinilai sudah oligarki. Ia mengatakan, DPR yang seharusnya sebagai pengontrol justru melempem dan tak bisa mengkritik.

"Bahkan DPR dengan sengaja mengamputasi dirinya melalui UU Nomor 2 Tahun 2020 yang menghilangkan hak budget terhadap dirinya. Itu menjadi perhatian kita, yang akhirnya apa yang diinginkan pemerintah itu berjalan tanpa kontrol," ujar Said.

Saat deklarasi KAMI, pada Minggu kemarin, 2 Agustus 2020, hadir sejumlah tokoh. Mulai mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, pengamat politik Rocky Gerung, pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban.

Selain itu, ada mantan penasihat KPK Abdullah Hehamahua, eks Anggota DPR Ahmad Yani, Juru Bicara Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi, hingga mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.

Dalam pernyataannya, koalisi ini menyampaikan seruan gerakan moral kritis atas keresahan bersama terhadap kondisi bangsa terkini.