Novel Baswedan: Harta Penegak Hukum Berlimpah, Pasti Jual Perkara dan Korupsi

Minggu, 06 September 2020 – 20:30 WIB

Novel Baswedan: Harta Penegak Hukum Berlimpah, Pasti Jual Perkara dan Korupsi

Novel Baswedan: Harta Penegak Hukum Berlimpah, Pasti Jual Perkara dan Korupsi

JAKARTA, REQnews - Sebuah fakta mengejutkan diungkap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Ia mengatakan bahwa banyak penegak hukum di Indonesia memiliki harta berlimpah karena mereka kerap berbuat curang. 

Kecurangan itu mereka lakukan dengan menjual perkara dan diduga berasal dari perbuatan korupsi. Hal tersebut diungkapkan Novel Baswedan dalam sebuah acara webinar di Jakarta pada Sabtu 5 September 2020.

Pernyataan Novel itu bukanlah tanpa alasan. Sebab menurut dia, kasus korupsi yang terjadi di negeri ini justru banyak terjadi di penegakan hukum.

Parahnya, selain menjual perkara, mereka uga menggadaikan kewenangan atau jabatannya. "Justru korupsi yang banyak di penegakan hukum dengan menjual perkara dan menggadaikan kewenangan," ujar Novel.

Karenanya, Novel mengkritik tren penegakan hukum di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini buruk. Sebab, pemerintahan sekarang tak memprioritaskan penegakan hukum.

Novel pun menilai bahwa hal tersebut menjadi perusak tatanan penegakan hukum. Bahkan hal ini terjadi bukan saja di tingkat nasional, tapi juga di level daerah.

"Penegakan hukum saat ini bahkan bisa diatur. Mohon maaf, oleh cukong, kelompok oligarki. Jadi, suatu kasus yang nyata, bisa diputar sedemikian balik," ucapnya.

Sementara terkait adanya pemilihan kepala daerah dalam waktu dekat atau pada Desember 2020 mendatang berpotensi terjadinya praktik politik uang. Menurut dia, penegakan hukum yang buruk berpotensi akan membuat permainan uang dalam politik menjadi semakin tinggi.

"(Penegakan hukum) luluh lantak. Saya sebetulnya enggak ingin bicara pesimisme, inginnya optimisme. Tapi inilah faktanya," kata Novel.

Novel pun merasakan pahitnya ihwal penegakan hukum di era sekarang ini. Ketika pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya hanya divonis singkat selama dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Menurut Novel, vonis terhadap dua terdakwa penyiraman air keras kepadanya semakin menunjukkan bahwa peradilan sudah dipersiapkan untuk tak mengungkap siapa aktor di balik serangan teror terhadap dirinya.

Novel bahkan sempat meminta Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, dua orang yang diduga sebagai pelaku penyerangan terhadapnya dibebaskan. Alasannya, Novel tidak yakin Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette sebagai pelaku penyerangan terhadapnya.