Jaksa Anang Jamu Jenderal Polri, Rocky Gerung: Pembusukan di Kejaksaan

Selasa, 20 Oktober 2020 – 11:00 WIB

Rocky Gerung (Foto: Istimewa)

Rocky Gerung (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pengamat politik Rocky Gerung angkat bicara soal jamuan istimewa jaksa kepada jenderal Polri pada Jumat 16 Oktober lalu. Pasalnya, jamuan soto Betawi yang diberikan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kajari Jaksel) Anang Supriatna, kepada Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo menjadi bagian dari agenda pembusukan institusi Kejaksaan Agung.

Diketahui, Napoleon dan Prasetijo berstatus tersangka kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra. Mengutip channel Youtube Rocky Gerung Official, Senin 19 Oktober 2020, Rocky membayangkan momen tersebut bukanlah peristiwa penyerahan berkas administrasi P21.

"Kalau saya bayangkan, yang diserahkan itu berkas menu restoran. Mau makan apa jenderal," kata Rocky.

Ia pun menilai Kajari Jakarta Selatan dan jajarannya seharusnya pasang badan sebagai perwakilan negara, dan jaksa penuntut umum. Hal itu adalah etika dasar yang harus dimiliki mereka.

"Kasih senyum aja tidak boleh sebenarnya jika bertemu para tawanan, termasuk tidak memperlihatkan keakraban. Kenapa tidak sekalian aja ajak liburan para jenderal tersebut pakai private jet dan bicara tentang kasus," ujarnya.

Rocky juga berpendapat bahwa sebenarnya sudah terjadi korupsi alias pidana dalam jamuan tersebut. Karena dalam momen itu jaksa sudah tidak memposisikan dirinya sebagai penuntut umum, melainkan penjamu umum.

"Menjamu tawanan sebenarnya, gak fair sebenarnya. Jadi ini sudah diskriminasi, posisi paling tinggi kejahatan atau ketidakadilan di penegakan hukum. Ini merugikan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum, sekaligus pembusukan di korps penegak hukum itu sendiri. Ini bahaya betul," kata dia.


Dibritakan sebelumnya, Kejari Jaksel diduga memberikan jamuan spesial untuk dua jenderal Polri yakni Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo, termasuk Tommy Sumardi.

Jamuan itu terjadi saat penyerahan berkas perkara berikut barang bukti dan tersangka atau P21, dalam kasus suap penghapusan red notice Djoko Tjandra pada Jumat 16 Oktober lalu. Peristiwa itu pun membuat pengacara Brigjen Prasetijo, Petrus Bala Pattyona heran setengah mati.

Momen yang juga dihadiri para penyidik Dittipikor Bareskrim saat itu, suasananya ramai. Awalnya, proses administrasi P21, kata Petrus, pertanyaan jaksa peneliti dilakukan seperti biasanya.

Semisal menanyakan kesehatan tersangka, apakah mengerti mengapa dihadapkan kepada jaksa, apakah benar semua keterangan dalam pemeriksaan BAP sebagai tersangka. Tanya jawab itu tak lebih dari 30 menit.

Usai proses itu, kata Petrus, muncul kue-kue jajanan pasar, kopi pahit, teh hangat disiapkan. Tiba jam makan siang pun hidangan tersaji. Nasi putih pulen hangat dan soto betawi bening bersantan yang masih panas.

"Sejak saya menjadi pengacara pada 1987, baru sekali ini di penyerahan berkas perkara tahap 2 -istilahnya P21, yaitu penyerahan berkas perkara berikut barang bukti dan tersangkanya, dijamu makan siang oleh kepala kejaksaan," kata Petrus dalam unggahannya di akun Facebook pribadinya, sebagaimana dikutip REQnews, Minggu 18 Oktober 2020.

Kedua jenderal yang menjadi tersangka itu duduk satu meja dengan pengacara masing-masing. Seorang pengusaha Tommy Sumardi yang juga menjadi tersangka pun berada di tempat yang sama.

Seusai makan siang, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Anang Supriatna menghampiri mereka. Dia menyerahkan baju tahanan kejaksaan kepada kedua tersangka.

"Sambil menjelaskan, mohon maaf ya Jenderal, ini protap dan aturan baku sebagai tahanan Kejaksaan," tulis Petrus menceritakan momen itu.

Kedua tersangka pun menerima, lalu membuka baju dinas dan menggantinya dengan baju tahanan. Napoleon dan Prasetijo tidak protes karena, menurut Petrus, merasa diperlakukan sangat manusiawi.

"Pak Kejari bilang dipakai sebentar karena di lobi banyak wartawan yang meliput, dan ini demi kebaikan bersama," katanya.

Saat dikonfirmasi terpisah, Anang Supriatna membenarkan peristiwa tersebut. Namun, dia enggan mengatakan bahwa 'jamuan makan' itu merupakan hal yang baru di lingkungan Kejaksaan.

Dia menuturkan biasanya memang saat melakukan pemeriksaan, Jaksa memberikan makan kepada tersangka atau terdakwa. Lazimnya, kata dia, adalah nasi kotak.

Hanya saja, kata Anang, saat itu situasinya tak memungkinkan untuk membeli nasi kotak sehingga pihak Kejaksaan membelikan soto ayam yang ada di kantin kantor tersebut.

"Terkait makan siang, itu standar di pidsus (pidana khusus) kan memang ada anggarannya," kata Anang kepada wartawan.

Anang pun membenarkan bahwa dirinya sempat menghadiri proses pelimpahan itu. Hanya saja, dia berdalih bahwa kehadirannya hanya sebatas memastikan proses tersebut berjalan dengan lancar tanpa mengganggu substansi pemeriksaan.

Menurutnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) tetap melakukan pemeriksaan dan pengecekan berkas perkara serta kelengkapan administrasi lain tanpa gangguan.

"Saya hanya memastikan, itu saja. Begitu ketentuan-ketentuan seperti ini. Saya enggak ikut campur," kata Anang.

Usai dilimpahkan penyidik Polri ke Kejaksaan, Napoleon dan Prasetijo menjalani masa tahanan di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri.

Saat tiba di rutan, kedua jenderal polisi itu kembali memakai baju dinas kepolisian lengkap, tanpa baju tahanan. Penampilan itu berbeda saat Napoleon dan Prasetijo keluar dari Kejaksaan Negeri Jaksel yang memakai rompi tahanan berwarna merah muda.

Terkait hal itu, Anang mengatakan penampilan tersebut sudah di luar kewenangannya. Sebab, menurutnya, kedua jenderal itu mematuhi aturan saat diboyong keluar dari kantor kejaksaan.

"Saya enggak tahu itu. Yang penting dari kantor saya pakai rompi dan mobil tahanan," ucap dia.

"Pokoknya kalau sudah area sana (Bareskrim) kan kewenangan Karutan sana," ujar dia.