Tunggu Mobil Polisi, Komnas HAM Sebut Laskar FPI Lakukan Perlawanan

Sabtu, 09 Januari 2021 – 11:00 WIB

Laskar FPI yang ditembak mati (Foto: Istimewa)

Laskar FPI yang ditembak mati (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Andai laskar FPI tak menunggu mobil polisi yang membuntuti mereka, maka takkan ada peristiwa di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek (Japek). Demikian disampaikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) saat mengungkap hasil investigasinya terkait tewasnya 6 laskar FPI.

Berdasarkan hasil penyelidikan Komnas HAM, terungkap fakta peristiwa laskar FPI ternyata menunggu mobil polisi yang melakukan pembuntutan. "Terdapat konteks kesempatan untuk menjauh oleh mobil FPI dari petugas, namun malah mengambil tindakan menunggu mobil petugas. Jadi setelah kami crosscheck voice note terus melihat titik-titik di lapangan terus juga melihat linimasa salah satu temuannya di samping eskalasi adalah terdapat konteks kesempatan untuk menjauh oleh mobil FPI dari mobil petugas, namun malah mengambil tindakan untuk menunggu mobil petugas tersebut," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam jumpa pers, di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat 8 Januari 2021.

Padahal, lanjutnya, antara mobil laskar FPI yang mengawal Habib Rizieq Shihab dan mobil polisi sempat berjarak saat keluar dari pintu Tol Karawang Timur. Dua mobil laskar FPI kala itu memiliki kesempatan untuk menjauh, tapi justru memilih menunggu.

"Kedua, mobil FPI berhasil membuat jarak dan memiliki kesempatan untuk kabur dan menjauh namun mengambil tindakan untuk menunggu. Akhirnya mereka bertemu kembali dengan mobil petugas K-9143-EL serta dua mobil lainnya, yaitu B-1278-KJG dan B-1739-PWQ," kata dia.

Fakta tersebut berperan penting dalam rangkaian peristiwa Km 50. Sebab, menurut Choirul, peristiwa menunggu tersebut menjadi pemicu kasus Km 50 yang menewaskan 6 laskar FPI.

"Soal proses ditunggu itu, kenapa ditunggu itu dan sebagainya penting bagi kita semua, dengan asumsi begini, kalau nggak ada proses menunggu peristiwa Km 50 tidak akan terjadi. Jadi kalau nggak ada proses menunggu peristiwa Km 50 tidak akan terjadi," ujarnya.

"Karena ditunggu makanya peristiwa gesekan macam-macam, tembak-menembak sampai Km 50, sampai ke atas itu nggak akan terjadi kalau itu nggak ditunggu. Nah itu menurut kami satu standing yang cukup penting," ujar Choirul lagi. 

Ia menekankan bahwa peristiwa Km 50 tidak akan terjadi jika saat itu laskar FPI yang mengawal Habib Rizieq Shihab menjauh dari mobil polisi. Menurutnya, peristiwa tersebutlah yang kemudian mengakibatkan adanya eskalasi dengan polisi.

"Jadi kalau tadi dibaca ulang-ulang, sebetulnya ada yang lain juga diulang-ulang, tapi penjelasannya begitu. Jadi peristiwa Km 50 itu tidak akan terjadi kalau di titik-titik tadi itu nggak ada proses yang ditunggu," kata dia.

Choirul juga menjelaskan asumsinya ini juga didasari hasil diskusi dengan psikolog forensik saat melakukan pemeriksaan barang-barang bukti salah satunya voice note. Menurut ahli psikologi forensik, proses menunggu yang dilakukan laskar FPI tersebut menunjukkan adanya perlawanan.

"Kami merasa perlu untuk memanggil ahli psikologi forensik dan beliau mengatakan bahwa ini baseline-nya adalah baseline fighting. Jadi makanya poin itu tadi juga menjadi concern dari diskusi kami soal psikologi forensik. Sehingga kalau tidak ada yang menunggu tadi tidak mungkin terjadi peristiwa Km 50. Toh ini juga terbukti bahwa ini pembuntutan saja. Kalau mungkin ada aktivitas yang lain, ada niat yang lain kenapa nggak di titik Sentul, di jembatan layang dan lain sebagainya," ujarnya.