WhatsApp Paksa Pengguna Kirim Data Pribadi, Ini Kata Pakar Hukum

Minggu, 10 Januari 2021 – 15:32 WIB

Ilustrasi WhatsApp (Foto:Istimewa)

Ilustrasi WhatsApp (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Aplikasi pesan instan WhatsApp mewajibkan pengguna memberikan data ke Facebook. Kebijakan ini pun menuai protes dari pengguna.

Praktisi hukum Arthur Messaud, pengacara dari asosiasi pembela pengguna internet La Quadrature du net menyebut apa yang dilakukan WhatsApp merupakan tindakan melawan hukum. Kebijakan itu secara terang-terangan memaksa pengguna mengirim data jika ingin tetap menggunakan aplikasi.

"Jika satu-satunya cara untuk menolak (kebijakan baru) adalah berhenti menggunakan WhatsApp, maka persetujuan tersebut merupakan suatu paksaan karena penggunaan data pribadi adalah ilegal," kata Arthur seperti dikutip dari DW Akademie, Minggu 10 Januari 2021.

Diketahui, aplikasi chatting tersebut telah digunakan lebih dari 2 juta orang. Isu penggunaan data pribadi pengguna oleh WhatsApp bukanlah sesuatu yang baru.

Kondisi itu membuat banyak pengguna, terutama dari kalangan birokrat yang memilih hijrah ke aplikasi chatting lain yang dianggap lebih melindungi privasi pengguna.

Contoh pada Mei 2020, Komisioner Komisi Perlindungan Data Pribadi Jerman Ulrich Kelber meminta kementerian dan institusi negara tidak lagi menggunakan WhatsApp demi keamanan data nasional.

Begitu juga dengan European Commision yang meminta para staf untuk beralih ke aplikasi Signal demi keamanan data pribadi. Padahal, sebelumnya para politisi di Uni Eropa mengandalkan WhatsApp dalam proses negosiasi Brexit sampai muncul istilah 'Diplomasi WhatsApp'.

Facebook sebagai perusahaan induk WhatsApp tersandung masalah pembobolan data pengguna di berbagai negara. Pada Desember tahun 2020, Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat bersama 48 negara bagian AS mengajukan gugatan kepada Facebook atas dugaan pelanggaran hukum persaingan bisnis. 

Media sosial populer tersebut dianggap memonopoli pasar. Di Uni Eropa, Facebook didenda 110 juta Euro (Rp 1,9 T) atas gugatan mengelabui pengguna mengenai kewenangan perusahaan menautkan akun pengguna dengan layanan Facebook lainnya seperti WhatsApp dan Instagram.

Sebagai informasi, update terbaru WhatsApp akan berlaku mulai 8 Februari 2021. Dalam update tersebut, pengguna harus menyetujui kebijakan terbaru jika tetap ingin menggunakan WhatsApp.

Jika pengguna setuju, WhatsApp akan membagikan data mereka ke anak perusahaan Facebook, termasuk Facebook Payments Inc., Facebook Payments International Limited., Onavo, Facebook Technologies LLC, dan CrowdTangle.

Jenis informasi yang akan dibagikan WhatsApp ke Facebook antara lain nomor telepon, nama profil, foto profil, data transaksi, informasi terkait layanan, informasi perangkat mobile, alamat IP dan informasi lainnya.