Potensi Keselamatan dan Kematian Penumpang Pesawat di Indonesia

Senin, 11 Januari 2021 – 11:01 WIB

Sriwijaya Air (Foto: Istimewa)

Sriwijaya Air (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Pesawat adalah moda transportasi paling aman. Namun tak ada satu pihak pun yang dapat memastikan keselamatan penumpang dalam insiden kecelakaan pesawat.

Namun pilot senior Sadrach Nababan menyatakan moda transportasi udara memiliki prosedur keselamatan berlapis yang ketat dan berlaku umum di seluruh dunia. "Penerbangan sipil sebisa mungkin terbang dan mendarat dengan aman. Hanya dalam keadaan luar biasa yang tak terduga saja insiden bisa terjadi," ujar Sadrach seperti dikutip REQnews dari BBC News, Senin 11 Januari 2021.

Walau pesawat dalam keadaan abnormal, lanjutnya, ada persiapan dan langkah tertentu agar semuanya bisa berjalan aman. Sebagai contoh kisah pramugari yang selamat setelah jatuh dari ketinggian 10.000 meter.

Berdasarkan penelitian dari majalah Time, potensi kematian penumpang pesawat paling rendah dibandingkan penumpang moda transportasi lain. Kajian itu menyebut, peluang kematian penumpang di pesawat adalah satu berbanding 8.000.

Sementara potensi kematian tertinggi ditanggung penumpang mobil, yakni 1:112. Di peringkat berikutnya secara berturut-turut adalah pejalan kaki (1:700) dan penumpang motor (1:900).

Adapun berdasarkan penelitian data penerbangan selama 35 tahun terakhir, Time menyebut penumpang yang duduk di satu pertiga bagian belakang pesawat memiliki potensi meninggal lebih rendah saat kecelakaan.

Tingkat kematian di deretan belakang pesawat sebesar 32 persen. Sementara di bagian tengah mencapai 39 persen dan sepertiga bangku depan tercatat 38 persen.

Maka apa yang perlu penumpang lakukan jika pesawat mengalami kondisi darurat di udara? "Sebagai penumpang, maksimal yang bisa dilakukan adalah tidak bertindak di luar prosedur," kata Sadrach. 

Catatan tambahan, penumpang harus mengingat panduan keselamatan yang dipaparkan awak kabin sebelum lepas landas. Pun harus selalu mengikuti petunjuk yang disampaikan awak kabin atau arahan pilot.

Selebihnya, kata Sadrach, peran pilot sangat penting untuk mengatasi kondisi darurat. "Jadi penumpang ikuti saja aturan penerbangan. Yang menerbangkan pesawat kan juga menjalankan regulasi," kata dia. 

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat menyebut hanya terdapat dua cara untuk menghindarkan penumpang dari kematian dalam pesawat.

Dua cara itu adalah mencegah kecelakaan dan melindungi penumpang saat kecelakaan terjadi. Dalam kajian NTSB, setidaknya selama 1983-1999, 95 persen penumpang selamat saat pesawat mereka mengalami insiden, dari tergelincir saat pendaratan hingga korsleting listrik.

Dalam penelitian yang sama, 55 persen penumpang disebut selamat usai insiden pesawat yang serius. Keselamatan penumpang dalam insiden itu bergantung pada beragam faktor, baik lokasi dan ketinggian pesawat saat kejadian hingga pemantik kebakaran.

Bagaimanapun, keselamatan penerbangan dinilai terus meningkat. Konsultan penerbangan Belanda, To70 dan Aviation Safety Network bahkan menyatakan 2017 adalah tahun teraman bagi industri pesawat komersial.

Secara umum, berdasarkan data Aviation Safety Network, sejak 1945 hingga Agustus 2018, telah terjadi 98 kecelakaan pesawat komersial di Indonesia. Dalam seluruh kejadian itu muncul 2.035 korban meninggal dunia.

Angka itu berada di bawah Amerika Serikat (830 kecelakaan dengan 10.736 korban jiwa), Rusia (520), Brasil (188), Kolombia (182), dan Kanada (179).

Namun menurut pakar statistik dari Massachusetts Institute of Technology, Arnold Barnett, tingkat kematian penumpang pesawat di Indonesia selama 2005 hingga 2015 adalah satu berbanding satu juta orang.

Seperti dilansir New York Times, potensi kematian penumpang pesawat di Indonesia itu 25 kali lipat dibandingkan Amerika Serikat.

Jika industri penerbangan memiliki prosedur ketat yang berlaku umum di setiap negara, mengapa insiden fatal tetap dapat terjadi?

Selain persoalan teknis, Sadrach Nababan menyebut adanya potensi kesalahan manusia. "Setiap pegawai di industri ini sudah menjalani pendidikan khusus dan berlisensi. Tinggal seperti apa pengambilan keputusan sehari-hari mereka," ujarnya.

Sadrach juga menekankan pentingnya keputusan pilot mencegah dan menghadapi situasi darurat. Ia berkata, teknisi lapangan dan perusahaan tak boleh menganggap remeh pilot.

"Dalam line of defence keselamatan penerbangan, pilot adalah orang terakhir. Ini berkaitan dengan budaya perusahaan, apakah mereka menghormati keputusan pilot di lapangan.

"Kalau sistem dan prosedur bagus, seharusnya semua berjalan normal. Tapi terkadang aspek niaga kan bisa kalah dengan aspek keselamatan," kata Sadrach.

Agustus 2018, bocah berusia 12 tahun bernama Jumaidi selamat, meski luka-luka, saat pesawat perintis jatuh di pegunungan Oksibil, Papua. Delapan penumpang dan pilot ditemukan meninggal dunia, termasuk orang tua anak itu.

Pada insiden di Yugoslavia tahun 1972, pramugari bernama Vesna Vulovic selamat saat pesawatnya meledak di ketinggian 10.000 kaki atau sekitar tiga kilometer.

Ketika itu Vesna dilaporkan terjatuh ke kawasan hutan bersalju tebal. Ia ditemukan hidup walau tulang tengkoraknya retak, dua tulang belakangnya hancur, dan mengalami patah tulang di bagian pinggul, iga, dan di kedua kaki.

Sementara pada November 2016, pesawat Avro RJ85 yang dioperasikan maskapai Bolivia, LaMia, jatuh di Kolombia. Sebanyak 71 orang di pesawat itu meninggal dunia, termasuk sebagian besar pemain klub sepak bola Chapecoense yang hendak bertanding di ajang Copa Sudamericana.

Namun tujuh penumpang pesawat itu selamat, termasuk tiga di antaranya pemain klub asal Brasil: Alan Ruschel, Jakson Follman, dan Neto.

Hanya Alan dan Neto yang dapat melanjutkan karier sepak bola mereka, sedangkan Jakson harus pensiun dini setelah operasi amputasi kaki.