Pencipta Lagu-lagu Inul Daratista hingga Soneta Jadi Pemulung, Seperti Apa Aturan Royalti?

Selasa, 23 Februari 2021 – 11:30 WIB

Syam Permana (Foto: Istimewa)

Syam Permana (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Begitu malang nasib Syam Permana, pencipta ratusan lagu dangdut era 90-an ini terpaksa menjadi pemulung untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. 

Lagu-lagu yang diciptakannya sukses membuat naik daun dan meningkatkan taraf hidup para artis yang menggunakan karyanya, sedangkan kehidupan Syam Permana jauh dari kata cukup.

Karyanya yang cukup populer seperti lagu Benalu Cinta yang dinyanyikan Imam S Arifin, Terima Kasih oleh Inul Daratista, Belum Sembuh oleh Meggy Z, Merana oleh Hamdan ATT, Surga Jadi Neraka oleh Ine Shintya dan masih banyak lagi.

Namun, yang cukup menyedihkan Syam bahkan tidak mendapatkan royalti dari hasil karyanya tersebut.

Bagaimana hak seorang pencipta lagu terhadap karyanya? Dapatkah pencipta lagu menuntut royalti terhadap orang yang menggunakan karya karyanya?

Yuk simak penjelasan berikut!

Menurut Undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), royalti adalah imbalan atas pemanfaatan hak ekonomi suatu ciptaan atau produk hak terkait yang diterima oleh pencipta atau pemilik hak terkait. 

Dalam hal ciptaan digunakan secara komersial (keuntungan), pencipta dan/atau pemegang hak terkait mendapatkan imbalan dalam bentuk royalti. 

Adapun penentuan besaran royalti dan tata cara pemberian royalti dilakukan berdasarkan perjanjian lisensi antara pemegang hak cipta atau pemilik hak terkait dan penerima lisensi melalui Lembaga Manajemen Kolektif (LMK).

LMK merupakan lembaga resmi yang bertugas untuk mengurusi royalti dari musik yang dihasilkan para pencipta lagu.

LMK, yang berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM, berhak menagih royalti yang dihasilkan dari penggunaan sebuah karya untuk kemudian membagikan kepada pencipta lagu sebagai pemegang hak cipta.

Sebelum memahami lebih lanjut proses mendapatkan royalti, pahami dulu standing position dalam industri musik. Terdapat empat posisi seorang pegiat musik yaitu, hak pencipta, hak produser, hak pelaku pertunjukkan dan lembaga penyiaran.

Pencipta

Pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.

Hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis, terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.

Hak moral merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri pencipta untuk:

a. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum;
b. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;
c. mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;
d. mengubah judul dan anak judul Ciptaan; dan
e. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya

Sedangkan hak ekonomi merupakan hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat
ekonomi atas ciptaannya, berupa:

a. penerbitan ciptaan;
b. Penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya;
c. penerjemahan ciptaan;
d. pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan;
e. Pendistribusian ciptaan atau salinannya;
f. pertunjukan ciptaan;
g. Pengumuman ciptaan;
h. Komunikasi ]ciptaan; dan
i. penyewaan ciptaan.

Produser

Produser fonogram adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman pertunjukan maupun perekaman suara atau bunyi lain. Produser fonogram mempunyai hak ekonomi sebagaimana diatur dalam pasal 24 UU Hak Cipta.  

Pelaku Pertunjukkan

Pelaku pertunjukan adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menampilkan dan mempertunjukkan suatu ciptaan. Pelaku pertunjukkan memiliki hak moral dan hak ekonomi seperti yang diatur pasal 23 UU Hak Cipta.


Lembaga Penyiaran

Lembaga penyiaran adalah penyelenggara penyiaran, baik lembaga Penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas maupun lembaga penyiaran berlangganan yang dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Lembaga Penyiaran mempunyai hak ekonomi.

Jika mengacu kepada UU Hak Cipta, seharusnya Syam Permana berhak atas royalti atas lagu-lagu yang telah diciptakannya. Hal itu dikarenakan Syam sebagai pencipta lagu memiliki hak eksklusif seperti yang telah dijelaskan diatas.