Polisi Bisa Tembak Mati Terduga Teroris Jika Dalam Kondisi Darurat Ini

Selasa, 13 April 2021 – 15:25 WIB

Ilustrasi Penembakan (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Penembakan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Insiden penembakan mati oleh polisi terhadap seorang wanita terduga teroris di Mabes Polri pada Rabu 31 Maret lalu masih menuai pro kontra. 

Ada pihak yang berpendapat bahwa polisi diperkenankan menembak mati terduga teroris. Namun tak sedikit pula yang menentang karena dianggap berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) seseorang.  

Pertanyaannya bagaimana aturan tentang penembakan mati? Dapatkah polisi menembak mati seseorang yang masih diduga terlibat terorisme?

Aturan Menembak Mati

Sebagai negara hukum maka segala tindakan yang dilakukan aparat haruslah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. 

Segala tindakan menghilangkan nyawa seseorang tanpa ada putusan pengadilan yang bersifat inkracht adalah bertentangan dengan aturan yang ada.

Aksi menembak mati pelaku hanya bisa dilakukan secara limitatif dalam rangka pelaksanaan sistem pemidanaan. Yakni sebagaimana terdapat dalam Pasal 10 KUHP, hukuman mati merupakan salah satu pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap terdakwa.

Artinya apa? Tindakan aparat penegak hukum yang melakukan penembakan mati tanpa proses pembuktian di pengadilan adalah menyalahgunai kewenangan dan aturan yang ada.

Selain itu seseorang yang telah disangka melakukan tindak pidana patut diduga tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. 

Dalam Kondisi Tertentu Tembak Mati Dibenarkan 

Dalam keadaan tertentu ada beberapa alasan yang memperbolehkan polisi menembak mati seorang terduga teroris. 

1.) Pembelaan Darurat (noodweer)

Diatur dalam Pasal 49 KUHP ayat (1) yang berbunyi: “Tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dilakukan untuk membela dirinya sendiri atau orang lain, membela perikesopanan sendiri atau orang lain."

Dari bunyi pasal tersebut penembakan bisa dilakukan kalau dalam rangka membela diri (pertahanan diri) dan ada ancaman nyata yang dapat membahayakan nyawa seseorang dalam hal ini polisi. 

Namun kondisi tersebut tetap harus dilihat apakah terduga memang necessary untuk ditembak mati. Misalnya ada serangan yang tak dapat dihindari dalam rangka membela diri.