Ada yang Menarik pada Laporan Keuangan Jiwasraya Tahun 2020, Aset Investasi Hilang Entah Kemana

Rabu, 14 April 2021 – 13:55 WIB

Jiwasraya

Jiwasraya

JAKARTA, REQnews - Meski PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menghadapi tekanan likuiditas, nyatanya perusahaan pelat merah ini di tahun 2020 masih mempunyai pendapatan sebesar Rp 1,94 triliun.

Pendapatan pada tahun 2020 ini memang menurun dari tahun 2019 yang mencapai Rp 2,15 triliun.  Namun jika dibandingkan dengan tahun 2018, pendapatan asuransi ini bahkan tercatat negatif hingga Rp 5,82 triliun.

Mengutip laporan keuangan Jiwasraya Rabu 14 April 2021, pendapatan didapat dari hasil investasi sebesar Rp 33,59 milyar, imbalan jasa DPLK/jasa manajemen lainnya mencapai Rp 16,79 milyar, serta pendapatan lain tercatat sebesar Rp 1,89 triliun.

Tercatat pula laba (rugi) setelah pajak yang tidak begitu terpaut jauh antara tahun 2020 senilai Rp 4,03 triliun dan tahun 2019 sebesar Rp 4,14 triliun.

Pada tahun 2019, Jiwasraya ternyata masih dapat melakukan pembayaran klaim senilai Rp 14,8 triliun sedangkan tahun 2020 perusahaan ini tidak mencantumkan kewajiban pembayaran polis.

Jumlah utang atau liabilitas Jiwasraya tahun 2020 mencapai Rp 54,3 triliun. Utang tersebut jauh lebih membengkak jika dibandingkan dengan yang termuat pada laporan tahun 2019, yaitu sebesar Rp 17 triliun.

Dalam Laporan Keuangan 2020, Jiwasraya juga membukukan ekuitas negatif sebesar Rp 38,6 triliun. Nilai tersebut terus memburuk dibandingkan 2018 negatif sebesar Rp 30,2 triliun dan 2019 negatif senilai Rp 34,5 triliun.

Lalu, apa yang menarik pada laporan laporan keuangan Jiwasraya tahun 2020 ? Jawabannya adalah pada laporan keuangan sebelumnya atau tahun 2019, BUMN asuransi yang menjadi sorotan ini tercatat mengantongi aset investasi deposito berjangka sebesar Rp 740 milyar, saham Rp 1,65 triliun, obligasi korporasi senilai Rp 692 milyar, surat utang jangka menengah (Medium term note) Rp 473 milyar, surat berharga yang diterbitkan oleh negara RI Rp 3,15 triliun, reksadana senilai Rp Rp 1,65 triliun, efek beragun aset Rp 12 milyar, penyertaan langsung sebesar Rp  777 milyar, tanah, bangunan dengan hak strata atau tanah dengan bangunan, untuk investasi sebesar Rp 5,73 triliun serta pinjaman polis sebanyak Rp 89 milyar.

Namun tahun 2020, Jiwasraya mencatatkan tidak adanya aset investasi seperti saham, obligasi korporasi, medium term note (MTN), surat berharga yang diterbitkan oleh negara RI, reksadana, efek beragun aset, dan penyertaan langsung seperti tahun sebelumnya. Padahal belum pernah tersiar perusahaan ini menjual aset investasinya.

Melihat laporan tersebut, banyak pihak yang berhasil ditemui REQnews.com turut mempertanyakan kemana larinya aset investasi yang tercatat pada laporan keuangan 2020. Pihak Jiwasraya sendiri tidak memberikan keterangan apapun terkait raibnya aset investasi yang semula tercatat pada laporannya di tahun 2019.