MUI Sebut Penangkapan Munarman Islamofobia, Pakar: Teroris Bukan Islam!

Jumat, 30 April 2021 – 14:32 WIB

Mantan Sekretaris Umum FPI, Munarman ditangkap Densus 88 (Foto: Istimewa)

Mantan Sekretaris Umum FPI, Munarman ditangkap Densus 88 (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi mengatakan bahwa penangkapan mantan Sekretaris Umum FPI, Munarman merupakan bentuk baru dari gerakan Islamofobia.

Menanggapi itu, Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan bahwa penangkapan tersebut sudah sesuai dengan Undang-undang dan bukan sentimen agama. 

"Masalah penangkapan Munarman murni masalah hukum terkait dengan UU No 5 Tahun 2018, bukan masalah sentimen agama. Bukti dan dasar hukum bisa diuji dan jika ada keberatan atau merasa prosesnya tidak tepat bisa dilakukan praperadilan," ujar Stanislaus kepada REQnews.com Jumat 30 April 2021.

Menurutnya, pemerintah harus melakukan persidangan secara terbuka terkait proses hukum Munarman, sehingga tidak menimbulkan opini sentimen agama.

"Proses pengadilan yang terbuka akan membutikan bahwa proses hukum Munarman sudah dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku, bukan atas dasar sentimen agama," kata dia.

Ia pun menegaskan bahwa tindakan terorisme tak ada kaitannya dengan agama. "Siapa yang mengatakan teroris itu Islam? saya kira tidak ada," katanya.

Menurutnya, persoalan ada kelompok teroris yang menggunakan framing agama untuk membernarkan aksinya, itu harus diatasi oleh pemuka agama.

"Ini adalah masalah yang harus diatasi para pemuka agama, semua agama harus kompak bersatu padu untuk melawan framing agama dalam kelompok teroris, sehingga semua masyarakat paham bahwa terorisme bukan bagian dari agama," ujarnya.

Sebelumnya, KH Muhyiddin mengatakan bahwa penangkapan Munarman merupakan bentuk baru dari gerakan Islamofobia yang tujuannya untuk menciptakan ketakutan dan anti Islam.

“Jelas sekali penangkapan itu adalah bentuk baru dari gerakan Islamphobia yang tujuan utamanya adalah menciptakan ketakutan, kekhawatiran yang berlebihan dan anti Islam,” ujar KH Muhyiddin Junaidi.

Menurutnya jika terorisme, radikalisme, dan ekstremisme adalah produk musuh kaum muslim yang diprakarsai oleh Amerika dan sekutunya.

“Saat ini dunia sudah menganggap isu tersebut sudah kadaluarsa. ISIS juga diakui mereka sebagai produk hasil rekayasa mereka untuk menciptakan konflik dan menguras sumber daya kaum muslimin," kata dia.