Biksu dan Politik di Myanmar Pasca Kudeta 1 Februari

Kamis, 13 Mei 2021 – 20:59 WIB

Foto: Twitter Myanmar Now

Foto: Twitter Myanmar Now

Yangon, REQNews.com -- Shwe Ohh Sayardaw, biksu berusia 44 tahun, kini berpindah dari satu ke lain biara untuk menghindari penangkapan Tatmadaw.

"Saya rela melepas kebhikhuan saya yang berharga dan ambilbagian dalam revolusi bersama masyarakat," katanya.

Parmaukkha, biksu ultra-nasionalis dengan banyak pengikut, menikmati kemesraan dengan militer. Ia merestui kudeta 1 Februari, karena membela Aung San Suu Kyi hanya akan membuat agama Buddha punah di Myanmar.

"Kami melihat militer sebagai pelindung identitas mayoritas Buddha terhadap ancaman pengambil-alihan Islam pelan-pelan," katanya.

Sayardaw dan Parmaukkha adalah gambaran sederhana biksu dan politik di Myanmar saat ini. Militer tahu apa yang harus dilakukan bagaimana memperlakukan keduanya.

Tentara mengidentifikasi biara-biara yang tak berafiliasi ke militer, untuk mencegah aktivisme anti-kudeta. Kelompok pemantau lokal mengatakan sekitar selusin biksu ditangkap dan dipenjara.

Pengawasan terhadap biara tidak hanya di kota-kota besar, tapi juga di desa-desa. Militer tak segan mencokok biksu dari biara yang diketahui mendukung masyarakat anti-kudeta.


Mengenang Revolusi Saffron

Militer tidak ingin Revolusi Saffron 2007, ketika biksu menyatu, menggerakan aksi demo besar-besaran, dan mengguncang tatanan pemerintahan militer saat itu.

Revolusi Saffron dipicu kenaikan harga bahan bakar secara tiba-tiba. Biksu berbaris di jalan dengan mangkuk sedekah terbalik, simbol penolakan terhadap sumbangan apa pun dari tentara, sekaligus kecaman yang berani.

Junta militer mengalami krisis legitimasi, dan tak punya cara lain mengatasi aksi para biksu selain tindakan brutal. Sedikitnya 31 biksu tewas terkapar di jalan-jalan, ratusan lainnya ditangkap, dicopot dari biara, dan dipenjara.

Di antara biksu yang ditangkap terdapat Gambira, pemimpin biksu terkemuka yang dijatuhi hukuman 68 tahun. Ketika dibebaskan tahun 2012, Gambira tidak lagi menemukan sekumpulan biksu dengan satu ideologi.

Gambira kini tinggal di Australia. Ia masih mengenang saat-saat penangkapan dan pengadilannya.

"Banyak yang tewas atau hilang, yang lain dipenjara bertahun-tahun dalam kondisi fisik yang buruk," kata Gambira. "Puluhan biksu lainnya lari ke luar negeri."

Pada saat yang sama sebuah gerakan Buddha nasionalis bernama Ma Ba Tha muncul. Wirathu, seorang biksu ektremis kharismatik, menjadi pemimpinnya.

Wirathu, yang dijuluki majalah Time sebagai Buddha bin Laden, menggunakan retorika permusuhan terhadap Muslim Rohingya untuk mengimpun masa. Tahun 2017 ia mengerahkan massa pengikutnya membunuh banyak Muslim Rohingya. PBB menyebutnya sebagai tindakan genosida.

Aung San Suu Kyi melarang Ma Ba Tha tahun 2017, sebagai upaya mengekang pengaruhnya. Namun kelompok ini terus menerima perlindungan dan sumbangan dari tokoh-tokoh militer.


Dulu Wirathu, Kini Parmaukkha

Wirathu boleh saja menghilang, tapi Ma Ba Tha tetap ada meski mungkin menjadi organisasi tanpa bentuk. Kelompok ini percaya militer adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menghentikan yang mereka sebut Islamisasi. Padahal, Islam di Myanmar kurang lima persen dari 54 juta rakyat negeri itu.

"Orang-orang yang berpikir jauh ke depan tidak akan memprotes pemerintah saat ini," kata Parmaukkha.

Ia menyalahkan media atas meningkatnya jumlah korban tewas di jalanan. Media, katanya, menghasut masyarakat untuk menentang kekuasaan militer.

Sayardaw mengatakan militer merebut kekuasaan secara tidak adil. "Krisis saat ini adalah hasil demontrasi damai, proses normal dalam demokrasi, yang direspon secara brutal," katanya. "Kita harus berdiri di sisi keadilan."

Kehidupan biara melarang 300 ribu biksu memberikan suara atau mengambil bagian dalam demonstrasi politik. Gambira mengatakan; "Aturan itu hanya berlaku di dunia yang ideal."

Myanmar, menurut Gambira, telah jatuh ke dalam kekacauan dan biksu tidak bisa menutup mata. Biksu harus bergerak, mendukung aksi penentangan terhadap militer.

Meski telah lama meninggalkan biara, Gambira tetap menjalani hidup tak ubahnya biksu. Di Australia, Gambira menggalang dana untuk gerakan protes.

"Sang Buddha mengajarkan kita tidak peduli di mana atau bagaimana, kita harus selalu berada di jalan kebenaran," katanya. "Kini, kami memiliki satu motto; jangan pernah menyerah."