Pernah Dengar Istilah Bezit? Ternyata Diatur dalam KUHPerdata  

Kamis, 22 Juli 2021 – 11:04 WIB

Bezit merupakan keadaan memegang atau menikmati suatu benda dimana seseorang menguasainya, baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain, seolah-oleh merupakan kepunyaan sendiri (Foto: Istimewa)

Bezit merupakan keadaan memegang atau menikmati suatu benda dimana seseorang menguasainya, baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain, seolah-oleh merupakan kepunyaan sendiri (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Bezit merupakan keadaan memegang atau menikmati suatu benda dimana seseorang menguasainya, baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain, seolah-oleh merupakan kepunyaan sendiri, yang diatur dalam Pasal 529 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

Syarat adanya bezit berupa adanya hubungan antara orang dengan benda dimaksud yang dikehendaki oleh orang tersebut, serta dengan adanya kehendak, juga terdapat hubungan antara orang dab benda. Secara singkat, wajib ada corpus yaitu hubungan orang dengan benda, serta animus yaiut hubungan orang dengan benda harus ada kehendak.

 

Kehendak tersebut tidak diperkenankan bagi anak yang dibawah umur maupun orang yang dibawah pengampuan dengan artian, kehendak sempurna yang berlaku bagi orang yang cakap hukum menurut KUH Perdata.

 

Berdasarkan fungsinya, bezit memiliki 2 fungsi, yaitu fungsi zakentechtelijk, yaitu setelah beberapa waktu tertentu, bezit berjalan tanpa adanya keberatan dari pemegang hak milik sebelumnya, maka perubahan keadaan tersebut berubah menjadi hak milik kepada pemegang benda baru, sehingga perpindahan hak milik terjadi dengan natural tanpa diperlukannya putusan pengadilan maupun proses hukum lain.

Kendati demikian, fungsi ini hanya berlaku terbatas pada benda tidak bergerak dan piutang selain piutang surat bawa, merupakan surat berharga yang tidak menunjuk kreditur tertentu, maka setiap kreditur yang memiliki surat tersebut berhak untuk meminta piutang kepada yang bersangkutan.

 

Fungsi kedua ialah fungsi polisionil, merupakan  perlindungan hukum yang diperoleh dari bezit, yang tidak mempersoalkan pemegang hak milik atas benda tersebut. Maka siapapun yang mem-bezit suatu benda, secara otomatis mendapat perlindungan hukum, perlindungan hukum tersebut berakhir apabila dibuktikan kemudian hari bahwa orang yang mem-bezit ternyata tidak berhak.

 

Bezit dalam praktiknya dikenal 2 macam:

Berupa bezit benda yaitu terhadap benda-benda berwujud, dan bezit hak terhadap benda yang tidak berwujud.

Bezit jujur atau beritikad baik dengan cara yang diperbolehkan menurut undang-undang dan tidak diketahui adanya kecacatan, serta bezit tidak beritikad baik yaitu mengetahui bahwa benda yang ada padanya bukan miliknya sehingga menyadari dan mengetahui adanya kecatatan karena itikad tidak baik.

 

Penulis: Hans Gilbert Ericsson