Lima Hal yang Perlu Diketahui Tentang Varian Delta dan Pencegahannya, Perhatikan Nomor Empat

Kamis, 29 Juli 2021 – 17:25 WIB

Foto: ideastream.org

Foto: ideastream.org

Los Angeles, REQNews.com -- B.1.617.2, virus korona hasil mutasi yang populer dengan sebutan varian Delta, dengan cepat mendominasi kasus infeksi di banyak negara.

Di AS, varian Delta menggeser varian Delta, dan tak memberi kesempatan varian Lambda berkembang. Pemerintah Jepang memutuskan Olimpiade Tokyo tanpa penonton karena khawatir varian Delta mengamuk.

Di sejumlah negara, varian Delta belum menonjol tapi membuat pengail keputusan ketar-ketir. Berikut lima yang perlu diketahui tentang varian Delta.


Tingkat Penularan Lebih Tinggi

"Mutasi membuat virus lebih mudah menempel pada sel," kata Joshua Sharfstein dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg Universitas Johns Hopkins.

Virus SARS-CoV-2 mengalami mutasi pada protein lonjakannya, yang digunakan virus itu dan virus lain untuk menempel pada sel manusia, serta menyerang sistem kekebalan tubu.

James Ou, peneliti Universitas of Southern California (USC), mengatakan kepada Taiwan News bahwa utas varian Delta membuat pengikatan lebih efisien sehingga lebih menular daripada strain lain

Para ahli sepakat varian Delta lebih menular. Namun terdapat beberapa pendapat soal seberapa menular varian Delta.

Sharfstein mengatakan tingkat penularan varian Delta 50 persen lebih tinggi dari varian Alpha. Shandy Dearth dan David Dowdy, profesor epidemiolog Universetias Indiana, percaya varian Delta 40 sampai 60 persen lebih menular.

Weming Yuan, peneliti Keck School of Medicine University of Southern California, mengatakan varian Delta seribu kali lebih menular dari dibanding varian paling awal.


Apakah Varian Delta Mematikan?

Sharfstein, Yuan, dan Dearth menunjukan tidak cukup bukti yang memperlihatkan varian Delta lebih mematikan dibanding strain lain. Namun, jumlah kematian dan rawat inap yang disebabkan varian Delta terasa lebih tinggi.

"Ini lebih merupakan masalah matematika daripada biologi," kata Dearth.

"Tingkat rawat inap yang lebih rendah dibandingkan dengan kasus telah diamati sehubungan dengan varian Delta," kata Dowdy.

Ou menjelaskan karena varian Delta lebih menular, adabanyak orang sakit sehingga lebih banyak pasien dirawat di rumah sakit dan meninggal.


Semua Vaksin Efektif

Sharfstein menunjukan bahwa vaksin memberikan kekebalan. Tubuh yang mendapat vaksin akan mengenali virus.

Dia menganalogikan virus dengan topi. Varian Delta adalah topi yang tidak biasa. Varian Delta sedikit lebih sulit dikenali, tapi tetap saja topi.

"Semua vaksin efektif melindungi diri dari varian Delta," kata Yuan.

Ia juga menunjukan suntikan flu konvensional memberi perlindungan 50 persen. Vaksin memberi perlindung jauh lebih efektif.

Dowdy mengatakan kebanyakan orang yang saat ini terkena virus di AS dan Australia adalah mereka yang tidak divaksinasi. Bukti menunjukan mereka yang hanya menerima satu atau dua dosis memiliki perlindungan, meski mungkin lebih rendah, terhadap varian
Delta.

Ketika ditanya vaksin mana yang lebih efektif melindungi orang dari varian Delta, Sharfstein mengatakan vaksin mRNA memberi perlindungan sangat tinggi.

Pakar lain mengatakan vaksin terbaik adalah yang bisa Anda dapatkan.


Booster Tidak (Belum) Diperlukan

Banyak orang bertanya-tanya apakah suntikan booster diperlukan untuk memaksimalkan perlindungan. Sharfstein dan Dowdy menunjukan bukti bahwa booster belum diperlukan.

Namun keduanya mengakui tingkat kekebalan suntikan dua dosis dapat berkurang seiring waktu.

Yuan menyarankan di masa depan suntikan biasa mungkin menjadi norma, seperti vaksin flu.


Ikuti Prokes

Jadi, apa cara terbaik mencegah penyebaran varian Delta? Ou dan Sharfstein mengatakan; "Vaksinasi."

Jika vaksin belum tersedia, ikuti semua aturan protokol kesehatan; pakai masker, jarak sosial, dan sanitasi yang tepat. Dearth mengingatkan orang-orang belum menerima vaksin agar menghindari pertemuan dalam ruang, karena jarak sosial tidak memungkinkan.

Menurut Sharfstein, ini bukan saatnya untuk lengah.