IFBC Banner

Waspada Jebakan Pinjaman Online Ilegal! Niat Bayar Utang Malah Terjerat Utang

Selasa, 17 Agustus 2021 – 15:30 WIB

Ilustrasi pinjaman online (Foto: Istimewa)

Ilustrasi pinjaman online (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Di tengah situasi pandemi Covid-19, lembaga pinjaman online (pinjol) ilegal saat ini kian hari kian menjamur. Masyakarat yang kurang literasi dan melek teknologi pun banyak yang menjadi korban. Terdesak dalam situasi ekonomi yang genting, memaksa para korban mau tidak mau meminjam uang lewat pinjol.

IFBC Banner


Hidup di zaman serba digital, memang menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi memberi kemudahan dan kecepatan, namun di sisi yang lain juga dapat menjadi bumerang.

Benalu-benalu digital bertopeng jasa keuangan kerap kali memanfaatkan kemudahan pembuatan aplikasi pada ponsel pintar. Para korban yang awalnya mengira dengan pinjol akan menjadi solusi finansial, malah berujung sial.

Nominal pinjaman para korban memang tidak terlalu besar. Menurut Lembaga Bantuan Hukum Jakarta rata-rata pinjaman online tidak sampai Rp 2 juta. Namun, bunga yang ditawarkan sangat tinggi, ancaman teror ketika penagihan dan berujung pada peretasan kontak. Tak ayal jika korban pinjol menjerit.

Saat fintech mulai menjamur di tahun 2018, sepanjang 2018-2020 posko pengaduan LBH menemukan lebih dari 4000 aduan dari korban pinjol nasional.

Bunganya berkisar 0,1% - 4% perhari dan mencapai 120% perbulan. 

Seperti cerita salah satu korban pinjol satu ini. 

"Tahun 2018, waktu itu jujur sebetulnya buat bayar uang sekolah anak. Saya iseng buka playstore ternyata ketemu ada beberapa jenis pinjaman online. Saya coba 1 ternyata sebegitu mudahnya tidak ada satu jam disetujui." ujar Santi, dikutip Selasa 17 Agustus 2021.

Dirinya meminjam Rp 1,2 juta dan harus mengembalikan Rp 1,8 juta dengan keterlambatan kurang lebih 7 hari. 

Lembaga pinjol ilegal ini bahkan sampai meretas kontak ponsel Santi. Tak hanya itu, kontak atasan kerjanya pun ikut terseret karena ditagih dan diminta pelunasan.

"Ternyata seminggu kemudian saya diminta mengundurkan diri dengan tidak terhormat. Semua hak saya sebagai karyawan dipotong dianggap membuat ketidaknyamanan di perusahaan." ucap Santi.

Santi menjadi korban pinjol pertama yang melaporkan kasusnya ke LBH. Namun, diluar sana pasti banyak Santi lain yang juga menjadi korban. 

Dirinya bahkan mencontohkan pernah mendapat pelecehan secara verbal oleh penyalur pinjol.

 

"eh lo nari telanjang aja deh biar hutang lu lunas" kata Santi

"eh, kita ketemu di hotel aja ya nanti gini-gini" katanya lagi.

"eh nanti gue bikin spanduk lho di depan rumah lho bahwa lho itu ga melunasi hutang lo!" ujar Santi.

 

Kasus Santi, harus dijadikan pelajaran bagi masyarakat agar tidak terjebak dan tergiur dengan pinjol. 

Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memblokir 3365 aplikasi pinjol ilegal. Namun, tetap saja banyak aplikasi baru ilegal yang muncul setiap hari.

 

Seperti kita ketahui, Google mendukung aplikasi dan sistemnya open source. Sehingga pelaku dapat dengan mudah membuat akun dan aplikasi baru.

 

Permasalahan semakin kompleks, ketika:

Pertama, aturan hukum yang ada saat ini belum cukup memberikan perlindungan bagi korban pinjol. 

Kedua, belum ada aturan yang tegas yang menyatakan bahwa aplikasi yang tidak terdaftar atau tidak berizin di OJK tidak dapat beroperasi.

Ketiga,bunga maksimal yang ditetapkan tidak ada batasan. Sehingga penyalur pinjol dapat seenaknya.

Keempat, ketiadaan aturan mengenai cara penagihan, mekanisme pengaduan, serta sanksi aplikasi pinjol atau provider yang langgar berbagai ketentuan OJK.

Tantangan lain, pelaku kejahatan kini manfaatkan server asing. Dari data yang ada dari sampel sekitar 1300 pinjol ilegal, 22% server dari Indonesia.

Kedepan, masyarakat harus lebih waspada dengan jebakan pinjol ilegal. Jika tidak ingat utang menumpuk, jangan tergiur dengan janji-janji manis para penyalur. 

Pemerintah juga kedepan harus mencarikan solusi dalam memberantas lembaga pinjol ilegal agar tidak lagi memakan korban.