Anti-Korupsi dan Nasionalisme Moderat

Minggu, 12 September 2021 – 17:01 WIB

Lets Fight Corruption Together (Foto: Istimewa)

Lets Fight Corruption Together (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Korupsi dapat dikatakan sebagai konsep dan perilaku yang menyimpang secara hukum. Ketika secara politik telah terjadi pemisahan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan publik.

Fenomena korupsi telah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia melalui venality of power. Pada masa itu, eksistensi dari kedudukanlah yang berhak melakukan pemungutan pajak yang tanpa kontrol hukum sehingga penyimpangan yang terjadi (abuse of power) sulit diperbaiki karena lemahnya kontrol pemerintah/kerajaan serta sifat masyarakat yang cenderung diam.

 

Bahkan VOC juga melakukan hal ini pada daerah-daerah yang dikuasainya melalui para demang/bupati/penguasa daerah.

Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa baik secara universal maupun keindonesiaan, korupsi mempunyai akar historis yang cukup kuat dalam kehidupan masyarakat yang meningkat seiring dengan upaya pembangunan yang masif yang menggunakan dana besar dalam bentuk pinjaman luar negeri sebagai bagian inheren bagi hampir semua negara berkembang untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat melalui rezim developmentalist.

 

Hingga kini, pemberantasan korupsi di Indonesia masih belum menemukan titik terang. Bahkan berdasarkan data yang dirilis oleh Transparency International Indonesia (TII) pada 28 Januari 2021, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2020 berada pada skor 37 dan menduduki peringkat 102. Indonesia mengalami penurunan peringkat yang signifikan dimana pada tahun 2019 menduduki peringkat 85 dengan skor 40 poin.

Katakanlah kasus suap Jaksa Pinangki hingga kasus suap Menteri Sosial Juliari Batubara yang merupakan potret kelam korupsi di tahun 2020. Kasus ini hanyalah sedikit dari banyak kasus korupsi yang terungkap. Belum lagi kasus korupsi yang terjadi ditingkat daerah yang berhasil diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Korupsi merupakan perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang diterima dan dianut masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang dilakukan oleh para pegawai publik. Korupsi ibarat bayangan yang akan selalu mengikuti kemana pun subjek kekuasaan berada. Dimana ada wewenang dan kekuasaan, maka korupsi akan berada tidak jauh dari situ.

Di antaranya dampak korupsi yang paling buruk adalah runtuhnya nilai religiositas, akhlak, moral, integritas, hingga rasa nasionalisme terhadap bangsa sendiri. Berbicara mengenai nasionalisme, perlu kiranya mendapat atensi yang tidak kalah pentingnya mengingat maraknya perilaku koruptif di berbagai kalangan pejabat publik sebagai seseorang yang telah dipercaya menjalankan amanah rakyat dan bangsa.

 

Sebagaimana Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan, bahwa setiap warga negara wajib memiliki jiwa nasionalisme dengan melihat segala yang dilakukannya melalui dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.

Jelas dalam Pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab yang dijiwai sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebangsaan memanglah hal yang penting, namun juga perlu dipahami konsepnya sehingga tidak menimbulkan sesuatu yang berlebihan dengan menggeneralisasikan setiap yang dilakukannya termasuk perbuatan yang layak dan tidak menyalahi nilai-nilai Pancasila. Hal mana perlu diperhatikan agar tidak memunculkan nasionalisme yang mengarah pada nasionalisme etnis, nasionalisme geografi, hingga nasionalisme agama.

 

Dapat dimaknai bahwa nasionalisme moderat merupakan suatu pandangan yang kemudian direalisasikan ke dalam sikap dan perbuatan seseorang yang mencintai bangsa dan negaranya dengan melihat perbedaan sebagai bagian dari komitmennya untuk selalu menjunjung persatuan dan kesatuan. Menjadi moderat juga harus mampu menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang dijadikan dasar dan pijakan utama serta mana yang menjadi dasar atau pijakan berikutnya.

Hal ini karena dengan nasionalisme moderat maka akan dapat memaknai sebagai posisi yang mampu berpandangan sesuai dengan konteksnya. Sehingga moderat adalah yang berkaitan dengan kemampuan untuk melihat sesuatu secara seimbang dan logis.

 

Penulis - Leonardo Sanjaya