Benarkah Musik Haram? Simak Pandangan Dua Mazhab Besar Sunni dan Syiah

Rabu, 15 September 2021 – 19:03 WIB

Ilustrasi musik

Ilustrasi musik

JAKARTA, REQnews - Tengah viral video puluhan santri yang serempak menutup telinganya ketika terdengar suara musik saat mereka mengantri untuk mendapat vaksin.

Video itu kemudian menimbulkan kontroversi di publik, ada yang menghormati para santri itu, ada juga yang menyebut mereka terpapar radikalisme.

Namun, masalah ini sebenarnya bermuara pada belum selesainya perdebatan antara apakah musik itu halal atau haram dalam Islam.

Untuk melihat masalah ini, mari kita simak penjelasan soal musik dari dua mazhab Islam terbesar dunia, yakni Ahlusunnah wal Jamaah atau Sunni dan Syiah.

1. Sunni

Pada mazhab Sunni, terbagi empat pandangan dari empat imam, yakni Imam Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafii.

Imam Abu Hanafiah atau Hanafi membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa. [Lihat Talbis Iblis, 282]

Imam Malik bin Anas atau Maliki mengatakan, "Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak itu adalah biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat aib." [Lihat Talbis Iblis, 284]

Imam Asy Syafi’i berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.” [Lihat Talbis Iblis, 283]

Imam Ahmad bin Hambal. Beliau berkata, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.” [Lihat Talbis Iblis, 280].

Kemudian, ada pandangan lain dari Imam Al Ghazali, yang justru tidak sama sekali mengharamkan musik, tentunya dengan syarat tertentu.

Beliau berkata bahwa tidak ada illat yang kuat tentang keharaman lagu dan musik, tapi hanya disandarkan pada kesenangan dan keindahan yang baik-baik saja.

Bila musik atau lagu mengandung unsur keji, hawa nafsu, dan membuat orang lupa akan ibadah, maka dapat menjadi haram.

2. Syiah

Ayatullah Imam Ali Khamenei sebagai ulama nomor satu Syiah menjelaskan, bahwa dalam fiqih, hukum memainkan alat musik tergantung pada penggunaannya.

Jika digunakan untuk jenis musik haram (hura-hura, melenakan dan cocok untuk tempat-tempat maksiat) maka haram juga, jika digunakan untuk yang halal maka halal pula.

Kemudian, Imam Shadiq As terkait dengan ayat, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan diri mereka.“ (Qs. Al-Furqan [25]:72) dan ayat “dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.“ (Qs. Al-Hajj [22]:30) bersabda: “Yang dimaksud dengan (kedua) ayat ini adalah majelis-majelis lahw (melalaikan), la’ib (pelesiran) dan ghina (lagu).”

Imam Shadiq As terkait dengan ayat: “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (Qs. Al-Mukminun [23]:3) bersabda: “Yang dimaksud dengan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna (laghw) adalah lagu dan menghabiskan waktu tiada guna.”

Imam Baqir As dan Imam Shadiq As berkenaan dengan ayat, “Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.“ (Qs. Luqman [31]:6) bersabda: “Yang dimaksud dengan lahw al-hadits (perkataan yang tidak berguna) adalah lagu.”

Kesimpulan mengenai pandangan Imam Shadiq dan Imam Baqir ini adalah mengingat bahwa redaksi ghina (lagu) bermakna “tarik suara” (olah vokal) bahkan segala jenis suara dan nyanyian[x] dan sesuai dengan tuturan Syaikh Anshari Ra: Amat jelas bahwa tidak satu pun dari definisi ini yang (menjadikan lagu itu) haram.

Atas dasar ini, seluruh fukaha memandang haram musik yang masuk kategori dan memiliki kait lahw (melalaikan). Artinya bahwa lagu yang melalaikan (manusia dari mengingat Tuhan) adalah haram.

Redaksi “lahw” dimaknai sebagai melupakan Tuhan dan tenggelam dalam pelbagai kevulgaran.[xiii] Disebutkan bahwa lagu dan tarik suara yang diharamkan adalah lagu dan nyanyian yang sesuai dengan majlis-majlis lahw, la’ib, fasad dan hiburan.

Sebagian fukaha di samping kait “lahw” juga menambahkan kait “mutrib” atas lagu dan nyanyian yang diharamkan.

Kemudian, “Tharb” disebut sebagai kondisi entengnya akal yang dihasilkan setelah mendengar lagu atau musik pada jiwa seorang manusia. Dan mengeluarkannya dari kondisi stabil dan moderat (i’tidal).  Dan demikian juga terkait dengan musik (irama yang keluar dari alat-alat musik) yang memiliki kait “lahw” dipandang oleh mayoritas fukaha sebagai musik yang haram. Sebagian juga memandang haram mendengarkan musik muthrib (melenakan).