Tidak Hanya Kehidupan, Dunia Perfilman Juga Harus Mengutamakan Asas Ketuhanan YME

Senin, 20 September 2021 – 17:32 WIB

Ilustrasi Perfilman (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Perfilman (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Dunia perfilman Indonesia telah mengalami perkembangan dan perubahan sejak tahun 1998. Sebagai tuntutan gerakan reformasi pada tahun 1998, diadakannya reformasi dalam bidang politik dan kebudayaan.

Hal ini berdampak juga pada bidang perfilman yang diawali dari posisi film dengan rumpun politik, menjadi rumpun kebudayaan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lahirlah gagasan tentang perlunya paradigma baru.

 

Film yang dibuat, tidak bebas nilai karena memiliki seuntai gagasan vital dan pesan yang dikembangkan sebagai bentuk karya kolektif dari banyak orang yang terorganisasi, serta merupakan pranata sosial  yang memiliki kepribadian, visi dan misi yang akan menentukan mutu dan kelayakannya.

 

Dengan mempertimbangkan perkembangan film dan dunia dalam era globalisasi yang dapat menjadi alat penetrasi kebudayaan, dunia perfilman perlu dijaga dari segala pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan jati diri bangsa Indonesia. Sebagaimana dinyatakan dalam Sila ke-1 Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, hal serupa menjadi asas utama dalam perfilman.

 

Simak hal berikut yang menjadi asas perfilman:

·       Asas Ketuhanan Yang Maha Esa, bahwa perfilman harus menempatkan Tuhan sebagai yang maha suci, maha agung, dan maha pencipta. Sebagaimana serupa dengan Sila ke-1 Pancasila.

·       Asas kemanusiaan, perfilman harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia.

·       Asas bhinneka tunggal ika, perfilman diselenggarakan dengan memperhatikan dan menghormati keanekaragaman sosial budaya yang hidup di seluruh wilayah negara Indonesia.

·       Asas keadilan, yang menunjukkan kesamaan kesempatan dan perlakuan dalam penyelenggaraan perfilman bagi setiap warga negara Indonesia.

·       Asas manfaat, konten dari perfilman membawa maslahat bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

·       Asas kepastian hukum, yaitu perfilman harus diselenggarakan sesuai dengan hukum dan peraturan perundangan-undangan.

·       Asas kebersamaan, berarti perfilman diselenggarakan dengan semangat maju bersama.

·       Asas kemitraan, bahwa perfilman diselenggarakan berdasarkan kerja sama yang saling menguntungkan, menguatkan, dan mendukung.

·       Asas kebajikan adalah bahwa perfilman harus mendatangkan kebaikan, keselamatan, dan keberuntungan.

 

 

Penulis: Hans Gilbert Ericsson