Mbah Minto Dituntut 2 Tahun Bui Gegara Bacok Pencuri, Jaksa Harus Paham Aturan Pembelaan Diri

Rabu, 01 Desember 2021 – 15:09 WIB

Mbah Minto (Foto: Istimewa)

Mbah Minto (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Sungguh malang nasib yang menimpa Mbah Minto seorang lansia (74) yang sehari-hari bekerja menjaga kolam dan pekarangan ikan di Demak, Jawa Tengah. Niat hati membela diri dari terduga pencuri, ia malah terancam di bui karena dituntut 2 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Tindakan yang dilakukan Mbah Minto menurut jaksa termasuk penganiayaan berat. Ia membacok pencuri (korban) di kolam tempatnya bekerja hingga menyebabkan korban luka berat. Namun, bukankah dalam hukum dikenal dengan “pembelaan darurat” atau “pembelaan terpaksa” (noodweer)?

Kronologi kasus

Mbah Minto sehari-hari bekerja sebagai penjaga kolam ikan di Desa pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ia hidup sebatang kara dan mengandalkan satu-satunya penghidupan dari menjaga kolam dan pekarangan itu.

Pada malam itu M masuk ke dalam kolam dengan membawa alat setrum. 

Mbah Minto mengaku membacok pencuri lantaran sempat diserang menggunakan alat setrum. Namun, upaya tersebut gagal, karena tidak mengenai sasaran dan berakhir M kabur dengan luka bacok serius.

Mbah Minto juga mengaku merasa jengkel lantaran sudah seringkali kemalingan peralatan dan ikan sebelumnya.

Setelah dilakukan penyelidikan lebih jauh oleh Kapolres Demak, kasus Mbah Minto dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Demak.

"Jadi terhadap perkara ini, kita sudah melakukan penuntutan terhadap terdakwa Mbah Minto bin Jasmani. Itu per tanggal 29 November 2021, selama dua tahun penjara. Tuntutan dua tahun penjara ini tentu sudah kita pertimbangkan dengan baik, baik secara psikologis, sosiologis, maupun secara yuridis. Di mana penganiayaan yang dilakukan Mbah Kasminto cenderung penganiayaan berat. Sebagaimana diatur Pasal 351 ayat 2 KUHP," kata Kajari Demak Suhendra saat konferensi pers, Selasa 30 November 2021.

Adapun isi pasal 351 ayat 2 KUHP:


Pasal 351
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Menurut Suhendra, alasan pembelaan diri di kasus Mbah Minto tidak tepat. Mbah Minto telah terbukti melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban luka berat.


"Kemudian pada saat kejadian itu juga tidak ada yang dinamakan upaya pembelaan diri. Jadi alasan pembelaan diri Terdakwa di sana tidak tepat. Jadi si korban tidak melakukan perlawanan. Kemudian Terdakwa datang secara mengendap-endap, langsung membacok ke arah tubuh korban sebanyak lebih dari dua kali," katanya. 

"Malah korban sempat berteriak minta tolong dan mengatakan kepada Terdakwa, 'kulo melu urip, Mbah (ampuni saya, Mbah)'. Kemudian dengan tangannya diangkat, kemudian tangannya juga ditebas, dibacok di beberapa jari," katanya lagi.


Selain itu kata Suhendra, hal-hal yang memberatkan Mbah Minto adalah melakukan penganiayaan berat, serta tidak adanya permintaan maaf dari Mbah Minto kepada korban. Sedangkan terkait upaya restorative justice juga tak bisa diterapkan pada kasus Mbah Minto. Ia menjelaskan bahwa ketentuan restorative justice hanya bisa pada pidana kasus yang lebih ringan.

Akibat perbuatan yang ditimbulkan oleh Mbah Minto yakni korban mengalami luka serius hingga tulang belikat kiri sampai putus.

Kejaksaan juga melihat, membacok pencuri atau pelaku tindak pidana lainnya tidak dibenarkan. Apalagi sampai main hakim sendiri. 

 

Noodweer (Pembelaan Terpaksa)

Noodweer dibedakan menjadi 2 yakni:

1. Noodweer (pembelaan terpaksa)

2. Noodweer-exces (pembelaan darurat yang melampaui batas)

Hal tersebut diatur dalam Pasal 49 KUHP yang berbunyi:

Pasal 49
(1) Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.

(2) Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.


R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-undang Hukum Pidana serta komentar-komentar lengkap pasal demi pasal (hal. 64-65), menjelaskan syarat-syarat noodweer ( pembelaan darurat):


1. Perbuatan yang dilakukan itu harus terpaksa dilakukan untuk mempertahankan (membela). Pertahanan itu harus amat perlu, boleh dikatakan tidak ada jalan lain. Di sini harus ada keseimbangan yang tertentu antara pembelaan yang dilakukan dengan serangannya. Untuk membela kepentingan yang tidak berarti misalnya, orang tidak boleh membunuh atau melukai orang lain.


2. Pembelaan atau pertahanan itu harus dilakukan hanya terhadap kepentingan-kepentingan yang disebut dalam pasal itu yaitu badan, kehormatan dan barang diri sendiri atau orang lain.


3. Harus ada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan sekonyong-konyong atau pada ketika itu juga.

Jika ditarik sebuah kesimpulan, pembelaan diri diperkenankan untuk dilakukan jika dalam keadaan terdesak dan ada serangan dari pelaku. Contohnya saat tengah tidur seorang pencuri masuk ke dalam rumah A dan mencoba mencuri sepeda motor. Hanya saja karena A sebagai pemilik rumah terbangun, pencuri menyadari dan berusaha memukul A dengan sebilah kayu. A boleh melawan pencuri untuk mempertahankan diri namun harus seimbang dengan serangan yang dilakukan. 

Sedangkan Noodweer Exces adalah pembelaan darurat yang melampaui batas.

Sama seperti pembelaan darurat harus ada serangan yang sekonyong-konyong dilakukan atau mengancam pada saat itu juga. Di sini batas-batas keperluan pembelaan itu dilampaui.

Pompe yang dikutip oleh Lamintang dalam bukunya Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (hal. 502) juga dijelaskan bahwa perbuatan melampaui batas itu dapat berkenaan dengan perbuatan melampaui batas keperluan dan dapat pula berkenaan dengan perbuatan melampaui batas dari pembelaannya itu sendiri.

Batas-batas dari keperluan itu telah dilampaui yaitu baik apabila cara-cara yang telah dipergunakan untuk melakukan pembelaan itu telah dilakukan secara berlebihan, misalnya dengan membunuh si penyerang padahal dengan sebuah pukulan saja orang sudah dapat membuat penyerang tersebut menjadi tidak berdaya, maupun apabila orang sebenarnya tidak perlu melakukan suatu pembelaan, misalnya karena ia dapat menyelamatkan diri dengan cara melarikan diri.

 

Pada pembelaan terpaksa yang melampaui batas (noodweer exces), pembuat melampaui batas karena keguncangan jiwa yang hebat. Oleh karena itu, perbuatan membela diri melampaui batas itu tetap melawan hukum, hanya orangnya tidak dipidana karena guncangan jiwa yang hebat. Inilah yang dinamakan alasan pembenar, yaitu alasan yang menghapus sifat melawan hukum suatu tindak pidana.

Dalam kasus Mbah Minto, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa tindakan yang dilakukannya adalah noodweer exces karena terdapat guncangan akan keselamatan dirinya yang menimbulkan kekhawatiran. Sehingga seharusnya Jaksa harus lebih peka melihat hal tersebut. Tindakan main hakim memang tidak dibenarkan oleh hukum, namun jika Mbah Minto tidak melakukan pembelaan diri, barangkali saat itu nyawanya tengah terancam. 

Jaksa seharusnya juga tidak hanya berfokus pada korban yang diduga hendak mencuri ikan. Namun juga harus melihat dari sisi kemanusiaan dan keadilan.