IFBC Banner

Kasus-kasus Pemerkosaan Terburuk Sepanjang 2021, Pelakunya dari Polisi hingga Ustaz

Rabu, 29 Desember 2021 – 01:02 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, REQnews - Kasus-kasus kekerasan seksual, pencabulan dan pemerkosaan sepanjang tahun 2021 benar-benar mengkhawatirkan.

IFBC Banner


Pelaku-pelakunya pun terdiri dari berbagai kalangan, termasuk aparat kepolisian hingga ustaz atau guru agama, sementara korbannya, kebanyakan adalah anak-anak di bawah umur dan pelajar.

Data juga menunjukkan, dalam rentang waktu lima tahun, sejak 2016 hingga 2021, kasus pemerkosaan meningkat drastis ke angka 31 persen.

Berdasarkan rangkuman dari REQnews.com, berikut adalah kasus-kasus pemerkosaan yang terungkap dan menggemparkan publik sepanjang 2021. Berikut ulasannya.

1 Pemerkosaan Santriwati di Bandung

Kasus pemerkosaan 13 santriwati di salah satu pesantren di Cibiru, Bandung benar-benar membuat publik marah besar. Bagaimana tidak, pelakunya adalah seorang ustaz bernama Herry Wirawan. Para korban bahkan sampai hamil dan melahirkan, bahkan dipaksa bekerja sebagai kuli bangunan dan diancam agar tidak membuka rahasia peristiwa ini.

Menurut keterangan pihak berwenang, Herry sudah melakukan aksi bejatnya sejak 2016. Kasusnya baru mencuat ke publik di akhir 2021, meskipun sempat ditutup-tutupi oleh Polda Jabar beberapa bulan sebelumnya. Kini, Herry tengah menjalani persidangan atas kasusnya, dan banyak pihak mendesak agar ia dihukum mati atau dikebiri.

2. Polisi Perkosa Anak Tersangka

Seorang perempuan berinisial S (2) diperkosa oleh Iptu IGDN, yang ketika kasus ini terjadi masih menjabat sebagai Kapolsek Parigi. Korban berkali-kali dibujuk oleh IGDN agar mau melayani nafsu buasnya, dengan iming-iming, ayah S yang ditahan di polsek karena kasus pencurian hewan ternak dapat dibebaskan.

Setelah kasus ini meledak ke publik, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Rudy Sufahriadi murka besar dan mencopot IGDN dari jabatannya, dan memecatnya sebagai anggota kepolisian.

3. Ayah Cabuli 3 Anak Kandung di Luwu Timur

Kasus ini, meskipun kontroversial namun benar-benar menyita perhatian publik pada Oktober 2021 lalu. Seorang ayah di Luwu Timur, diduga mencabuli ketiga anak kandungnya.

Menurut keterangan kepolisian, kasus ini terjadi sejak 2019 dan sempat dihentikan karena tidak ditemukan bukti yang kuat. Namun, banyak pihak yang merasa ada kejanggalan dalam penghentian kasus, dan akhirnya perkara ini muncul kembali ke permukaan pada 2021, disertai dengan meledaknya tagar #PercumaLaporPolisi di media sosial.

4. Siswi SD Diperkosa dan Dianiaya Istri Pelaku di Malang

Pertengahan November 2021 lalu, seorang siswi SD berinisial HN (13) di Malang menjadi korban pemerkosaan oleh temannya berinisial Y. Kemudian, istri Y, menyuruh sejumlah orang untuk menganiaya HN

Video saat HN dianiaya sejumlah orang, viral di media sosial. Dari 10 pelaku, 7 di antaranya menjadi tersangka. Satu pelaku tidak dilakukan penahanan karena berstatus di bawah umur.

5. Korban Pencabulan Ditinggal di Hutan, Pelaku Ayah Tiri

Seorang pelajar berinisial M (17) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan nyaris saja menjadi korban pemerkosaan oleh ayah tirinya. Namun, ia sempat mengalami penganiayaan hingga ditinggal di hutan.

M berupaya melawan saat akan diperkosa. Ayah tirinya mencekiknya, lalu meninggalkannya di tengah hutan sendirian di kabupaten yang berbeda.

Ini hanyalah sebagian kecil dari betapa banyaknya kasus-kasus pemerkosaan dan pencabulan serta kekerasan seksual lainnya di Indonesia yang terjadi sepanjang 2021, yang tak dapat dirangkum secara keseluruhan.

Tanggapan Pakar

Reza Indragiri Amriel, pakar Psikologi Forensik melihat kasus-kasus kekerasan seksual yang terdokumentasikan dari tahun ke tahun dapat dimaknai secara positif.

Dalam artian, pihak korban dan keluarganya sudah lebih berani melapor, media lebih gencar memberitakan dan penegak hukum lebih serius dalam melakukan penindakan.

"Kalau tiga pihak ini sudah menampilkan ragam perilaku seperti itu, data atau angka kekerasan seksual yang terdokumentasikan niscaya naik dari tahun ke tahun," kata Reza kepada REQnews.com, Senin 27 Desember 2021.

"Dengan data terdokumentasikan naik, kita menafsirkan dari waktu ke waktu, masyarakat kita punya resiliensi yang semakin bagus terhadap kejahatan seksual."

Terkait apakah pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap meningkatnya kasus-kasus kekerasan seksual, Reza tak menampiknya.

"Bisa jadi iya, namun dengan format yang baru. Orang-orang dapat melakukan kekerasan seksual berbasis virtual. Para predator itu tahu anak-anak menghabiskan banyak waktu di ruang virtual, lalu mereka (predator seks) pun masuk ke dalam ruang-ruang seperti itu, lalu melakukan tindakan-tindakan pelecehan," ujar Reza.