IFBC Banner

Kasus Illegal Access Richard Lee: Antara Pembuktian dan Keteledoran

Kamis, 30 Desember 2021 – 22:06 WIB

Dokter Richard Lee (Foto: Tangkapan layar)

Dokter Richard Lee (Foto: Tangkapan layar)

JAKARTA, REQnews - Belakangan ini viral terkait dengan penahanan dokter Richard Lee terkait dengan akses ilegal yang diduga melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun, usai penangguhan penahanannya diterima, ia pun dibebaskan.

Youtuber yang juga seorang dokter kecantikan itu sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus menghilangkan barang bukti dengan mengakses akun Instagram, yang sudah disita dan dijadikan barang bukti oleh pengadilan. 

Pakar Keamanan Siber, Alfons Tanujaya mengatakan bahwa dinamika media sosial (medsos) saat ini memang menunjukkan bahwa peranan medsos semakin penting dibandingkan dengan media lainnya.

Mengenai illegal access, ia menyebut jika memang itu terjadi secara otomatis dan bisa dibuktikan dengan mudah memang tidak salah. Tetapi jika memang ada bukti bahwa yang bersangkutan secara ilegal mengakses barang bukti yang sudah diblokir, hal itu memang merupakan pelanggaran hukum.

"Jadi sebenarnya budaya dibuktikan saja kalau memang itu merupakan posting otomatis berikan buktinya dan sebaliknya pihak berwenang juga kalau memang mengatakan itu pengambilalihan akun yang sudah diblokir ya silakan dibuktikan juga," kata Alfons kepada REQnews.com pada Kamis 30 Desember 2021.

Namun, menurutnya ada baiknya juga jika barang bukti yang sudah disita seperti akun media sosial, oleh pihak yang berwajib juga melakukan penggantian kredensialnya supaya tidak bisa diakses oleh orang lain yang tidak berwenang atau bisa juga mengatasnamakan pemilik akun yang sebelumnya.

"Hal ini juga perlu menjadi evaluasi bahwa maintain akun media sosial sebagai barang bukti itu juga perlu menjadi perhatian," lanjutnya.

Terkait dengan kasus dokter Richard Lee, ia menyebut sangat kental dengan masalah hukum dan semuanya bisa dengan mudah dibuktikan. Bahkan tak perlu jauh-jauh, karena menurutnya banyak bukti yang bisa dilihat atau diminta langsung kan ke Facebook dan pihak berwajib memang berhak melakukan tindakan hukum asalkan sesuai dengan undang-undang.

Terkait dengan medsos yang terintegrasi, Alfons menyebut memang merupakan segmentasi dimana Facebook mewakili segmen umur tertentu yang lebih tua dan Instagram mewakili segmen yang lebih muda. sedangkan WhatsApp ini merupakan media yang menguasai komunikasi messaging hari ini dan sangat dominan.

Menurutnya, saat ini masyarakat perlu menyikapi perkembangan media sosial dengan bijak. "Manfaatkanlah media sosial ini untuk keperluan yang berguna dan bijaksana seperti berkomunikasi atau mengkomunikasikan produknya. Hindari penyalahgunaan dan penyesatan informasi yang dapat merugikan kepentingan orang banyak," kata dia.

Sementara Pengamat Media sosial (medsos) Tuhu Nugraha menilai jika apa yang dilakukan oleh dokter Richard Lee adalah sebuah kelalaian. Karena menurutnya orang kadang tidak sadar jika antara Facebook (Facebook) dengan Instagram (IG) saling terkoneksi.

"Ini menurut saya keteledoran karena dikaitkan antar FB dan Instagram. Kadang memang tidak nyadar, karena ini otomatis, tapi kita bisa pilih unconnect," kata Tuhu.

Kemudian terkait dengan dugaan melakukan penghapusan barang bukti, Tuhu menyebut bahwa diduga ada faktor kesengajaan, karena panik. "Bisa jadi ini karena kepanikan. Sungguh sayang ya ini akan memberatkan dr Richard Lee," kata dia.

Namun, menurutnya penegak hukum juga harus memahami terkait dengan perkembangan media sosial saat ini. "Ini perlu dipahami oleh penegak hukum, karena ada banyak inovasi-inovasi baru," kata dia.

Salah satunya termasuk dengan penggabungan antara Instagram, WhatssApp, dan Facebook sehingga bisa saling terintegrasi. "Termasuk sebetulnya penggabungan ini, bagaimana aspek privasi konsumen, lalu monopoli yang kadang banyak orang juga ngga paham," katanya.

Selain itu, kata Tuhu, masyarakat juga saat ini sepertinya baru mulai melek dan bangkit bahwa data mereka itu terintegrasi. "Nah permasalahannya masyarakat sendiri juga ngga punya banyak pilihan platform lain sebagai alternatif, jadi ibarat kayak pasrah aja dengan hegemoni teknologi ini," lanjutnya.

Menurutnya, hal tersebut juga telah banyak dibahas oleh beberapa futurist dan ekonom. Bahkan dirinya juga sempat membahasnya bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ketika terdapat kajian teknologi baru.

"Bagaimana mencegah monopoli sehingga audiens sebenarnya dipaksa memilih itu, dan ngga punya opsi out. Karena kalau out maka terasing dan tak bisa mengakses apa pun," kata dia.

"Misalnya ketika kita memilih ngga pake WA, bagaimana kita terkoneksi dengan kolega dll. Karena platform lain tak ada yang sekuat WA untuk pengiriman pesan, atau Facebook untuk jejaring pertemanan," ujarnya.