IFBC Banner

Catatan Khusus 2021 untuk Kemenkumham: Lapas Overcapacity dan Jadi Pusat Peredaran Narkoba

Jumat, 31 Desember 2021 – 17:01 WIB

Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly

Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly

JAKARTA, REQnews - Sepanjang tahun 2021 ini banyak peristiwa yang melibatkan Kementerian Hukm dan HAM (Kemenkumham), yang menjadi sorotan. Peristiwa itu pun memicu kuatnya kritik yang disuarakan masyarakat maupun tokoh publik.

Mulai dari peristiwa kebakaran Lapas Tangerang yang memakan banyak korban jiwa, hingga pengendalian peredaran narkoba dari dalam lapas. Bahkan, over kapasitas lapas menjadi salah satu perhatian serius di Kemenkumham.

Ini jelas menjadi PR besar bagi Menkumham Yasonna Laoly, yang kinerjanya disorot publik akibat banyaknya kasus-kasus di lapas.

Dalam catatan akhir tahun ini REQnews.com telah merangkum 6 peristiwa paling kontroversial dan menjadi sorotan publik di Kemenkumham pada tahun 2021, berikut ulasannya.

1. Kekerasan di Dalam Lapas

Yunan Afandi merupakan mantan narapida (napi) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II A Yogyakarta yang menjadi warga binaan sejak 2017 dan dibebaskan pada 2021. Selama mendekam di lapas, dirinya mengatakan pernah mengalami kejadian tak mengenakkan.

Ia mengaku pernah dipukuli oleh oknum petugas lapas hingga lumpuh selama dua bulan. "Ada dua bulan saya tidak bisa jalan. Dipukul daerah kaki pernah, kalau mukul ngawur," kata Yunan pada Senin 1 November 2021.

Selain mendapat siksaan, Yunan juga dimasukkan ke dalam sel sempit dan lagi-lagi mendapatkan kekerasan, hingga untuk makan dirinya hanya memperoleh tiga suapan tanpa lauk. Karena mendapatkan perlakuan tak menyenangkan, ia sampai tak berani menatap petugas.

Dugaan penganiayaan lainnya juga dialami oleh Vincentius, pria berusia 35 tahun itu mengaku dianiaya sejak pertama kali masuk ke Lapas Narkotika Yogyakarta. Ia bersama warga binaan lainnya diminta melepas semua pakaian dan kemudian disiram air.

"Kita ditelanjangi, disiram pakai air dan itu dilihat oleh semua staf," kata Vincent. Ia menyebut bahwa oknum petugas melakukan penyiksaan kepada dirinya dan sejumlah napi lain karena menjadi residivis. Peristiwa itu terjadi pada April 2021, padahal tak semua dari mereka adalah residivis.

Ia mengatakan oknum petugas lapas juga menyiksa warga binaan yang tidak berbuat kesalahan. "Kita enggak ada kesalahan tetapi tetap saja dicari-cari kesalahannya. Itu pemukulan hampir tiap hari, di blok juga jarang dibuka untuk kegiatan rohani," kata dia.

Pada saat dirinya menjadi warga binaan, ia menyebut ada napi yang meninggal dunia diduga karena buruknya layanan kesehatan. "Dia sudah ada penyakit bawaan, tapi kesehatannya tidak diperhatikan petugas. Dia ada penyakit paru, tapi tidak pernah dikeluarin, enggak pernah jemur, obatnya juga telat-telat. Cuma di RS beberapa hari dan balik ke lapas, dua hari meninggal,” kata dia.

Atas insiden dugaan penyiksaan terhadap warga binaan tersebut, Kemenkumham melalui Kanwil Kemenkumham DIY langsung menarik dan memproses lima petugas Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta yang diduga terlibat dalam kasus itu.

2. Kebakaran Lapas Tangerang

Kebakaran Lapas Tangerang pada 8 September 2021 lalu itu, menewaskan 48 orang narapidana, dua orang diantaranya adalah warga negara asing (WNA). Mereka yang tewas karena tidak bisa menyelamatkan diri sehingga mengalami luka bakar cukup serius.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly menjelaskan kebakaran tersebut terjadi pada pukul 01.45 WIB. Selanjutnya Kepala Lapas langsung menghubungi pemadam kebakaran setempat hingga 13 menit kemudian 12 unit pemadam kebakaran datang.

"Terjadi kebakaran pukul 01.45 WIB, petugas pengawas melihat dari atas. Pengawas melihat kondisi itu terjadi api, langsung menelepon kepala pengamanan di sini," ujar Yasonna dalam konferensi pers, Rabu 8 September 2021.

Yasonna menyebutkan, kurang dari 1,5 jam api di Lapas Tangerang berhasil dipadamkan. Menurutnya Lapas Tangerang yang terbakar itu berada di Blok C 2 yang dihuni oleh 2.072 orang. Dari berbagai kasus kebakaran penyebabnya bermacam-macam, mulai dari faktor kelalaian hingga korsleting listrik.

3. Lapas Over Kapasitas 

Banyak lapas tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sebagian besar dari lapas-lapas tersebut telah terjadi over kapasitas. Kondisi tersebut tentu bisa berdampak negatif serta berpengaruh pada proses menjalankan pidana dan pembinaan dari seorang narapidana di lapas.

Salah satu contohnya adalah musibah kebakaran yang menimpa Lapas Kelas I Tangerang yang mengakibatkan kurang lebih menewaskan 48 orang narapidana. Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna Laoly dalam konferensi pers nya pada tanggal 08 September 2021 menjelaskan bahwa salah satu penyebab banyaknya korban yang meninggal dunia adalah karena over kapasitas yang terjadi hampir diseluruh lapas di Indonesia.

Yasona mengatakan bahwa kejahatan narkotika mendominasi lebih dari 50% isi lapas termasuk Lapas Kelas I Tangerang. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan per 23 Desember 2021 menunjukkan warga binaan pemasyarakatan di Indonesia mencapai 273.992 orang, yang terdiri atas 226.093 narapidana dan 47.899 tahanan, dengan kapasitas seharusnya berjumlah 132.107 orang.

Contoh lainnya adalah Lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) negara di Sumatera Selatan (Sumsel) masih penuh sesak alias overkapasitas. 17 lapas dan 3 rutan yang memiliki daya tampung 6.605 orang, diisi 15.599 orang yang terdiri dari 12.877 narapidana dan 2.722 tahanan.

Kondisi tersebut tentunya sangat memprihatinkan karena telah terjadi kelebihan kapasitas sebanyak 2 kali lipat dari yang seharusnya. Dampaknya proses pemidanaan dan pembinaan narapidana di Lapas tidak berjalan efektif. Untuk itu, maka perlu ada solusi serta langkah yang tepat dan strategis untuk mengatasi permasalahan tersebut.

4. Lapas Didominasi Kasus Narkoba

Kasus tahanan dan narapidana di lapas sebagian besar merupakan tindak pidana narkoba, yang jumlahnya bahkan lebih dari 50% dari total yang berada di dalam lapas. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pemasyakatan jumlah narapidana tindak pidana narkoba tahun 2021 berjumlah 136.030 orang.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Pangeran Khairul Saleh pada 12 September 2021 lalu mengatakan salah satu penyebab tingginya kasus tindak pidana narkoba di dalam lapas adalah banyaknya kasus penyalahguna narkoba yang berakhir pidana. Hal ini disebabkan oleh sistem peradilan pidana di Indonesia yang sangat bergantung pada penggunaan pidana penjara sebagai hukuman utama.

Padahal, menurutnya banyak hukuman alternatif lain yang bisa menjadi pertimbangan. Yang menjadi masalah selama ini adalah penanganan terhadap penyalahgunaan narkoba termasuk pengguna lebih menekankan pada aspek pemidanaan dan bukan dari aspek kesehatan.

Bahkan kasus narkoba mendominasi dan menjadi penyebab terkait dengan over kapasitas lapas. Untuk itu, ia menyebut bahwa Kepolisian, Kejaksaan dan lembaga penegak hukum lain terkait harus ikut andil dalam penanganan over kapasitas di lapas.

Pembangunan lapas baru bukan menjadi solusi terbaik untuk menangani permasalahan over kapasitas. Yang harus dilakukan adalah salah satunya dengan mengurangi jumlah narapidana yang masuk ke dalam lapas.

Iini bukan berarti mengendorkan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan. Tetapi membuat suatu regulasi atau aturan yang memungkinkan bagi pelaku kejahatan dihukum dengan alternatif hukuman lain selain pidana sehingga mengurangi jumlah terpidana yang masuk ke dalam lapas. Hal tersebut pada akhirnya akan berdampak pada penurunan over kapasitas di lapas.

5. Napi Kabur dari Lapas Tangerang

Narapida kasus narkotika berinisial A berhasil kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Kota Tangerang pada Rabu 8 Desember 2021. Kabag Humas Ditjenpas Kementerian Hukum dan HAM Rika Aprianti mengatakan bahwa A telah menjalani hukuman penjaranya selama lima tahun di Lapas Kelas I Tangerang. 

Kepala Kantor Wilayah Kemenhumham Banten Agus Toyib mengatakan, A tidak kabur dengan cara melompat dari dalam lapas, melainkan melalui tempat cucian mobil. Lokasi pencucian mobil tersebut berada tepat di depan Lapas Kelas I Tangerang yang dikelola oleh lapas tersebut.

Menurut Agus, A memang memiliki izin untuk keluar dari lapas. Saat berada di tempat cucian mobil, A juga diawasi oleh seorang petugas dari Lapas Kelas I Tangerang. Agus belum mengetahui kronologi A kabur dari lapas itu.

Sementara itu, Plh Kepala Lapas Kelas I Tangerang Nirhono Jatmokoadi berujar, polisi tengah mencari A. Ia mengatakan, kepolisian yang bekerja sama dengan Lapas Kelas I Tangerang adalah Polda Riau.

6. Pengendalian Peredaran Narkoba dari Dalam Lapas

Saat ini, Indonesia tidak hanya sebagai salah satu negara yang menjadi tempat peredaran narkoba, bahkan ditemukan beberapa pabrik pembuatan narkoba. Ini menunjukan begitu besarnya pasar narkoba di Indonesia.

Dampak dari narkoba justru sangat membahayakan karena dapat merusak kesehatan diri, ikatan sosial masyarakat, merusak masa depan dan generasi mendatang. Mereka yang terjerumus sebagai pengguna salah satunya diakibatkan karena faktor lingkungan dan pergaulan yang kurang tepat. 

Pengungkapan kasus narkoba pun sudah banyak dilakukan, beberapa bahkan ada yang di hukum mati. Namun hal itu tak menyurutkan peredaran narkoba di Indonesia, akibatnya lapas di Indonesia menjadi semakin penuh oleh pemakai hingga pengedar narkoba.

Salah satunya terkait dengan peredaran narkoba di dalam lapas, hingga pengendalian peredaran narkoba di lembaga pemasyarakatan (lapas). Padahal, Lapas memiliki pengawasan yang ketat dan peredaran masih terjadi.

Contohnya baru-baru ini, Direktorat Reserse Narkoba Polda Jateng berhasil membongkar jaringan narkotika yang dikendalikan dari Lapas Sragen. Pria berinisial JW itu kembali dijebloskan lagi ke dalam sel karena terlibat jaringan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai Rp 4 miliar yang dibantu oleh seorang kekasihnya bernama Fefe.

"Fefe ini kita tangkap karena dianggap membantu aksi pencucian uang dari hasil peredaran narkoba. Aksi ini sudah berlangsung sejak tahun 2017, saat ini kita masih memperdalam penyelidikan," kata Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi, Rabu 29 Desember 2021.

Pelaku narapidana JW ini rencananya akan bebas pada awal tahun 2022 dari Lapas Sragen kemudian ditahan kembali oleh penyidik Ditresnarkoba Polda Jateng. "Kita perlu koordinasi dengan Kemenkumham untuk memproses penahanannya kembali. Untuk mempermudah penyidikan kita tarik di lapas Semarang," kata dia.

Dari tangan tersangka polisi menyita semua aset rumah mewah empat mobil, tiga motor dan rekening tabungan yang dipegang oleh Fefe. Para tersangka diancam dengan pasal 3, 4, dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang serta pasal 137 huruf (a) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 20 tahun dan denda maksimal 10 miliar rupiah. 

Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pontianak AKBP Ngatiya menyebutkan sekitar 80 persen peredaran narkotika secara nasional, termasuk di Kalimantan Barat, dikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

"Peredaran narkotika secara nasional 80 persen dikendalikan dari lapas, termasuk di Kota Pontianak, baik temuan BNN Provinsi (BNNP) Kalimantan Barat, BNN Kota Pontianak, ataupun Polresta Pontianak itu dikendalikan dari Rutan seperti kasus dari Kapolresta pekan lalu temuan 1,1 kilogram sabu. Ini menunjukkan bahwa kerawanan penyebaran narkoba masih dikendalikan oleh lapas," kata Ngatiya di Pontianak, Rabu 24 Maret 2021.