IFBC Banner

Perdagangan Fisik Emas Digital di E-Commerce, Ini yang Wajib Diketahui Konsumen

Kamis, 03 Februari 2022 – 09:02 WIB

Ilustrasi Emas (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Emas (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews – Dengan perkembangan perdagangan yang ada di Indonesia yang telah merambat kepada digital, kini pembelian emas sudah dapat dilakukan melalui platform e-commerce. Hal ini juga berlaku kepada pembelian emas secara digital yang sudah banyak kita temukan melalui aplikasi jual beli.

Sebagai nasabah, wajib untuk memahami terlebih dahulu mengenai perdagangan fisik emas digital yang dijual melalui e-commerce yang diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 13 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pengawas Berjangka Komoditi Nomor 4 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Emas Digital di Bursa Berjangka (Perka Bappebti 13/2019).

Pertama, Indonesia mengenal dua jenis transaksi emas digital, yaitu transaksi pasar fisik dengan penyepadanan atau matching di bursa berjangka, atau transaksi pasar fisik dengan penyepadanan pada pedagang fisik emas digital dan wajib terhubung langsung ke bursa berjangka dan lembaga kliring berjangka. Untuk perdagangan via e-commerce, dikategorikan sebagai penyepadananan pada pedagang fisik emas digital. Pedagang emas digital dimaksud, wajib terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran dokumen, serta pemeriksaan fisik sarana dan prasarana guna memperoleh persetujuan yang akan dikeluarkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Kedua, emas yang diperdagangkan wajib memenuhi ketentuan kadar emas paling rendah 99.99% (sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen), memiliki sertifikat yang mencangkup kode seri emas, logo dan berat, serta satuan emas dalam berat 1 gram, 2 gram, 5 gram, 10 gram, 25 gram, 50 gram, 100 gram, 250 gram dan 1.000 gram. 

Ketiga, mengenai kepemilikan dan pengelolaan emas oleh pedagang emas fisik digital. Emas yang dikelola oleh pengelola tempat penyimpanan emas yang berada di wilayah Republik Indonesia, emas yang disimpan dilarang berasal dari pinjaman pihak ketiga, pengelola tempat penyimpanan bertanggung jawab atas emas yang disimpan pada tempat penyimpanan yang dikelolanya sehingga apabila terjadi kerusakan, bukan merupakan tanggung jawab konsumen.

 

 

Penulis: Hans Gilbert Ericsson