IFBC Banner

Dorce Gamalama Meninggal Dunia, Bagaimana Kedudukan Hak Mewaris Anak Angkat?

Rabu, 16 Februari 2022 – 14:30 WIB

Dorce Gamalama bersama anak angkatnya (Foto: Istimewa)

Dorce Gamalama bersama anak angkatnya (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kabar duka tengah menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Artis Dorce Gamalama meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina Simprug pada Rabu 16 Februari 2022. Setahun terakhir, Dorce sudah bolak balik menjalani perawatan di rumah sakit. Sebelum divonis Covid-19 ia mengidap demensia alzheimer dan menderita diabetes dengan kurun waktu yang cukup lama.

Dorce Gamalama meninggalkan empat anak adopsi. Mereka adalah Rizky Sutrisno Kidjo, Siti Khadijah, Siti Fatimah Tuzzahrah dan Abu Ramadhani.

Lantas, bagaimana nasib anak angkat Dorce?

 

Sebagaimana dijelaskan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf (h) :

"Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan".


Syarat anak yang akan diangkat, meliputi:

-belum berusia 18 tahun;
-merupakan anak terlantar atau ditelantarkan;
-berada dalam asuhan keluarga atau dalam lembaga pengasuhan anak; dan
-memerlukan perlindungan khusus.

Sedangkan Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.

Siapa saja orang yang berhak mendapatkan warisan? Perlu diketahui kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari :

a. Menurut hubungan darah :
- Golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.
- Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari: duda atau janda.
- Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya : anak, ayah, ibu, janda atau duda.

UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Pengangkatan Anak, sebagaimana diubah UU Nomor 35 Tahun 2014 menganut prinsip the best interest of the child, untuk kepentingan terbaik si anak. Berkaitan dengan hak waris, Pasal 39 UU Perlindungan Anak penting untuk dicatat: Pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya.

KUH Perdata tidak mengatur secara khusus hak waris anak angkat, tetapi ia berhak mendapatkan bagian melalui hibah wasiat. 

Anak angkat menurut hukum kewarisan bukan termasuk ahli waris, karena secara biologis tidak ada hubungan kekeluargaan antara anak angkat dengan orangtua angkatnya kecuali anak angkat itu diambil dari keluarga orangtua angkatnya.

Dikarenakan tidak termasuk ahli waris, maka anak angkat tidak mendapatkan bagian sebagai ahli waris dari warisan orangtua angkatnya.

Hanya saja, anak angkat akan mendapat wasiat wajibat untuk mendapatkan harta warisan orangtua angkatnya.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh KHI dalam pasal 209 ayat (a) :”Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orangtua angkatnya”.

Pengangkatan anak, adopsi, selayaknya dilakukan dengan sebuah putusan Pengadilan. Dengan menggunakan putusan Pengadilan maka dapat dijadikan sebagai bukti autentik tentang adanya pengangkatan anak. Bila dikemudian hari ada sengketa tentang pengangkatan anak tersebut maka putusan Pengadilan dapat dijadikan sebagai alat bukti.