IFBC Banner

Heboh Desainer RI Terseret Perdagangan Organ Manusia, Begini Aturan Hukumnya

Kamis, 24 Februari 2022 – 13:18 WIB

Ilustrasi hukum (Foto: Istimewa)

Ilustrasi hukum (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Seorang desainer ternama asal Indonesia terseret dugaan kasus jual beli organ manusia. Hal itu terungkap setelah Polisi Federal Brasil mengusut dugaan perdagangan organ tubuh manusia secara internasional.  

Dalam operasi anti perdagangan manusia ini, polisi menemukan ada tangan manusia dan tiga paket plasenta manusia. Anggota tubuh itu sudah dikemas dan siap dikirim ke Singapura. Pemesannya diduga adalah desainer terkenal Indonesia berinisial AP.

Praktik jual tubuh dan donor organ di Indonesia bukanlah barang baru. Bisnis satu ini disebut-sebut jadi bisnis yang menggiurkan karena menghasilkan keuntungan yang begitu besar. Hal tersebut dikarenakan ada pihak yang membutuhkan donor organ dan pihak lain sebagai pendonor menjual dengan harga ratusan juta.

Dikarenakan harganya yang fantastis, banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan organ tersebut. Mulai dengan mereka yang sengaja menjualnya karna faktor dan sebab tertentu, menculik, hingga membunuh.

Hal tersebut mendorong terjadinya donor organ tubuh secara ilegal sehingga muncul kasus jual beli organ manusia.

Berbagai negara di dunia melarang praktik jual beli organ manusia. Penjualan organ di pasar gelap pun menjadi hal yang tak dapat terhindarkan. 

Di Amerika Serikat, setidaknya ada 123.000 orang yang membutuhkan organ tubuh.

Melansir Seeker, menyebutkan bahwa jika anda bisa menjaga setiap organ tubuh dan bahan kimia di tubuh anda, anda bisa menghasilkan US$ 45 juta atau sekitar (Rp 633 miliar).

Terdengar fantastis bukan?

Tahukah kamu, organ dengan nilai terbesar yang dijual secara legal di AS adalah bagian hati. Hati dengan kualitas nomor satu maka akan dihargai US$ 1 juta (Rp 14 miliar).

Sementara Hati yang berkualitas di urutan kedua, bernilai sekitar $ 557.000 (Rp 7,8 miliar). Sedangkan untuk masing-masing ginjal bernilai sekitar $ 262.000 (Rp 3,6 miliar).

Namun, di pasar gelap, harga tersebut jauh lebih rendah, mungkin 10% dari biaya di atas. Di AS sendiri, saat ini terdapat 123.000 orang menunggu organ (100.000 untuk ginjal), tetapi hanya sekitar 14.000 organ yang tersedia per tahun.

Lantas, bagaimana aturan hukum penjualan organ tubuh manusia di Indonesia?

Sebetulnya ketentuan tersebut dapat kita temukan dalam Pasal 204 KUHP, yang berbunyi:

“Barang siapa menjual, menyerahkan atau membagi-bagikan barang yang diketahuinya membahayakan nyawa atau kesehatan orang, padahal sifat berbahaya itu tidak diketahui, diancam dengan pidana paling lama 15 (lima belas) tahun”.

Diatur pula dalam Pasal 64 (3) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang berbunyi:

"Organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun."

Adapun hukumannya, pidana penjara paling lama 10 tahun sebagaimana diatur dalam Pasal 192.

“Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau jaringan tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”

Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca. Hanya saja transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud tersebut hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan.