IFBC Banner

Ingat Serial Layangan Putus? Pantesan Lidya Danira Mau Jadi Istri Sah Seperti Kinan, Ini Alasannya!

Selasa, 08 Maret 2022 – 16:15 WIB

Ilustrasi pernikahan (Foto: Istimewa)

Ilustrasi pernikahan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Layangan Putus yang diangkat dari novel karya Mommy ASF menjadi salah satu serial populer dan mendapatkan banyak perhatian di kalangan penikmat film di Indonesia. Drama series ini menceritakan isu yang begitu dekat dengan masyarakat yakni kondisi rumah tangga yang tak selalu berjalan mulus. Salah satunya adalah perselingkuhan oleh salah satu pasangan. 

Dikisahkan, rumah tangga Aris dan Kinan yang mempunyai satu anak perempuan begitu harmonis dan bahagia. Namun, di tengah keharmonisan tersebut ada kehadiran pihak ketiga yakni Lydia Danira.

Segala cara dilakukan agar dia bisa menjadi istri sah Aris. Rumah tangga Kinan dan Aris pun tak lagi utuh bahkan berada di ujung tanduk, perceraian.

Merasa rumah tangga nya tak lagi dapat dipertahankan, Kinan melaporkan Aris dan Lidya ke polisi karena perselingkuhan. Tentu saja hal ini menarik untuk diulas secara hukum. Banyak yang bertanya-tanya, apa yang membuat Lydia ingin merebut posisi Kinan sebagai istri sah? Bagaimana perselingkuhan bisa dipidanakan di Indonesia?

Hukum di Indonesia memungkinkan perselingkuhan yang dilakukan oleh suami atau istri sah secara hukum bisa dituntut sebagai tindak pidana.

Kinan sebagai istri sah dari Mas Aris melaporkan Aris dan Lidya atas tuduhan Pasal 284 ayat (1) KUHP tentang gendak (overspel) selama memiliki bukti yang kuat. 

Gendak (overspel) adalah persetubuhan antara laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya, atau singkatnya terjadi zina/perzinahan.

Pasal 284 ayat (1) KUHP sendiri tergolong pasal tindak pidana delik aduan (klacht delict). Proses penuntutan atau pelaporan tindak pidana gendak (overspel) hanya dapat dilakukan atas pengaduan salah satu pihak, suami atau istri.

Nah, apa aja sih hak yang didapat istri sah?

1. Menjadi ahli waris jika suami meninggal 

Dalam hal suami meninggal dunia dan tidak ada perjanjian pisah harta, maka istri berhak atas separuh harta bersama sebagai bagian miliknya, sedangkan sisanya menjadi harta yang diwariskan kepada ahli waris suami. Dalam hal ini, bagian istri yang ditinggal mati disamakan dengan seorang anak sah.

2. Mendapat bagian harta bersama jika bercerai 

Pasal 128 KUH Perdata:

Setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan isteri, atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.

3. Mendapat perlindungan dari KDRT

Pasal 5 UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT:


Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara : (a). kekerasan fisik; (b). kekerasan psikis; (c). kekerasan seksual; atau (d). penelantaran rumah tangga.

4. Mengajukan gugatan nafkah ke suami tanpa gugatan cerai

Sesuai Pasal 34 ayat (3) UU Perkawinan:

“Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.”

Kewajiban suami terdapat dalam pasal 34 Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 yang menentukan :


(1) Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.