IFBC Banner

Seluk Beluk Zakat Fitrah: Dasar Hukum, Syarat hingga Bentuknya yang Wajib Muslim Ketahui

Sabtu, 16 April 2022 – 06:00 WIB

Ilustrasi zakat fitrah

Ilustrasi zakat fitrah

JAKARTA, REQnews - Tak hanya berpuasa selama satu bulan penuh saja, umat Muslim saat Ramadan tiba juga diwajibkan menunaikan zakat fitrah.

Perintah membayar zakat fitrah ini bukan tanpa dasar. Rasulullah Muhammad SAW yang dalam riwayat secara langsung mempraktikkannya.

Dasar Hukum Membayar Zakat Fitrah

Mengutip berbagai sumber, dalil yang menjelaskan hukum wajib bagi setiap Muslim membayar zakat fitrah adalah hadis dari Ibu Umar ra.

”Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis lain yang menjelaskan hukum membayar zakat fitrah disampaikan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata,

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Syarat Seorang Muslim Wajib Membayar Zakat Fitrah

Sebenarnya, tidak semua Muslim diwajibkan membayar zakat fitrah. Adapun seorang Muslim yang diwajibkan menunaikannya hanyalah yang memenuhi syarat berikut:

  1. Setiap muslim, karena untuk menutupi kekurangan puasa yang diisi dengan perkara sia-sia dan kata-kata kotor, dan
  2. Yang mampu mengeluarkan zakat fitrah.

Batasan mampu ini menurut para ulama adalah Muslim yang memiliki kelebihan makanan bagi dirinya, dan yang diberi nafkah pada malam dan siang hari ied.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam." (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Menurut Imam Malik, ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, seorang suami juga bertanggung jawab atas zakat fitrah dari istrinya, karena istri menjadi tanggungan nafkah suami.

Bentuk Zakat Fitrah yang Wajib Ditunaikan

Para ulama tersohor dari berbagai mazhab sepakat bahwa zakat fitrah yang diberikan adalah berupa makanan pokok, seperti gandum, kurma maupun beras, dan lainnya.

Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dengan satu sho’ kurma atau gandum karena dua makanan ini adalah makanan pokok bagi penduduk Madinah.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah, bagaimana jika zakat fitrah berupa bahan pokok diganti dengan uang?

Para ulama terpecah pendapat terkait persoalan ini. Beberapa ulama Malikiyah dan Hanabilah tidak mengizinkan penyaluran zakat fitrah berupa bahan pokok diganti bentuknya menjadi uang, karena tidak ada dalil yang menjadi dasarnya.

Sementara ulama Hanafiyah, Ja'fariyah, dan beberapa mazhab lainnya memperbolehkan penggantian bahan pokok menjadi uang sebagai zakat fitrah.

Berapa jumlah zakat fitrah yang wajib dibayarkan?

Di Indonesia, zakat fitrah secara resmi dikelola oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Beberapa organisasi keislaman lainnya seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah juga memiliki lembaga amil zakatnya masing-masing.

Umumnya, zakat fitrah di Indonesia dibayar menyesuaikan dengan bahan pokok beras.

Merujuk takaran zakat fitrah beras yang ditentukan oleh Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS) 2,5 kg. Jika Anda ingin mengeluarkan zakat fitrah beras, maka siapkan beras dengan berat 2,5 kg atau setara dengan 3,5 liter per jiwa.

BAZNAS menerima uang sebagai pengganti zakat fitrah beras.