Tolak Keras Proyek Pengeboran Geothermal, Warga Wae Sano Desak Bank Dunia Hentikan Pendanaan

Selasa, 10 Mei 2022 – 13:01 WIB

Warga Wae Sano tolak keras proyek geothermal.

Warga Wae Sano tolak keras proyek geothermal.

JAKARTA, REQnews - Warga Wae Sano—yang terdiri dari warga tiga kampung adat yaitu Dasak, Nunang dan Lempe—menyampaikan apresiasi kepada Bank Dunia yang bersedia mendatangi dan melakukan pertemuan sebagai tanggapan atas surat penolakan mereka sebelumnya terhadap terhadap proyek Geothermal yang didanai Bank Dunia.

"Ini adalah momen yang sudah lama kami tunggu, sejak Bank Dunia berjanji untuk bertatap muka dengan kami sebagai tanggapan atas surat yang kami kirim pada Februari 2020. Kami menilai bahwa kunjungan ini adalah bentuk perhatian serius dari Bank Dunia sebagai pemberi dana untuk proyek Geothermal ini terhadap persoalan yang sedang kami alami," demikian ungkap pihak warga Wae Sano dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa, 10 Mei 2022.

Dalam pertemuan tersebut, warga Wae Sano sekali lagi dan dengan tegas menyatakan bahwa mereka menolak pengeboran panas bumi di wilayah ruang hidupnya di Wae Sano dan mendesak Bank Dunia untuk membatalkan dukungan dana terhadap proyek ini.

Alasan mendasar dari penolakan ini adalah karena proyek geothermal ini mengancam keutuhan ruang hidup masyarakat setempat.

"Titik-titik pengeboran yang sudah ditetapkan berada di tengah-tengah ruang hidup kami. Yang kami maksudkan dengan ruang hidup adalah kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan antara pemukiman (golo lonto, mbaru kaeng, natas labar), kebun pencaharian (umat duat), sumber air (wae teku), pusat kehidupan adat (compang takung, mbaru gendang), kuburan leluhur (lepah boak) dan hutan (puar) dan danau (sano). Sebab itu, kami menolak semua titik pengeboran (well pad) yang sudah ditetapkan baik Kampung Lempe, Nunang maupun Dasak," lanjutnya.

"Kami mengetahui bahwa Bank Dunia terikat oleh prinsip 'Persetujuan Tanpa Paksaan berdasarkan Informasi yang Lengkap Sebelumnya' (Free, Prior and Informed Consect, FPIC). Kami tegaskan bahwa sudah sejak awal kami tidak pernah sekalipun memberi persetujuan atas proyek geothermal Wae Sano. Kami sudah menyampaikan hal itu dalam surat yang telah kami kirim kepada Bank Dunia pada Februari 2020 dan Juli 2021. Meskipun Pemerintah dan Perusahaan berkali-kali memaksa, membujuk dan merayu kami, bahkan memanipulasi suara penolakan kami, semua itu tidak pernah mengubah sikap penolakan kami terhadap proyek geothermal Wae Sano hingga detik ini," ungkap warga Wae Sano lagi.

Di hadapan delegasi Bank Dunia, masyarakat Wae Sano juga hendak menyampaikan bahwa saat ini mereka hidup di dalam situasi cemas dan penuh ketakutan, karena proyek ini terus dipaksakan dengan berbagai cara. Mereka yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan.

Mereka juga menegaskan bahwa kalau ada pihak-pihak seperti lembaga agama dan kelompok konsultan yang memberikan rekomendasi melanjutkan proyek pengeboran Geothermal ini, hal itu adalah bentuk manipulasi dan pemaksaan kehendak. Karena mereka tidak mendapat persetujuan dari warga yang terkena dampak langsung dari proyek ini.

Jika beredar isu bahwa penolakan proyek geothermal ini karena dihasut oleh pihak lain, mereka menegaskan bahwa suara penolakan warga ini sama sekali bukan karena dihasut atau dipengaruhi oleh pihak manapun.

"Alasan penolakan kami sangat jelas yaitu ingin mempertahankan ruang hidup kami. Karena itu, semoga dengan tatap muka ini, Bank Dunia makin memahami alasan mendasar sikap penolakan kami," tegas warga Wae Sano.

"Akhirnya sekali lagi kami Warga Wae Sano yang terdiri dari penduduk di kampung adat Dasak, Nunang dan Lempe menyatakan dengan tegas bahwa kami menolak pengeboran Geothermal di dalam ruang hidup kami dan meminta Bank Dunia menghentikan dukungan dana untuk proyek ini. Terima kasih," tandasnya.