Penataan Interior Istana Kepresidenan Era Soekarno, Soeharto, dan Habibie

Minggu, 22 Maret 2020 – 01:05 WIB

Penataan Interior Istana Kepresidenan Era Soekarno, Soeharto, dan Habibie (Foto: Setkab)

Penataan Interior Istana Kepresidenan Era Soekarno, Soeharto, dan Habibie (Foto: Setkab)

JAKARTA, REQnews - Sejak menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945, hingga saat ini Indonesia telah memiliki tujuh Presiden yang juga menjadi tuan rumah bagi Istana-Istana Kepresidenan yang tersebar di lima wilayah.

Istana-istana dimaksud adalah Istana Negara dan Istana Merdeka yang berada di Jakarta, Istana Kepresidenan Bogor dan Istana Kepresidenan Cipanas di Jawa Barat, Istana Kepresidenan Yogyakarta yang banyak dikenal dengan Gedung Agung, Istana Kepresidenan Tampaksiring di Bali dan satu lagi tempat peristirahatan di Pelabuhan Ratu yang bernama Pesanggrahan Tenjoresmi.

Setiap presiden yang sedang berkuasa, mengatur dan mengelola Istana-istana tersebut sesuai dengan selera dan gaya pribadinya.

Masa Pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1966)

Presiden pertama Republik Indonesia dikenal sangat dekat dengan kesenian, terutama seni rupa. Kedekatannya dengan dunia seni rupa telah membawa Bung Karno menjadi kolektor sejati. Selama masa pemerintahannya setidaknya telah mengoleksi karya seni rupa sebanyak 2.200 koleksi.

[1]Koleksi tersebut tersebar di semua istana. Untuk mengurusi koleksi sebanyak itu, Bung Karno mengangkat Dullah sebagai seorang Pelukis Istana yang kemudian digantikan oleh Lee Man Fong dan Lim Wasim, setelah pada tahun 1960 Dullah mengundurkan diri sebagai pelukis istana.

Pengangkatan dua pelukis beretnis China ini erat hubungannya dengan situasi politik pada masa itu yang beraroma poros Jakarta-Peking. Meskipun memiliki pelukis Istana, bung Karno punnya konsep pribadi yang kuat sehingga secara merdeka, ia bertindak semaunya sendiri yang pada akhirnya melahirkan pertengkaran dengan pelukis istana yang ia angkat dan telah diberikan mandat.

Sebagai seorang yang paham betul ilmu interior dan pertamanan, Bung karno hanya mau mendisplai karya dengan teknik yang perfek dan indah secara visual, seperti yang sering dikemukakannya: ”a thing of beauty is joy forever”. Penempatan koleksi benda seni tidak hanya terkait dengan sisi estetikanya, melainkan juga berhubungan dengan tema yang tersurat dalam setiap karya. Lukisan yang bertema revolusi misalnya, banyak didisplai di Istana Merdeka dan Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Istana Negara diisi dengan benda seni yang berasal dari berbagai negara. Istana Kepresidenan Bogor dan Istana Kepresidenan Cipanas banyak diisi dengan karya seni bertema keindahan alam, dan Istana Kepresidenan Tampaksiring banyak dihiasi koleksi bertema Bali. Sementara itu apabila kita melihat dinding kamar istana, kita akan dapat menikmati lukisan bunga dan wanita cantik dan seksi yang dengan ramah menyapa kita.

Satu hal yang unik dan menarik dari Bung Karno adalah ingatannya yang sangat kuat tentang benda-benda koleksinya sehingga ia sangat hafal dimana letak koleksi itu didisplai. Salah satu contoh misalnya ketika pada tahun 1961 lukisan Jenderal Sudirman karya Yoes Soepadyo tidak berada di tempat biasanya, ia memanggil Lim Wasim, Hardjo Walujo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan, dan beberapa pegawai istana.

Pada saat itu dengan ekspresi yang menunjukkan rasa marahnya, Bung Karno mengatakan, “Jangan-jangan kalian semua maling! Maling!”. Pada masa pemerintahan Sukarno, Istana-istana Kepresidenan menjadi layaknya sebuah museum seni rupa yang menyuguhkan sajian karya seni bermutu tinggi baik itu lukisan, patung, keramik, maupun seni kriya. Bung Karno menyediakan ruang khusus yang difungsikan sebagai gudang tempat untuk menyimpan karya-karya yang belum atau tidak bisa didisplai.

Masa Pemerintahan Presiden Soeharto (1966-1998)

Presiden kedua menempati Istana Kepresidenan selama 32 tahun. Presiden Soeharto yang tidak memahami seluk-beluk karya seni, tidak mengubah sebagian besar karya yang diwariskan oleh Bung Karno yang telah didisplai di dinding-dinding istana.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Lim Wasim, “Pak Harto tidak mengubah sebagian pajangan di semua istana. Pak Harto seperti percaya bahwa peletakan benda seni yang dilakukan Bung karno itu ada perhitungan mistiknya. Takut kualat. Tapi di sisi lain Pak Harto tidak memedulikan koleksi benda seni yang tidak terpajang.

Akibatnya beberapa lukisan dan keramik hilang”. Pak Harto kemudian menyarankan agar dibentuk Sanggar Seni Rupa Istana Presiden, ketika menyadari bahwa di istana banyak maling. Dengan terbentuknya Sanggar Seni Rupa, maka semua benda seni di istana menjadi tanggung jawab Sanggar Seni Rupa.

Pak Harto yang menyadari bahwa dirinya tidak memahami tentang dunia seni, kemudian mengangkat Joop Ave, sebagai orang yang diberikan kepercayaan untuk mengatur seluruh kompleks istana. Pada masa inilah kemudian keindahan istana ditata sesuai dengan gaya Joop Ave, yaitu penataan istana yang bertema Jawa dengan mengangkat ukiran Jepara sebagai elemen setetis.

Ibu Tien yang pada saat itu menjadi Ibu Negara menginstruksikan untuk memindahkan semua lukisan dan patung yang bertema telanjang (nude), maka ”hitungan mistik” Bung Karno sudah tidak dipedulikan lagi.

Itu sebabnya, mengapa hampir separuh masa pemerintahan Soeharto lukisan dan patung telanjang (nude) itu disekap dalam ruang tertutup di Istana Kepresidenan Bogor. Terdapat puluhan lukisan wanita cantik karya Basoeki Abdullah, Antonio Blanco, Giovanetti dan sejumlah pelukis potret manca negara yang memiliki keahlian yang luar biasa dan hampir semuanya terbuat dari cat minyak dengan kemasan pigura yang apik, dengan gaya realis fotografis terpelihara dengan cukup baik di “ruangan khusus”.

Apa yang dilakukan oleh Ibu Tien, akhirnya diikuti juga oleh Pak Harto yang kemudian memindahkan lukisan Jenderal Soedirman karya Yoes Supadyo, sebuah lukisan yang menjadi lukisan favorit Bung Karno ke Ruang Jepara, sebuah ruangan yang besar yang digunakan untuk menerima tamu-tamu negara.

Alasan pemindahan lukisan ini adalah sebagai sebuah penghormatan yang bersifat historikal, karena Jenderal Soedirman adalah komandan Pak Harto pada era revolusi di Jawa Tengah.

Masa Pemerintahan Presiden BJ. Habibie (1998-1999)

Bacharuddin Jusuf Habibie yang menjadi Presiden RI ketiga, disamping sebagai orang yang ahli dalam bidang pesawat terbang ternyata juga memiliki hobi di bidang fotografi. Dari sejumlah karya yang dihasilkannya yang jumlahnya mencapai ribuan, ia dapat dikatakan sebagai orang yang memiliki jiwa seni. Dapat dipastikan, ia memiliki visi untuk menata interior dan eksterior istana.

Namun demikian sangat disayangkan karena kesibukannya yang begitu hebat, dalam hal penataan keindahan istana kemudian diserahkan kepada Kepala Rumah Tangga Kepresidenan yang kala itu dijabat oleh Maftuh Basyuni. Namun demikian, BJ. Habibie sempat memberikan warna di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, khususnya Istana Merdeka.

Yang dilakukannya adalah dengan menurunkan dua buah lukisan karya Basoeki Abdullah yang berjudul Gatotkaca dan Pergiwa Pergiwati dan Joko Tarub dari dinding ruang resepsi Istana Merdeka.

Perihal keinginan untuk menurunkan dua lukisan tersebut sebenarnya telah ada sejak dirinya menjabat sebagai Wakil Presiden. Kedua lukisan yang berukuran besar itu diturunkan karena menampilkan gambar wanita-wanita cantik dan sensual yang dapat “mengganggu pikiran” penghuni ruangan.

Alhasil, dinding lebar yang kosong itu kemudian diisi dengan dua cermin besar, walaupun kemudian banyak orang yang terperanjat dengan apa yang dilakukan oleh Presiden ke-3 RI ini karena dianggap sesuatu yang aneh. Tidak pernah ada di manapun di dunia ini cermin raksasa dipasang ditengah ruang resepsi.

Hal lain yang dilakukan oleh Habibie adalah melakukan renovasi pada bagian belakang Istana Merdeka. Bagian dinding yang dulunya terdapat kaca, dibongkar dan kemudian diubah menjadi serambi. Pembongkaran dinding berkaca itu dilakukan karena dianggap menciptakan sekat. Dinding serambi itu kemudian dipahat dengan relief kaligrafi arab yang terbuat dari gipsum.

Habibie yang dikenal sebagai sosok yang islami disamping menjadi presiden juga menjadi pimpinan tertinggi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada saat itu.

[1] Agus Dermawan T, Sihir Rumah Ibu Menyidik Sosial Politik dengan Kacamata Budaya, (Jakarta:Kepustakaan Populer Gramedia, 2014),p.66.

Sumber