Batik Belanda, Tenggelam dalam Sejarah Indonesia

Minggu, 29 Maret 2020 – 07:01 WIB

Batik Belanda, Tenggelam dalam Sejarah Indonesia (Foto: Istimewa)

Batik Belanda, Tenggelam dalam Sejarah Indonesia (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Apa pendapat kalian jika mendengar Batik Belanda? Pasti jawabannya, tidak mungkin bangsa Eropa bisa punya warisan Batik yang notabene hanya dimiliki Indonesia.

Eits tunggu dulu! Keberadaan Batik Belanda benar adanya. Bahkan sebelum penutupan Museum Nusantara di Delft, pada 2013, Louise Rahardjo mengadakan pameran tentang batik dengan padanan barat dari batik tradisional Indonesia.

Adalah Franquemont, wanita India pertama yang memulai lokakarya batik kecil di Oengaran di Jawa Tengah pada tahun 1850. [i] Batik Franquemont dengan cepat menjadi populer di kalangan penduduk Belanda dan India di seluruh nusantara.

Saat itu Franquemont bekerja dengan pedagang Arab dan Cina dan menerima kapas dan bahan-bahan lain dari mereka, seperti lilin, pin cuci ( cantings ) dan pewarna alami. Bengkel batik Jawa tidak mengantisipasi permintaan batik yang tumbuh cepat dengan motif barat.

Banyak wanita yang pertama kali memesan batik dari bengkel-bengkel Jawa segera memulai bengkel mereka sendiri dengan karyawan Jawa. Sebagai imbalannya, mereka membeli kain batik dengan harga khusus dengan biaya bahan dikurangi.

Kala itu, banyak wanita Belanda 'magang' untuk pembatik Jawa. Perlahan kerajinan ini mulai tumbuh menjadi bengkel-bengkel batik kecil, yang didasarkan pada pembatik Jawa.

Bahan-bahan mereka juga disediakan oleh pedagang Arab dan Cina. Agar tidak kehilangan para pembatik Jawa ke bengkel-bengkel batik lainnya, sang pemilik membayar upah tinggi kepada bintang batik itu di atas upah pertama.

Para pedagang kemudian menjual batik di kota-kota besar seperti Semarang, Yogyakarta dan Batavia. Beberapa batik bahkan diekspor dari Batavia ke pulau-pulau lain, Singapura dan Belanda.



[i] Veldhuisen, HC, Blue dan beraneka ragam; Pengaruh Cina dan Eropa pada batik Jawa. Koleksi Harmen Veldhuisen, dipamerkan dari 20 September hingga 1 Desember 1980 di Museum Etnologi “Nusantara”, Delft 1980, 16