Mengenal Pulau Poveglia, Tempat Persembunyian hingga Karantina Penderita Pes

Minggu, 17 Mei 2020 – 11:01 WIB

Mengenal Pulau Poveglia, Tempat Persembunyian hingga Karantina Penderita Pes

Mengenal Pulau Poveglia, Tempat Persembunyian hingga Karantina Penderita Pes

POVEGLIA, REQnews - Pulau Poveglia memiliki rekam jejak yang cukup kelam dalam sejarah Italia. Pulau yang terletak di antara Venesia dan Libo di laguna Italia ini mulanya menjadi tempat persembunyian segerombolan orang Eropa sekitar tahun 421 dari kejaran Jerman dan gerombolan barbar Hun.

Pada abad ke-9, populasi di Poveglia semakin berkembang. Memasuki abad ke-14, Pulau Poveglia menjadi benteng pertahanan untuk menghancurkan kapal-kapal musuh yang ingin masuk ke Venesia.

Namun era keemasan pulau ini memudar, kala wabah pes atau Black Death melanda Eropa. Kebijakan karantina pun diberlakukan, Italia pun menjadikan Poveglia sebagai pulau karantina. 

Ya, layaknya corona saat ini yang belum ditemukan obatnya, pasien wabah pes harus menunggu 40 hari untuk dinyatakan sehat atau terinfeksi di pulau ini. Kebanyakan dari pasien justru meninggal karena buruknya fasilitas kesehatan di sana.

Para tenaga medis menggunakan jubah hitam sebagai APD dan topeng burung gagak sebagai masker dan berpatroli di Poveglia. Bau jenazah yang menyengat mengharuskan para dokter memakai wewangian dan ramuan di paruh topeng gagak untuk mencegah bakteri.

Kematian massal terus terjadi. Warga Poveglia yang sudah mulai frustrasi akhirnya membakar mayat-mayat pasien dari wabah ini. Totalnya ada 160.000 mayat yang dibakar di pulau mungil tersebut.

Seiring dengan berlalunya Black Death, pulau ini pun dijauhi warga Venesia. Bahkan, para nelayan enggan untuk mencari ikan di sekitar pulau karena seringkali mendapatkan tengkorak atau tulang manusia.

Lalu di tahun 1922, nama Poveglia kembali santer di Venesia. Sebuah rumah sakit jiwa dibangun di sana. Kabar yang beredar pengelola dari rumah sakit tersebut juga seorang dokter yang gila dan jahat.

Konon, semua pasien rumah sakit di jadikan sebagai bahan eksperimennya. Dokter tersebut menggunakan palu dan bor untuk melihat isi otak pasiennya.

Para pasien rumah sakit pun mencoba meloloskan diri dan memberitahu warga Venesia. Namun, omongan para pasien tak ada yang dipercaya karena sudah dianggap gila.

Nasib sang dokter sendiri tak lebih sial, dia dinyatakan tewas setelah jatuh dari menara lonceng. Ada yang bilang dia bunuh diri atau dilempar oleh para pasien dari menara.

Sejak saat itu, Poveglia ditutup untuk publik. Beberapa kali pemerintah Italia ingin mengubah pandangan soalpulau ini. Tapi, orang-orang yang kembali dari sanamengaku tak tahan dengan Poveglia. Setiap malam, mereka akan mendengar jeritan dan melihat penampakan.

Hingga kini Poveglia hanya dijadikan sebagai kawasan ternak. Tak ada yang boleh masuk ke Poveglia apalagi sekedar iseng jalan-jalan. Kalau ketahuan, kamu bisa kena sanksi karena perbuatan tersebut ilegal. (Bins)