IFBC Banner

Berwisata ke Permukiman Suku Bajo di Wakatobi

Rabu, 23 September 2020 – 06:00 WIB

Permukiman Suku Bajo di Wakatobi

Permukiman Suku Bajo di Wakatobi

JAKARTA, REQnews - Mendengar kata Wakatobi, imajinasi kita akan tertuju pada pesona bawah lautnya yang sangat eksotis dengan terumbu karang yang masih alami dan hamparan pantai yang begitu menyejukkan mata. Tak heran, jika sekarang pulau ini sudah menjadi taman wisata laut nasional.

Bahkan, wisata taman laut Wakatobi sudah semakin banyak dikunjungi wisatawan. Wakatobi adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Tenggara. Ibu kota kabupaten ini terletak di Wangi-Wangi. Bentuk wilayahnya berupa kepulauan. Wakatobi merupakan singkatan dari empat pulau, yakni Pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia dan Pulau Binongko.

Wakatobi dulu adalah Kepulauan Tukang Besi yang sekarang telah berubah nama menjadi Pulau Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Penduduk asli wakatobi adalah Suku Bajo, yang tersebar di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan dengan jumlah penduduknya 23,37%, berada di Kecamatan Wangi-Wangi 19,05%, berada di Kecamatan Kaledupa 17,86% berada di Kecamatan Tomia dan 15,01% berada di Kecamatan Binongko.

Selain laut, ternyata banyak tradisi Suku Bajo yang menarik untuk diketahui dan menjadi objek wisata. Suku Bajo sangat kaya akan keunikan. Di antara keunikannya adalah, Suku Bajo menjadikan perahu atau sampan sebagai tempat tinggal sekaligus alat transportasi utama. Lebih dari itu, sampan juga digunakan sebagai tempat untuk mencari nafkah, yaitu dengan menjual hasil tangkapan laut yang merupakan mata pencaharian utama Suku Bajo.

Kaum Ibu di Suku Bajo juga memiliki kerajinan kain tenun tradisional sebagai kegiatan ekonomi mereka. Kain Ledja dan Kasopa ditenun dengan alat-alat tradisional dengan berbagai motif khas Suku Bajo. Mereka lebih percaya kepada kearifan lokal dari pada instrumen-instrumen modern yang berkembang masif di luar kebudayaan laut Suku Bajo di Wakatobi.

Suku Bajo juga memiliki kearifan lokal dalam melaut dan mengambil hasil laut. Mereka selalu memilih dan mengambil ikan yang usianya sudah matang dan membiarkan ikan-ikan yang masih kecil dan muda untuk tumbuh dewasa. Mereka juga tidak mengambil jenis ikan tertentu yang tengah memasuki siklus musim kawin maupun bertelur untuk menjaga keseimbangan populasi dan regenerasi spesies tersebut.

Suku Bajo umumnya sangat ramah dalam menyambut para wisatawan yang berkunjung ke Wakatobi. Pada saat wisatawan datang, maka akan mereka akan sambut dengan ritual penyambutan yang masih khas. Setelah puas berenang, mengamati lumba-lumba dan diving menikmati keindahan bawah laut Wakatobi, wisatawan juga bisa mengenal lebih dekat Kampung Suku Bajo yang dikenal sebagai kampung suku pengembara laut.

Di perkampungan Suku Bajo, pada pagi sampai siang hari, wisatawan bisa menyusuri gang-gang sempit untuk melihat dari dekat kehidupan suku Bajo sehari-hari. Orang dewasa menjemur hasil tangkapan berupa ikan dan teripang. Ada pula kegiatan warga membuat perahu. Sedangkan anak-anak bercanda ria, bermain-main dengan permainan tradisional seperti egrang dan sebagainya. Sambil berjalan-jalan, wisatawan juga bisa membeli hasil kerajinan warga berupa kacamata renang, kerajinan dari kerang, tas, dompet hingga sarung khas Bajo.

Menjelang sore, wisatawan siap-siap mendapatkan sensasi yang tak terlupakan yakni bersampan menggunakan perahu khas Bajo di Desa Mola Nelayan Bakti mendatangi keramba, memancing ikan, melihat kehidupan nelayan mengolah hasil laut seperti ikan dan lobster untuk diekspor. Saat matahari bersiap-siap kembali ke peraduannya, perahu akan menyusuri kanal-kanal memasuki perkampungan suku Bajo. Sepanjang sore, biasanya warga duduk-duduk di depan rumah mereka yang menghadap kanal sambil sesekali menyapa wisatawan yang lewat.

Malam hari, wisatawan bisa mengunjungi Pasar Malam di Desa Mola Selatan yang menjajakan beragam makanan khas Bajo Mola, seperti nasi jagung, kasuami (berbahan singkong), cendol berbahan keladi, bulu babi, teripang dan berbagai ikan bakar didampingi sambal colo-colo. Jika hari cerah, di dermaga wisatawan akan mendapat cerita bintang, yakni manfaat berbagai benda langit yang selama ratusan tahun menjadi panduan suku Bajo mengarungi lautan serta mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi mereka.