IFBC Banner

Berkunjung ke Desa Wisata Orang Tengger

Rabu, 23 September 2020 – 01:02 WIB

Desa Ngadas

Desa Ngadas

JAKARTA, REQnews - Keindahan pemandangan dari Gunung Bromo memang tidak dapat dipungkiri. Tempat ini berada dalam list destinasi wisata favorit yang wajib dikunjungi. Nah, jika Anda hendak mengunjungi gunung berpasir tersebut sempatkan juga berwisata ke Desa Ngadas dan Desa Ngadisari, Jawa Timur.

Desa Ngadas berada di wilayah Kecamatan Poncokusumo dan terletak di ujung paling timur Kabupaten Malang, berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Lumajang. Berada di dalam area teritorial Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan ketinggian sekitar 2.150 mdpl, Desa Ngadas merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Desa ini ditetapkan menjadi Desa Wisata oleh pemerintah Kabupaten Malang sejak tahun 2007.

Uniknya, Desa Ngadas adalah satu-satunya desa yang didiami oleh suku Tengger di Malang. Konon, pendiri Desa Ngadas adalah seorang tokoh bernama Mbah Sedhek pada tahun 1774. Dari situlah lahir orang-orang Tengger yang mendiami Ngadas hingga kini, yang dipercaya merupakan keturunan Mbah Sedhek beserta pengikutnya. Yang menarik, di desa ini tidak ada satupun warga yang berstatus sebagai pendatang. Bahkan, terdapat aturan tak tertulis yang berlaku di Desa Ngadas bahwa tanah yang dimiliki suku Tengger tidak boleh diperjualbelikan.

Terdapat banyak kesenian atau atraksi rakyat yang masih terjaga di Desa Ngadas, seperti kuda lumping, bantengan, dan kuda kencak yang digunakan untuk arak-arakan mengelilingi Dusun Ngadas. Para pengunjung bisa langsung menyaksikan rangkaian upacara adat tersebut bila sedang dilaksanakan.

Tak hanya itu, setiap tahun masyarakat Tengger selalu melaksanakan upacara keagamaan dan upacara adat sesuai dengan penanggalan Saka. Seperti Entas-Entas, Wolo Goro (upacara pernikahan), Tugel Kuncung, Tugel Gombag, Penditanan untuk semua dukun, Sayut (upacara adat 7 bulanan wanita hamil), Kekerik (upacara lepas pusar bayi) dan Among-among (upacara bagi anak yang sudah mulai bisa bekerja menghasilkan uang). Ada juga upacara tahunan yang cukup beragam. Misalnya upacara Pujan, Kasada, Karo, Unan-Unan, Barikan, Mayu Dusun, dan Galungan.

Desa Ngadas juga memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik, di antaranya Coban Trisula, Ranu Pani serta masih banyak lainnya. Saat memasuki wilayah Ngadas, tersaji pemandangan perkebunan yang terbentang luas dan hijau. Dari sini sejauh mata memandang ke arah timur tampak pemandangan deretan puncak-puncak Semeru yang selalu mengeluarkan asap dari puncaknya. Lereng-lereng perbukitan dan lembah yang hijau dengan lanskap kebun sayur berbentuk terasering akan memanjakan mata kita. Bila cuaca cerah, puncak Semeru akan terlihat sangat indah dan gagah menjulang disertai awan putih menyelimuti tubuhnya.

Letaknya yang berada di pegunungan menjadikan Desa Ngadas relatif berkabut sepanjang hari. Panorama terbit dan tenggelamnya matahari serta lalu-lalang warga Tengger dengan ciri khas sarung yang diikatkan juga menambah betah wisatawan tinggal di desa yang penuh pesona ini. Dari sini pengunjung juga dapat menikmati matahari terbit di Pananjakan atau Bromo. Bisa juga tracking dari Cemoro Lawang ke Bromo sejauh sekitar 3 km, atau berkeliling naik kuda dari Cemoro Lawang menuju lereng Bromo.

Di Desa Ngadas, Anda juga bisa menikmati dan membaur dengan warga Tengger yang ramah. Ada lagi yang unik, masyarakat Desa Ngadas ini biasanya menjamu tamu yang datang ke rumahnya tidak di ruang tamu melainkan di dapur. Hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang cukup dingin sehingga tamu langsung diajak ke dapur di depan tungku pemanas yang ada di setiap rumah. Penduduknya yang ramah akan menyuguhkan hidangan khas Ngadas, seperti kentang rebus yang gurih dan manis. Jika ingin bermalam, pengunjung bisa mendapatkan penginapan. Ada sekitar 56 rumah penduduk yang dijadikan homestay untuk wisatawan.

Demikian juga di Desa Ngadisari yang terletak di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Di desa ini, kita bisa menyaksikan keindahan Gunung Bromo. Tidak sedikit wisatawan yang berdatangan dan menginap. Ada aturan yang unik di Desa Ngadisari. Pemuda dan pemudi setempat dilarang menikah dini dan hanya diizinkan naik ke pelaminan jika sudah menyelesaikan pendidikan SMA. Tujuannya, untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Probolinggo, yang selama ini termasuk yang terendah di Jawa Timur. Aturan tersebut sudah berjalan di Sukapura kurang lebih selama 15 tahun, tepatnya sejak 2001. Keputusan yang telah disepakati dan diterima masyarakat itu menuai hasil. IPM Kecamatan Sukapura menjadi yang tertinggi dibanding 23 kecamatan lain di Kabupaten Probolinggo.

Masyarakat Desa Ngadisari juga sangat ramah terhadap wisatawan. Baik dari anak-anak sampai orang dewasa, telah terbiasa dengan kehadiran wisatawan. Mereka juga cerdas dalam memanfaatkan peluang, dimana banyak masyarakat yang mendirikan homestay dengan harga relatif terjangkau, menyewakan kuda dan jeep untuk mengunjungi sejumlah daya tarik wisata, serta produk-produk UKM. Beberapa masyarakat menjadikan sektor pariwisata desa ini sebagai penghasilan utama. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya menjadikan sektor ini sebagai profesi sampingan selain bertani.