Yuk Intip Keunikan Suku Baduy yang Nol Korban Corona

Sabtu, 23 Januari 2021 – 19:32 WIB

Suku Baduy, Indonesia (Foto: Istimewa)

Suku Baduy, Indonesia (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews- Siapa bilang seluruh destinasi wisata di Indonesia sudah terpapar virus corona? Beberapa hari yang lalu jagat traveler digemparkan berita jika ada destinasi wisata yang nol kasus Corona. Tempat tersebut adalah pemukiman Suku Baduy.

Karena disiplin tak keluar daerah, masyarakat Suku Baduy menjadi tempat dengan nol korban jiwa akibat paparan Virus Corona.

Tenaga kesehatan Pemerintah Kabupaten Lebak, mencatat Suku Baduy menjadi Suku menjadi salah satu Suku yang masyarakatnya tetap sehat ditengah wabah Virus Corona.

"Warga Baduy dapat mengendalikan Covid-19 itu, kami mengapresiasinya." kata Petugas Medis Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cisimeut Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Iton Rustandi di Lebak, Rabu 20 Januari 2021.

Meski sebelumnya sudah memegang prinsip menutup diri dari dunia luar, tetua adat tetap mengimbau masyarakat Baduy tidak boleh ke luar daerah dan tetap mematuhi protikol kesehatan seperti mencuci tangan menjaga jarak dan tak berpergian keluar daerah.

Akibat prinsip menutup diri yang ditekankan leluhur mereka sejak zaman dahulu kala, nyatanya hal tersebut bisa menyelamatkan banyak jiwa dari wabah virus Covid-19.

Selain berpegang prinsip untuk menutup diri dari dunia luar, apa saja sih keunikan Suku Baduy yang diturunkan dari leluhur mereka? Berikut ulasannya:

1. Gotong royong
Jika mungkin sifat gotong royong lama kelamaan telah hilang tergerus oleh perkembangan zaman, namun hal ini tidak berlaku bagi masyarakat Suku Baduy Dalam. Sifat gotong royong yang di turunkan dari leluhur ini selalu diterapkan oleh Suku Baduy Dalam pada saat mereka harus berpindah tempat dari satu wilayah ke wilayah lain yang lebih subur. Sebagai suku nomaden (tidak memiliki tempat tetap) dan menganut sistem ladang terbuka, membuat Suku Baduy Dalam hidup saling membantu. Kerukunann dan gotong royong masih sangat dijunjung tinggi oleh orang Baduy.

2. Gaya Pemerintahan Suku Baduy

Dikutip dari situs resmi Pemprov Banten, Suku Baduy mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, warga dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat tertinggi, yaitu pu'un.

Jabatan pu'un berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut. Sebagai tanda kepatuhan kepada penguasa, Suku Baduy secara rutin melaksanakan tradisi Seba ke Kesultanan Banten.

3. Kebahagiaan Sederhana ala Suku Baduy

Suku Baduy Dalam memang masih belum dialiri listrik. Hal inilah yang menjadikan wilayah ini menjadi seolah ‘mati’ begitu malam hari tiba. Tidak banyak aktivitas yang bisa kita lakukan pada malam hari karena keterbatasan cahaya. Namun, justru hal inilah yang akan membuat Anda memperoleh pengalaman baru. Bisanya warga memainkan alat musik seperti kecapi untuk menemani malam mereka, sembari tak lupa mengobrol dan bertukar cerita dengan tetangga atau bahkan berkumpul keluarga di bawah cahaya bintang.

4. Trasisi Kawalu

Salah satu tradisi leluhur yang sampai sekarang masih dijalankan adalah tradisi Kawalu. Kawalu adalah puasa yang dijalankan oleh warga Baduy Dalam yang dirayakan tiga kali selama tiga bulan. Pada puasa ini warga Baduy Dalam berdoa kepada Tuhan agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera. Pada saat tradisi Kawalu dijalankan, para wisatawan dilarang masuk ke dalam wilayah Baduy Dalam. Apabila ada kepentingan, biasanya wisatawan hanya diperbolehkan berkunjung sampai Baduy Luar dan itupun tidak diperbolehkan menginap.