Ironi Jurnalisme: Perekam Pembunuhan George Floyd Dapat Hadiah Pulitzer

Sabtu, 12 Juni 2021 – 12:38 WIB

Foto: face2faceafrica.com

Foto: face2faceafrica.com

Washington, REQNews.com -- Darnella Frazier, remaja yang merekam pembunuhan George Floyd oleh polisi dengan ponsel, menerima penghargaan dari Dewan Pulitzer. Namun, gadis usia 17 tahun menyesal tidak menolong George Floyd.

Video Frazier membuktikan peran penting warga negara dalam pencarian kebenaran dan keadilan, sesuatu yang selama ini diperjuangkan wartawan.

Mindy Marques, ketua bersama Dewan Pulitzer, menyebut video Frazier transformatif menjelaskan sesuatu yang menyentak pemirsa, dan memicu protes terhadap kebrutalan polisi.

Floyd, seorang pria kulit hitam, meninggal 25 Mei 2020 saat lehernya ditekan ke tanah oleh Derek Chauvin, petugas polisi Minneapolis, Minnesota.

Dalam video Frazier, Chauvin menekan lutut ke leher Floyd selama 9 menit 26 detik. Floyd sempat berkata; "Saya tak bisa bernafas." Chauvin mengabaikan.

Rekaman itulah yang memicu gelombang protes. Pertama di Minnesota, kemudian di seluruh AS.


Menyesal, Menangis

Frazier tampil di pengadilan untuk bersaksi, Maret lalu. Ia menyesal tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan hidup Floyd, saat pria kulit hitam itu sekarat akibat tak bisa bernafas.

"Saya tahu dia kesakitan. Dia menderita," kata Frazier. "Yang saya lakukan justru memfilmkan kematiannya, bukan menolongnya."

Menurut Frazier, dia terus menangis setelah menyadari kesalahannya. "Saya terus minta maaf kepada George Floyd dan keluarga, karena tidak melakukan apa pun, selain merekam suasana. Saya seharusnya berinteraksi secara fisik," kata Frazier.

Liputan Minneapolis Star Tribune atas kematian Floyd dan aksi protes massa juga memenangkan Hadiah Pulitzer. Hadiah foto berita dibagikan kepada 10 fotografer Associated Press untuk liputan protes kematian Floyd.

Reuters memperoleh hadiah untuk analisis data perintis yang menunjukan bagaimana doktrin hukum yang tidak jelas tentang kekebalan memenuhi syarat melindungi polisi pengguna kekuatan berlebihan.


Pandemi Covid-19

Liputan pandemi Covid-19 juga memperoleh penghargaan Putlizer. Ed Young dari The Atlantic dipuji Dewan Pulitzer untuk serangkaian potongan berita tentang pandemi Covid-19.

Pemenang lainnya untuk liputan tentang Uighur, dengan Buzzfeed News sebagai penerimanya. Laporan serial investigasi Buzzfeed News, tentang infrastruktur China untuk menahan Muslim Uighur di Xinjiang, membuka kesadaran dunia tentang minoritas teraniaya di Cina.

Pulitzers mengatakan Buzzfeed menang berkat penggunaan citra satelit, keahlian arsitektur, dan wawancara dengan dua lusin mantan tahanan di kamp interniran Xinjiang untuk mengidentifikasi infrastruktur yang dibangun Cina.

Pemenang lain adalah almarhum Les dan Tamara Payne, ayah dan putrinya, yang menulis biografi Malcolm X; The Dead Are Rising .