Festival Sastra Jawa Jadi Agenda Tahunan Pemprov Jateng

Minggu, 23 Juni 2019 – 22:00 WIB

Ilustrasi Festival Sastra Jawa Tengah (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Festival Sastra Jawa Tengah (Foto: Istimewa)

SEMARANG, REQnews - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya menjaga kelestarian budaya Jawa Tengah, khususnya sastra Jawa. Upaya itu diimplementasikan pemerintah setempat dengan menggelar Festival Sastra Jawa.

Festival ini nantinya bakal menjadi ajang silaturahim sekaligus unjuk kompetensi para sastrawan muda tiap tahunnya. "Kita sering terlupa hanya mengurus sektor pendidikan dan melupakan sektor kebudayaan, padahal itulah karakteristik kita, manusia yang berbudaya. Untuk itu festival sastra ini akan kita adakan setiap tahun," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng Jumeri di Semarang, Minggu 23 Juni 2019.

Menurut dia, karya-karya para pemenang berhasil memikat dewan juri sehingga menorehkan harapan besar pada perkembangan kesusasteraan Jawa Tengah di masa depan. Dirinya pun memberi apresiasi tinggi pada penyelenggaraan yang tegas dalam menetapkan standar kualitas pada penyelenggaraan Festival Sastra Jawa.

Pada Festival Sastra Jawa tersebut membuka empat kategori perlombaan yakni penulisan cerita pendek, penulisan puisi, penulisan lakon, dan pembacaan puisi dengan jumlah total peserta sebanyak 327 sastrawan muda.

Rinciannya adalah baca puisi 80 peserta, penulisan puisi 110 peserta, penulisan cerita pendek 105 peserta, dan penulisan lakon 32 peserta. Untuk kategori penulisan cerpen, juara 1 diraih Galih Pandu Adi dari Rembang, juara 2 diraih Umi Salamah dari Kebumen, dan juara 3 diraih Panji Sukma Herasih dari Sukoharjo.

Untuk kategori penulisan puisi keluar sebagai juara 1 adalah penyair asal Kendal, Setia Naka Andrian. Juara 2 Ahmad Musabbih dari Tegal dan juara 3 penyair asal Kudis, Aditya Galih Erlangga.

Kemudian, penulisan lakon Idham Ardi Nurcahyo asal Karanganyar yang menjadi juara 1 dan pada kategori lomba ini dewan juri tidak menemukan karya untuk dijadikan juara 2 dan 3, sehingga langsung ke juara harapan 1 yang diperoleh Ajeng Ratnasari dari Semarang, juara harapan 2 diraih Muhammad Abduh dari Kebumen, serta I Gusti Dwi Putra dari Tegal sebagai juara harapan 3.

Salah seorang sastrawan yang menjadi juri pada Festival Sastra Jawa, Triyanto Triwikromo menilai wawasan peserta harus diperluas agar tidak terkungkung dalam jebakan tema. "Dengan tema 'Jawa Tengah Rumahku', banyak peserta penulisan puisi, cerpen, dan lakon yang terjebak pada penunjukan nama tempat, bahkan slogan daerah," katanya.

Padahal karya sastrawan besar dari Jawa Tengah seperti NH Dini maupun Ahmat Tohari, lanjut dia, bisa jadi rujukan bagaimana mengeksplorasi keluasan budaya provinsi di tengah Pulau Jawa ini.

"Upaya yang kita lakukan untuk menghidupi sastra tidak akan pernah cukup, namun setidaknya keistiqomahan padanya yang membuat dunia sastra di Jawa Tengah terus berkembang," ujarnya.

Triyanto Triwikromo yang merupakan cerpenis terkemuka Indonesia dari Jawa Tengah merupakan satu dari tiga dewan juri penulisan selain Hanindawan (teaterawan, Solo) dan Bandung Mawardi (Esais, Karanganyar). Untuk juri baca puisi ada Sosiawan Leak (deklamator, Solo), Apito Lahire (Aktor dan deklamator, Tegal) dan Laura Andri, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

Sosiawan Leak juga menyoroti masih banyaknya peserta baca puisi yang kurang memahami struktur fisik dan struktur batin puisi sehingga membuat banyak peserta terjebak pada penafsiran yang keliru.

"Puisi Widji Thukul itu nafasnya perlawanan, maka tidak mungkin puisinya dibacakan dengan akting menangis, maka sebelum membaca harus tahu dulu siapa penulisnya dan pada konteks apa puisi itu ditulis," kata Sosiawan.

Pada lomba baca puisi yang digelar Sabtu 22 Juni siang hingga sore melahirkan juara pertama yakni Didik Supriadi dari Kudus, sedangkan juara kedua Iis Islamiyyah dari Rembang dan juara tiga Khanif Ramadhani Temanggung.

Selain festival sastra ini, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah yang menggandeng Anantaka Cultural Trust juga bakal menyelenggarakan festival teater pada September mendatang.

Seperti diketahui, kebudayaan memang jadi jalan penting untuk pengembangan sumberdaya manusia yang saat ini jadi fokus pemerintahan yang dipimpin Gubernur Ganjar Pranowo.