Mantan Pemulung Ini Mencalonkan Diri Jadi Presiden

Rabu, 22 September 2021 – 19:39 WIB

Foto: Manila Times

Foto: Manila Times

Manila, REQNews.com -- Isko Moreno, walikota Manila, resmi mencalonkan diri sebagai presiden Filipina pada pemilihan umum 2022. Sebagai mantan pemulung, Moreno menawarkan program pengentasan kemiskinan kepada rakyatnya.

Moreno adalah walikota Manila paling populer. Ia dikenal semua kalangan, mulai dari penghuni pemukiman kumuh di ibu kota sampai ke kalangan elite.

"Dengan segala kerendahan hati, saya mengumumkan kepada Anda sebangsa saya, terimalah pencalonan saya sebagai presiden Filipina dalam pemilu tahun depan," kata Moreno, yang disambut tepuk tangan pendukungnya.

Menurut Moreno, dorongan mencalonkan diri sebagai presiden bukan karena ingin mencapai posisi tertinggi tapi kadaan Filipina yang menyedihkan. Ia mengkritik tanggapan pemerintahan Rodrigo Duterte terhadap pandemi, dan kurangnya obat-obatan untuk menyelamatkan banyak warga Filipina dari amukan Covid-19.

"Saya keluar dari selokan Manila tanpa bantuan Daddy Warbucks," katanya. "Saya percaya pada kerja keras dan bicara lurus."

Daddy Warbucks adalah tokoh fiksi dalam komik Little Orphan Annie. Dikisahkan Warbucks menjadi kaya raya selama Perang Dunia I, tapi perkawinannya berantakan. Usai perang ia mepertahankan identitasnya sebagai orang biasa.

Pengamat memperkirakan Moreno, kini berusia 46 tahun, mengandalkan kisah hidupnya yang compang-camping, popularitasnya sebagai bintang film, dan proyek-proyek hebat selama menjadi walikota Manila.

Moreno menghabiskan masa kecil sebagai pemulung, alias pencari dan pengumpul barang bekas. Ia berjuang sendirian memperbaiki diri dan keluarganya, sampai akhirnya menjadi aktor film.

Moreno tidak ubahnya Joseph Estrada, bintang film era 1990-an yang mencalonkan diri sebagai presiden dan terpilih pada pemilu 1996. Seperti Estrada, Moreno juga populer di kalangan penduduk miskin Manila.

Sebagai walikota, Moreno membersihkan jalan-jalan utama yang kotor. Ia memulihkan ketertiban di jalan-jalan, dan pasar-pasar umum. Dalam pemilihan walikota, Moreno menghadapi politisi papan atas dan selebritas nasional.

Sebagai calon presiden, Moreno menghadapi dua pesaing hebat; legenda tinju Emmanuel 'Manny' Pacquiao, mantan kepala polisi nasional Panfilo Lacson, Bongbong Marcos -- putra mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos.

Sederet nama lain, sekitar tujuh orang, juga akan mengumumkan pencalonan diri sebagai presiden. Salah satunya Leni Robredo, wakil presiden saat ini. Sara Duterte, putri Rodrigo Duterte, diharapkan berubah pikiran dan mencalonkan diri.

Siapa pun pengganti Duterte tidak akan mudah menyelesaikan masalah Filipina. Pandemi hampir dua tahun menghancurkan perekonomian Filipina. Kemiskinan meruyak di sekujur negeri, dan pemberontokan komunis dan Muslim yang seolah tak pernah usai.


Politik Masuk Akal

"Ini bukan tentang Mr and Mrs Congeniality, trailer yang dibintangi Sandra Bullock. Ini tentang membuat keputusan dan pengorbanan yang sulit," kata Moreno kepada Associated Press.

"Manila adalah kota busuk dan tertindas," lanjutnya. "Kini, Manila adalah kota yang kompetitif dan jauh lebih baik. Itu terjadi dalam dua tahun."

Moreno menyebut dirinya pengambil keputusan yang cepat, dan tidak terjebak dengan urusan membongkar bagasi masa lalu untuk maju satu langkah.

Tanpa menyebut nama, Moreno mengatakan telah memilih seorang dokter sebagai wakilnya. Ia ingin, jika kelak terpilih, wakilnya fokus menangani pandemi dan dia berjuang memulihkan ekonoi.

"Secara politik ini tidak ortodoks, tapi masuk akal," kata Moreno.

Filipina tercatat sebagai negara Asia Tenggara paling buruk menghadapi pandemi Covid-19. Jumlah kasus mencapai 2,4 juta, dengan 37 ribu kematian -- tertinggi kedua setelah Indonesia.

Persoalan seriusnya adalah Rodrigo Duterte, yang tak mungkin lagi berkuasa sesuai UU Filipina, menerima tawaran menjadi calon wakil presiden. Jika Durterte masih populer, ia akan mengkatrol seseorang menjadi presiden.

Duterte harus tetap di puncak kekuasaan agar terhindar dari kemungkinan diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional dengan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Selama berkuasa, Duterte mengobarkan perang melawan bandar narkoba, yang menewaskan ribuan orang.

Duterte dituduh melakukan eksekusi tanpa pengadilan di jalan-jalan terhadap bandar dan pengecer narkoba.