Auto Syok! Anak Perempuan di Suku Ini Wajib Nikahi Ayahnya dan Berbagi Suami dengan Ibu Sendiri

Jumat, 26 November 2021 – 08:31 WIB

Suku Mandi di Bangladesh (Foto: The Guardian)

Suku Mandi di Bangladesh (Foto: The Guardian)

BANGLADESH, REQnews - Percaya gak percaya, sebuah suku di Bangladesh yang bernama Suku Mandi punya tradisi unik dan terbilang "ekstrem".

Setiap anak perempuan di suku ini "terjebak" dalam tradisi berbagi suami dengan ibu sendiri. Dimana, mereka wajib menikah dengan ayah kandung mereka sendiri dan berbagi hubungan intim dengan ibu kandung mereka sendiri.

Hal ini tentu saja tabu dan mencengangkan bagi sebagian besar masyarakat di berbagai belahan dunia, namun di Suku Mandi, Bangladesh tradisi tersebut sudah dianggap biasa.

Tradisi ini sudah dijalankan selama berabad-abad. Namun beberapa waktu belakangan begitu disorot, usai kisah seorang gadis Bangladesh bernama Orola Dalbot (30 tahun) viral di media sosial.

Orola Dalbot dipaksa menikah dengan ayahnya setelah dia berusia 15 tahun. Sekarang, ia diketahui telah memiliki tiga orang anak dari ayahnya, di mana hal tersebut juga dialami banyak anak perempuan di desanya.

Diungkapkan Orola, ayahnya telah meninggal ketika dirinya masih kecil dan ibunya telah menikah lagi dengan ayah tirinya, Noten. Ia mengaku terkejut mengetahui bahwa pernikahannya telah terjadi ketika dirinya berusia 3 tahun dalam upacara bersama dengan ibunya.

Menurut tradisi dalam suku Mandi matrilineal, ibu dan anak perempuannya menikah dengan pria yang sama. "Saya ingin melarikan diri ketika saya tahu," ungkap Orola, dikutip Jumat, 26 November 2021. 

Namun, ibunya, Mittamoni, sekarang 51 tahun, mengatakan kepadanya bahwa ia harus menerimanya. Itu karena bagi suku Mandi, para janda yang ingin menikah lagi harus memilih seorang pria dari klan yang sama dengan suaminya yang sudah meninggal.

Kemudian seorang janda akan menawarkan salah satu putrinya sebagai pengantin kedua untuk mengambil alih tugasnya—termasuk seks—ketika putrinya sudah dewasa.

"Ibuku baru berusia 25 tahun ketika ayahku meninggal. Dia belum siap untuk melajang," lanjut Orola.

Suku tersebut menawarkan Noten yang saat itu berusia 17 tahun, sebagai suami baru Mittamoni, dengan syarat ia juga menikahi Orola.

"Saya terlalu kecil untuk mengingat pernikahan itu. Saya tidak tahu itu terjadi," kata Orola.

Gadis itu pun merasa hancur saat mengetahui bahwa dirinya diharuskan untuk berbagi suami dengan ibunya sendiri. "Ibuku sudah memiliki dua anak dengannya. Aku menginginkan suamiku sendiri," tandasnya.