Sejarah Candi Sukuh, Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Mirip Piramida Suku Maya

Sabtu, 04 Desember 2021 – 18:05 WIB

Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah (Foto: Istimewa)

Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah (Foto: Istimewa)

JAWA TENGAH, REQnews - Candi Sukuh merupakan candi peninggalan Kerajaan Majapahit di Karanganyar, Jawa Tengah yang bangunannya mirip dengan piramida Suku Maya di Meksiko.

Kompleks candi yang berada di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah itu terletak di lereng barat Gunung Lawu dengan ketinggian 910 meter dari permukaan laut.

Berdasarkan Kepustakaan Candi Perpustakaan Nasional RI, Candi Sukuh pertama kali ditemukan oleh Johnson, Residen Surakarta pada 1815 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles.

Selanjutnya, candi tersebut kemudian diteliti oleh Van der Vlis di tahun 1842. Penelitian Van der Vlis ini kemudian dibukukan dengan judul Prove Eener Beschritjen op Soekoeh en Tjeto. Kemudian, Hoepermans pun melanjutkan penelitian tersebut pada 1864-1867 dan dituliskan ke dalam buku Hindoe Oudheiden van Java.

Selain itu, pada tahun 1889 Verbeek melakukan inventarisasi terhadap Candi Sukuh. Lalu pada tahun 1910 Knebel dan WF. Stutterheim pun melanjutkan penelitian tentang Candi Sukuh tersebut.

Berdasarkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah kompleks Candi Sukuh didirikan pada abad 15 Masehi di masa pemerintahan Ratu Suhita yang memimpin Kerajaan Majapahit pada 1429 hingga 1446.

Lalu pada tahun 1359 Saka diperkirakan adalah masa pembangunannya. Candi yang berlatar belakang Hindu sekte Tantra ini, lokasinya menghadap ke arah barat dengan bangunan yang terdiri dari tiga teras yang bermakna simbolisme tingkatan menuju kesempurnaan.

Dalam catatan Perpusnas RI, Candi Sukuh mempunyai struktur bangunan yang berbeda dari candi Hindu pada umumnya di Jawa Tengah. Karena, arsitektur candi tersebut bertolak dari ketentuan dalam kitab pedoman pembuatan bangunan suci Hindu, yaitu Wastu Widya.

Candi tersebut harus memiliki denah dasar bujur sangkar dan tempat paling sucinya ada di tengah. Namun, bentuk berbeda terdapat dalam Candi Sukuh yang diperkirakan karena dibangun saat pengaruh Hindu di Jawa mulai memudar.

Sehingga, membangkitkan kembali elemen-elemen budaya setempat di zaman prasejarah era Megalitikum, yang dapat dilihat dari bentuk bangunan Candi Sukuh yang berupa teras berundak. Karena, punden berundak merupakan karakteristik khas bangunan suci di masa pra-Hindu.

Bangunan pra-Hindu juga punya ciri khas lain, yakni tempat paling suci letaknya di posisi paling tinggi dan paling belakang. Berdasarkan relief yang memuat cerita-cerita ruwat seperti Sudamala dan Garudheya serta arca kura-kura dan garuda, banyak ahli yang memperkirakan tujuan dibangunnya candi tersebut.

Peninggalan Kerajaan Majapahit ini dibangun dengan tujuan pengruwatan atau menangkal kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang karena ciri tertentu yang ada padanya.