Standar 'Kegantengan' Korea: Tak Berkumis, Berjanggut, Bercambang, dan Berwajah Bayi

Senin, 17 Januari 2022 – 17:12 WIB

Foto: bollywoodlife.com

Foto: bollywoodlife.com

REQNews.com -- Tahun 2002, saat kali kedua berkunjung ke Korea Selatan dan mendapat kesempatan lebih lama berada di negeri itu, saya sempat bertanya-tanya mengapa sulit menemukan orang Korea berkumis, bercambang, apalagi berjanggut.

Ya, saya hanya bertanya-tanya pada diri sendiri, tidak bertanya kepada orang Korea yang setiap hari saya temui di Pers Room Kementerian Penerangan Korsel selama perhelatan Piala Dunia 2002/Korea Jepang.

Mungkin karena itu bukan tugas saya datang ke Korsel. Tugas saya adalah meliput Piala Dunia 2002.

Belakangan, setelah beberapa kali nonton Drakor atau K-Drama, pertanyaan tentang mengapa orang Korea tak berkumis, berjanggut, bercambang, muncul lagi. Terlebih setelah melihat personel boy band Korea, yang nyaris semuanya bertampang klimis.

Kali ini saya mencari jawabnya. Saya cari di Google dengan kalimat kunci; Why don’t Koreans have mustaches and beards. Ternyata banyak artikel yang membahas tentang itu dari berbagai perspektif.


Dinasti Joseon, Era Gwangmu, dan Jepang

Orang Korea bukan tak kebagian kumis, janggut, dan cambang, ketika Tuhan menganugerahkan bulu di wajah kepada manusia. Seperti semua ras, orang Korea juga punya hormon testosteron penumbuh bulu di muka.

Ini bisa dilihat dalam foto-foto era Dinasti Joseon, yang memerintah Semenanjung Korea selama lima abad. Orang-orang Korea saat itu membiarkan rambut di wajah memanjang, karena penguasa Dinasti Joseon — berkat pengaruh Konfusianisme yang kental — melarang orang melukai bagian tubuh, termasuk memotong rambut.

Akibatnya, tidak ada kebiasaan potong rambut, cukur kumis, jenggot, dan cambang selama lima ratus tahu Dinasti Joseon.

Era Gwangmu 1897-1900 terjadi perubahan luar biasa. Korea masih di bawah Dinasti Joseon, sejak kekalahan Dinasti Qing pada Perang Sino-Jepang I — Korea berada di bawah kendali Jepang.

Selama tiga tahun reformasi Gwangmu diperkenalkan. Salah satunya adalah Westernisasi gaya hidup masyarakat. Pengaruh administrasi, pendidikan, dan sanitasi, membuat orang-orang didesak mengadopsi gaya militeristik Barat.

Potong rambut, cukur kumis, janggut, dan cabang, mulai diperkenalkan. Sejak saat itu, orang Korea mulai klimis.

Setelah Jepang sepenuhnya menjajah Korea pada 1910, dengan mengakhiri kekuasaan Dinasti Joseon, perubahan terjadi lagi. Orang-orang Korea memlihara kumis tipis yang khas agar disukai Kaisar Jepang.

Beberapa aktor saat itu mendorong tren ini lewat film, yang oleh penduduk disebut ‘kotor seksi’. Label ‘kotor’ adalah perasaan populasi umum terhadap orang berjanggut dan bercambang.


Perspektif Budaya

Setelah Jepang hengkang, Korea seolah kembali ke Era Gwangmu. Maklum, reformasi belum selesai. Generasi tua, yang melakukan perlawanan terhadap Jepang, menolak berkumis tipis.

Era Gwangmu diperkuat dengan kampanye di masyarakat bahwa gagasan memelihara janggut bagi pria Korea adalah sesuatu tak diinginkan. Budaya bercukur bersih dikampanyekan sebagai tanda ketajaman dan kemudaan.

Pria muda dengan rabut wajah sering dianggap tidak sehat dan acak-acakan. Bagi pria tua yang memelihara rambut di wajah ada dua anggapan untuk mereka. Jika kebetulan kaya, orang akan menyebutnya eksentrik. Jika miskin, yah orang miskin mah nggak bisa ngurus diri.

Janggut pada pria tua Korea adalah simbol orang bijak dan layak dihormati. Maka, tidak pantas bagi anak muda memelihara janggut. Selain belum bijak, orang muda masih harus menghormati yang tua.

Harus diingat, rasa hormat berdasarkan usia adalah elemen penting budaya Korea.


Standar Korea

Korea membentuk standar kencantikan sendiri, yang berbeda dengan Barat. Di Korea, seorang lelaki disebut ganteng jika memiliki wajah kekanak-kanakan, atau wajah bayi.

Seperti bayi pada umumnya, tidak akan ada rambut di wajah. Maka, orang Korea akan secara teratur bercukur. Mereka yang memelihara janggut tidak terawat akan dianggap mencapai titik terendah dan mulai hidup dengan narkoba dan alkohol.

Mitos wajah bayi disebarkan melalui nilai budaya pasar. Di sini, media memainkan peran besar, dan berdampak relatif kuat pada apa yang disukai dan tidak disukai orang.

Itu berlangsung bukan saat K-Pop mendunia, tapi sejak lama. Sebelum tahun 2000-an, seluruh pemain timnas Korea nyaris tak punya bulu di wajah. Akibatnya, orang sering mengatakan wajah mereka terlihat sama.

Ali Wong, aktris dan komedian AS, punya pendapat menarik soal ini. Ia menggambarkan suaminya yang tidak berbulu sebagai seksi. “Saya seperti berhubungan seks dengan lumba-lumba,” katanya.


Androgini

Kesan sebagian orang ketika kali pertama melihat artis K-Pop, terutama boy band, adalah mereka laki-laki kemayu. Atau pria dengan penampilan sedikit ‘kewanitaan’ dengan gaya fesyen androgini.

Tentu saja ini bukan kesan umum penggemar K-Pop, tapi orang-orang di luar itu. Namun, itu bukan kesan yang salah. Setiap orang juga punya sudut pandang masing-masing saat melihat sesuatu.

Artis K-Pop adalah mesin industri hiburan. Citra mereka dibentuk oleh perusahaan manajemen. Di belakang mereka terdapat tim besar, yang menentukan pilihan fesyen, make-up, gaya rambut, pengarah gaya untuk foto resmi, dan lainnya.

Itu belum termasuk koreografer, pelatih tari, aransemen vokal, pemilihan lagu, penyusun jadwal tur promosi, dan lainnya. Setelah dieksploitasi sebagai grup, setiap artis K-Pop juga dieksploitasi sebagai individu.

Tidak ada yang salah atas semua itu. Sebagai industri, K-Pop menuntut totalitas artisnya untuk membentuk trend, membawa standar Korea ke seluruh dunia.

Standar itu harus menyita perhatian semua jenis kelamin. Maka, pilihan untuk mereka adalah fesyen androgini. Gabriel Bonheur ‘Coco’ Channel membuktikan fesyen androgini adalah industri tak lekang waktu.

Androgini, menurut Wikipedia, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan pembagian peran yang antara maskulin dan feminim pada saat bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam Bahasa Yunani; aner dan gune, yang artinya percampuran ciri-ciri maskulin dan fenimin.

Seorang androgini dalam arti identitas gender adalah orang yang tidak sepenuhnya cocok dengan peranan gender maskulin dan feminin yang tipikal dalam masyarakat. Sering pula seorang androgini menggunakan istilah ambigender.

Tentu saja pendapat terakhir ini bisa dibantah. Ketika perusahaan manajemen K-Pop mendorong artisnya tampil di film, seorang anggota boy band benar-benar menampilkan citra maskulinnya.

Androgini style masih akan tetap dominan dalam diri artis K-Pop, karena itulah yang laris di pasar. Entah sampai kapan, kita tidak tahu. Industri hiburan selalu punya cara beradaptasi dengan pasar, atau kreatif membentuk pasar baru.

Yang pasti, budaya dan standar kecantikan Korea akan terus menampilkan sosok laki-laki tak berbulu di wajah, karena bisa menarik semua individu dari berbagai jenis kelamin.