Semua yang Berbau BTS Pasti Laris, Webtoon 7FATES: CHAKHO Membuktikannya

Rabu, 19 Januari 2022 – 21:14 WIB

Foto: denofgeek.com

Foto: denofgeek.com

Seoul, REQNews.com -- Apa pun yang berbau BTS pasti laris, dan Korea Naver membuktinnya. 7FATES: CHAKHO, webtoon yang terinspirasi BTS, ditonton lebih 15 juta kali dalam dua hari.

Dirilis 15 Januari, 7FATES: CHAKHO dengan komik digitalnya mencapai rekor tertinggi untuk webtoon baru yang diluncurkan portal online Korea Naver.

Tersedia dalam 10 bahasa; di antaranya Inggris, Spanyol, dan Jerman, 7FATES: CHAKHO mengumpulkan ulasan positif dari seluruh dunia, mencetak peringkat 9,91 pada platform layanan global Naver Webtoon pada hari Senin.

Meski beberapa penggemar bereaksi negatif terhadap webtoon, dan mengkritik HYBE -- perusahaan manajemen BTS -- yang lain menunjukan dukungan untuk komik digital, memuji ceritanya yang mencekam, dan gaya gambar yang menarik.

Pengkritik mengatakan HYBE terlalu berlebihan menggunakan kekayaan intelektual BTS. Ada juga yang mengatakan HYBE benar-benar mengeksploitasi BTS.

7FATES: CHAKHO adalah cerita fantasi urban yang dibintangi tujuh anggota BTS sebagai karakter fiksi. Webtoon ini berkisah tentang tujuh pemburu monster yang disebut chakho. Mereka bergabung untuk membalas kematian orang yang mereka cintai.

Hwangbo Sang-woo, manajer umum HYBE, mengatakan judul webtoon itu adalah tafsiran cerita rakyat Korea dengan cara yang khas, membawa kehidupan ke cerita baru.


Apa Itu Chakho

Saat 7FATES: CHAKHO memperoleh daya tarik global, banyak di luar negeri bertanya-tanya apa sebenarnya chakho itu, dan mengapa namanya sering muncul di konten Korea lainnya, seperti serial hit Neflix Kingdom, yang ditulis Kim Eun-hee.

Chakho berasal dari kata chakhogapsa, yang digunakan saat Semenanjung Korea diperingah Dinasti Joseon 1392-1910; Kata ini mengacu pada sekelompok pemburu harimau profesional yang dibentuk tahun 1421 oleh Raja Sejong -- penemu Hangeul, alfabet Korea.

Chakhogapsa semula terdiri dari 20 orang tak kenal takut. Namun jumlahnya melonjak menjadi 440 selama pemerintahan Raja Seongjong 1469-1494.

Peran chakho sangat penting, karena banyak orang diserang kucing besar di masa lalu. Menurut catatan tahunan Dinasti Joseon, yang terdaftar dalam Memori Dunia UNESCO, harimau muncul di depan banyak orang sebanyak 937 kali antara 1392 dan 1863 dan melukai 3.989 orang.

Menurut penulis Jobs in Korea History, buku yang diterbitkan tahun 2020, Dinasti Joseon melihat populasi harimau di luar kendali setelah membatasi orang pergi ke gunung dan menebang pohon pinus. Larangan dimaksudkan untuk mengamankan sumber kayu bagi kerajaan.

"Hutan yang jarang dikunjungi orang secara alami menjadi lahan sempurna bagi binatang liar berkembang biak," demikian tulisan dalam buku itu.

Untuk mengatasi populasi harimau, Raja Joseon memilih beberapa pemburu paling berani dan terampil, dan melatih mereka selama bertahun-tahun untuk menjadi pemburu harimau.

Di satu sisi, Dinasti Joseon menganggap harimau sebagai hewan suci yang dilindungi. Namun kerajaan lebih memilih menyelamatkan rakyatnya dari kematian akibat diterkam harimau.

Pemburu menerima hadiah berdasarkan ukuran harimau yang ditaklukan. Orang pertama yang menyerang harimau menerima hadiah lebih besar. Hadiah itu berupa bulu harimau.

Ketika harga bulu harimau melonjak, pemburu sipil bermunculan. Akibatnya, populasi harimau menurun. Pada asat bersamaan chakho menghilang.

Faktanya, penangkapan terakhir harimau di alam liar di Semenanjung Korea terjadi di Gunung Daedeok di Gyeonggiu, Propinsi Gyeongsang Utara, tahun 1921.