LBH Mawar Saron, Mengabdi untuk Keadilan

Minggu, 06 Januari 2019 – 22:43 WIB

HotmaSitoempoel (duduk paling tengah) dan para pekerja LBH Mawar Saron (Foto : Dok LBH Mawar Saron)

HotmaSitoempoel (duduk paling tengah) dan para pekerja LBH Mawar Saron (Foto : Dok LBH Mawar Saron)

Sudah banyak kiprah yang kita dengar tentang Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron. LBH ini dikomandoi oleh pengacara ternama yakni, Hotma P.D. Sitompoel SH., M.Hum.

Bertempat di Graha Mitra Sunter Blok D No. 9-11 Jl. Sunter Boulevard Raya, Jakarta Utara, gedung LBH Mawar Saron berdiri dengan megahnya. Masuk ke dalam, rasanya tidak percaya ini merupakan kantor sebuah LBH. Setiap ruangan ditata dengan elegan dan kemegahan. Lebih megah dari kantor-kantor pengacara profesional.

Awal berdirinya LBH Mawar Saron berkantor di Gereja Kristen Mawar Saron. Namun meski demikian dalam pelayanannya, LBH ini tidak membedakan agama, ras dan aliran politik. Fokus bantuan adalah warga tidak mampu yang teraniaya secara hukum dan keadilan. Numpang sekian lama di gereja hingga akhirnya secara bertahap, LBH Mawar Saron berdiri sendiri sebagaimana saat ini.

Dalam menyelesaikan berbagai persoalan, LBH ini selalu berprinsip damai. Prinsip itu, menurut Hotma karena dirinya mengingat cerita pada zaman Nabi Sulaeman. Dalam kisah itu ada dua orang berselisih sedang berangkat menuju pengadilan. Nabi Sulaeman mengatakan, berdamailah kamu di jalan agar tidak salah satu pun dari kamu yang dihukum.

“Jadi kalau ada orang yang datang ke kita, kita berusaha mendamaikan karena tidak ada keadilan di pengadilan,” ungkapnya.

Pada mulanya LBH Mawar Saron ‘menunggu bola!’ Menunggu orang datang membawa kasus dan minta bantuan hukum. Namun melihat perkembangan, LBH Mawar Saron kemudian kemudian membuat program, di antaranya penyuluhan ke rutan-rutan dan biasanya dari rutan ada saja yang meminta bantuan. Kadang-kadang juga dapat informasi dari wartawan.

Tiap harinya tidak kurang dari 20 orang datang mengadukan kasusnya dan tidak semua diajukan ke polisi. Untuk mendapatkan bantuan dari LBH ini ada beberapa syarat yang harus diikuti di antaranya mengisi formulir, ada surat keterangan tidak mampu dan sejumlah syarat lainnya.

Jumlah orang yang meminta bantuan ke Mawar Saron tiap tahunnya mengalami kenaikan. “Bukan cuma orang miskin yang datang tetapi datang juga orang kaya sebab kadang-kadang juga orang kaya teraniaya. Kalau sudah ada perlakuan tidak adil, pastilah kita juga merasa terusik dan sebisa mungkin kita tempuh jalan damai. Sebagai contoh di Batam. Ada orang mendirikan rumah kumuh di kolong jembatan lalu dipukuli. Kita bilang sama Otorita Batam, ‘Kamu jangan pukul orang ini. Itu salah.’ Tapi ke orang yang dipukuli juga kita bilang, ‘kamu jangan tidur di bawah jembatan karena itu membahayakan dirimu dan orang banyak dan itu melanggar Perda’ dan mereka mau dengar,” kisah Hotma.

Mawar Saron juga pernah menangani kasus sutet (saluran tegangan tinggi) di Bandung, yang tak kunjung selesai, selalu ribut dan tidak ada habisnya. Pangkal persoalannya adalah masyarakat meminta harga tanah setinggi-tinggnya bahkan melebihi NJOP. Pihak Mawar Saron lalu mendamaikan dan masyarakat senang hingga kampung itu diberi nama Mawar Saron.

Hotma menegaskan, tidak selamanya orang miskin itu benar. Banyak pula di antara mereka yang sebenarnya salah, melanggar hukum, berlebihan dan selalu membawa-bawa tameng sebagai orang susah, orang miskin dan lainnya yang teraniaya. “Kami selalu mendalami kasusnya atau persoalannya. Tidak serta-merta! Jadi mentang-mentang orang susah maka pasti benar, tidak juga. Kalau mereka salah, kita harus jelaskan mereka salah. Karena itulah Mawar Saron dapat diterima semua pihak,” ungkap Hotma dengan bangga.

Tampak depan kantor LBH Mawar Saron (Foto: dok LBH Mawar Saron)

SDM Mawar Saron

Advokat di LBH Mawar Saron merupakan lulusan-lulusan berkualitas dengan IPK di atas 3. Setiap beberapa tahun Mawar Saron mengadakan perekutan. Program lain Mawar Saron adalah menerima mahasiwa magang secara rutin. Jika bagus, para mahasiswa magang ini bekerja di LBH Mawar Saron.

Hotma selalu menyarankan agar para mahasiswa fakultas hukum yang bercita-cita menjadi lawyer belajar di LBH dahulu. LBH menurut Hotma merupakan tempat yang bagus untuk penggemblengan kader muda. “Mereka dilatih untuk macam-macam termasuk harus mampu balance. Kalau awal-awal sudah cari uang, ya bahaya kalau semuanya diukur dengan uang. Di sini anak-anak muda diajarkan ‘cari dulu kerajaan surga dan kebenaran!’ Lepas dari sini, pasti mereka sudah punya hati yang baik!” ungkap Hotma.

Selain di Jakarta, LBH Mawar Saron juga telah hadir di Semarang, Batam dan Solo. Total lawyer mencapai 50 orang. Tiap tahun dirolling, dari daerah ke Jakarta atau dari Jakarta dikirim ke daerah. SDM yang telah mengabdi di LBH Mawar Saron hingga 3-4 tahun dan berkualitas, akan dipindahkan ke kantor law firm Hotma Sitompoel.

Hotma mendidik para juniornya untuk selalu mengatakan “bisa!” dan hindarkan kata “Saya tidak bisa!” “Itulah didikan saya. Kata Napolion Bornapate ‘hanya orang gila yang bilang tidak bisa’ dan kalau saya minta lawyer urus kasus, dan dia bilang tidak bisa maka saya bilang, apakah sudah coba maksimal? Kalau ga bisa, saya yang urus nih. Saya sering ngetes anak muda,” ujarnya.

Hotma mengaku dirinya selalu berusaha menghindar konflik kepentingan, antara mengurus lawfirm dan mengurus LBH Mawar Saron. Ia lalu bercerita, pernah ada kasus tenaga kerja. Pengusahanya datang ke kantor law firm Hotma Sitompoel & partners, sedangkan tenaga kerja-nya datang ke kantor LBH Mawar Saron. Hotma akhirnya mendamaikan kedua belah pihak untuk berunding. “Kalau waktu itu perusahaannya tidak bersedia maka kami memutuskan untuk membela tenaga kerjanya,” beber Hotma.

Sebagaimana LBH pada umumnya, Mawar Saron juga tidak mencari keuntungan, “LBH Mawar Saron pernah mendapat klien seorang ibu yang datang membawa anaknya. Anaknya digebuk suaminya dan pada saat mau pulang, tidak ada ongkos. Anaknya juga selalu menangis minta susu, sementara si ibu tidak punya uang. LBH Mawar Saron akhirnya memberikan ongkos dan uang untuk membeli susu,” kisah Hotma.

Mawar Saron juga pernah mendapat kasus pekerja rumah tangga yang difitnah majikannya hingga diproses hukum. Pada waktu keluar dari tahanan, ia mengaku tidak memiliki tempat tinggal hingga akhirnya pihak Hotma memberikan tumpangan dengan mencarikan kontrakan untuk setahun.

“Tuhan itu sangat baik. Kita bangun pagi langsung ada makanan. Coba orang susah, ya harus cari dulu. Semestinya orang kaya, hatinya ada di orang miskin. Kalau sudah begitu mungkin tidak ada lagi orang susah,” pungkas Hotma sambil berharap.(nls)